SURABAYA (Lentera) - Tim Dosen Prodi Ilmu Administrasi Negara UNESA telah berkontribusi memberikan edukasi dan sharing session, tentang cara menghasilkan uang dari platform TikTok kepada anggota Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Hongkong sebagai wujud nyata pelaksanaan Program Pengabdian Kepada Masyarakat Internasional.
Kegiatan yang diadakan di Causeway Bay, Hongkong dengan tema “Pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia di Hongkong” itu, dihadiri oleh 13 tim Dosen Prodi Ilmu Administrasi Negara sebagai penyelenggara kegiatan sekaligus pemateri. Serta diikuti kurang lebih 30 orang Pekerja Migran Indonesia, yang tergabung di PCIA Hongkong sebagai peserta mengikuti program edukasi pemberdayaan ini.
Selain itu, Kepala PCIA Hongkong, Ebta Dwi Anggraini juga hadir, untuk memberikan sambutan dan menandatangani MoU sebagai tanda kerjasama antara Prodi Ilmu Administrasi Negara UNESA dengan PCIA Hongkong dalam penyelenggaraan kegiatan pembekalan ini.
Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga 12.00 WIB, dimulai dengan sambutan oleh Koordinator Program Studi S1 Ilmu Administrasi Negara UNESA, Eva Hany Fanida, S.AP., M.AP yang menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak mitra yakni PCIA Hongkong, karena telah menyepakati kerjasama untuk pelaksanaan kegiatan pembekalan ini.
"Program ini dirancang, untuk memberikan bekal keterampilan yang relevan dan bernilai ekonomi bagi pekerja imigran," tuturnya dalam keterangan, Kamis (30/7/2026).
Setelah itu, salah satu perwakilan dari tim dosen UNESA mulai memberikan penjelasan tentang bagaimana cara memanfaatkan TikTok, untuk menghasilkan uang tambahan sebagai bentuk pemberdayaan pekerja imigran.
Meliputi cara mendapatkan uang melalui fitur-fitur yang bisa digunakan, maupun program-program yang dapat diikuti di TikTok. Sebelum melakukan cara-cara tersebut, juga dijelaskan syarat-syarat untuk membuat akun TikTok Shop.
Penjelasan pemateri diharapkan, dapat memberikan inspirasi untuk para wanita pekerja imigran yang hadir dan bisa segera diterapkan, setelah kembali ke tempat tinggal masing-masing.
Acara dilanjut dengan sharing session tentang pengalaman pribadi para pekerja imigran di PCIA Hongkong, yang sudah memiliki usaha online. Orang pertama yang membagikan pengalaman, memiliki usaha aksesoris emas.
Diceritakannya, TikTok di Hongkong tidak ada fitur keranjang kuning, sehingga menggunakan TikTok hanya untuk promosi dan transaksinya dilakukan secara konvensional.
Bisnis tersebut juga memudahkan para PMI lainnya, untuk membeli perhiasan emas tanpa beli di toko perhiasan Hongkong.
“Untuk segmen pasar hanya teman-teman PMI. Kalau beli di toko kan kadang bisa masuk, tapi ga bisa keluar karena ada faktor (kendala) bahasa,” imbuhnya.
Ketua PCIA Hongkong, Ebta juga memiliki usaha online selama berada di Hongkong dengan metode promosi yaitu menggunakan teks, foto, dan live yang diunggah di akun Facebook Pro.
Diakuinya, menghasilkan uang dari kegiatan tersebut. Tidak hanya di Facebook, tapi juga mendapatkan penghasilan tambahannya dengan membuat dan mengunggah video Reels di Instagram.
“Video Reels barubaru ini karena biasanya saya malas dan ga begitu penting, cuma kok dapat duit, di dasbor kok ada dolarnya, begitu,” kata Ebta.
Sebelum acara ini berakhir, pihak Tim Dosen Ilmu Administrasi Negara UNESA dan PCIA Hongkong melakukan penandatanganan MoU, sebagai bukti kerjasama antara dua belah pihak secara tertulis.
Sesi ini diberikan kepada Koordinator Program Studi S1 Ilmu Administrasi Negara dan S2 Administrasi Publik UNESA serta Ketua PCIA Hongkong untuk memberikan tanda tangan di atas kertas MoU.
Editor: Ais/Rls




.jpg)
