23 July 2026

Get In Touch

Antisipasi Penularan Penyakit dari Hewan ke Manusia, Ini Langkah Pemkot Surabaya

Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonosis yang diselenggarakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya.
Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonosis yang diselenggarakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya.

SURABAYA (Lentera) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit zoonosis atau penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia, melalui penguatan sistem surveilans, edukasi masyarakat, komunikasi risiko, serta kolaborasi lintas sektor untuk mencegah potensi wabah sejak dini.

Langkah tersebut diwujudkan melalui Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonosis yang diselenggarakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, bersama Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan RI, Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas), dan Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (RCCE) pada 21–22 Juli 2026 di Puskesmas Medokan Ayu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Surabaya, dr. Atiek Tri Arini mengatakan kesiapsiagaan menjadi faktor utama, untuk mencegah penyakit zoonosis berkembang menjadi kejadian luar biasa (KLB).

“Karena itu, Dinkes Surabaya terus memperkuat sistem surveilans, meningkatkan koordinasi dengan sektor kesehatan hewan dan lingkungan, serta mengintensifkan edukasi kepada masyarakat agar memahami risiko dan langkah pencegahan sejak dini,” kata dr. Atiek, Rabu (22/7/2026).

Salah satu penyakit yang menjadi perhatian adalah leptospirosis, terutama saat musim hujan dan banjir. Penyakit yang disebabkan bakteri Leptospira ini dapat menular melalui air atau tanah yang terkontaminasi urine tikus.

Untuk mengantisipasi peningkatan kasus, Dinkes secara rutin menerbitkan surat edaran kepada seluruh UPT, kecamatan, dan kelurahan terkait kewaspadaan terhadap banjir dan penyakit penyertanya. Masyarakat juga diimbau membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti menggunakan alas kaki saat melewati genangan dan segera membersihkan diri setelah terkena air banjir.

“Kebiasaan ringan tapi dampaknya besar adalah cuci tangan. Sosialisasi ini terus kami lakukan mulai dari anak usia PAUD, pelajar, hingga akademisi. Dari satu perilaku kecil yang dilakukan secara konsisten, dampaknya sangat besar untuk mencegah penularan penyakit,” ujarnya.

Dr. Atiek menjelaskan, lingkungan yang kotor dan lembap menjadi tempat ideal bagi tikus berkembang biak. Apabila urine tikus mengenai kulit yang terluka, bakteri penyebab leptospirosis dapat masuk ke dalam tubuh.

“Tikus itu sukanya di tempat yang kotor dan lembap. Jika urine tikus mengenai kulit yang terluka atau kondisi kulit tidak utuh, bakteri leptospirosis bisa masuk ke dalam tubuh,” jelasnya.

Masyarakat juga diminta, mengenali gejala awal leptospirosis, seperti demam tinggi dan nyeri di seluruh tubuh tanpa disertai batuk maupun pilek. Jika kondisi memburuk hingga muncul gangguan buang air kecil, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Selain leptospirosis, Dinkes Surabaya turut meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR). Meskipun Surabaya bukan wilayah endemis rabies, warga diminta tetap waspada terhadap gigitan atau cakaran hewan seperti anjing, kucing, monyet, dan kelelawar.

“Edukasi yang berkelanjutan, deteksi dini, dan respons cepat menjadi kunci untuk mencegah potensi terjadinya kejadian luar biasa,” tuturnya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 70 persen penyakit menular baru yang berpotensi menjadi wabah berasal dari hewan. Karena itu, masyarakat diimbau menerapkan sejumlah langkah pencegahan, antara lain: rutin mencuci tangan menggunakan sabun, menggunakan alas kaki tertutup saat berada di area banjir.

Lalu menghindari kontak dengan hewan yang sakit atau mati mendadak, memastikan daging dan telur unggas dimasak hingga matang, dan egera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan setelah digigit hewan atau mengalami gejala tertentu.

Data Surveilans Kesehatan Daerah (SKDR) menunjukkan Surabaya tidak mencatat kasus suspek flu burung pada manusia maupun antraks dalam lima tahun terakhir, sejak 2021 hingga Minggu ke-27 tahun 2026.

Meski demikian, tren kasus leptospirosis dan gigitan hewan penular rabies masih berfluktuasi. Sepanjang 2025, tercatat 25 suspek leptospirosis dan 40 kasus GHPR. Sementara hingga Minggu ke-27 tahun 2026, terdapat 14 suspek leptospirosis dan 33 kasus GHPR.

“Masyarakat tidak perlu panik, karena Surabaya bukan merupakan wilayah endemis rabies,” ujar dr. Atiek.

Sementara itu, Perwakilan Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Surabaya, drh. Wafiroh menambahkan sebagian besar penyakit zoonosis dapat dicegah jika masyarakat memahami cara penularannya.

Menurutnya, vaksinasi rutin hewan peliharaan setiap tahun menjadi langkah penting untuk mencegah rabies. Selain itu, warga diminta tidak menyembelih atau mengonsumsi ternak yang sakit maupun mati mendadak karena berisiko menularkan antraks.

“Untuk mencegah penularan antraks, warga diimbau tidak menyembelih maupun mengonsumsi ternak yang sakit atau mati mendadak, serta segera melaporkan temuan tersebut kepada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian agar dapat ditangani sesuai prosedur,” jelasnya.

Sementara itu, Program Manager Portkesmas, dr. Basra Ahmad Amru menegaskan koordinasi lintas sektor menjadi fondasi penting dalam strategi nasional menghadapi ancaman penyakit zoonosis.

“Jangan sampai ketika wabah penyakit muncul, kita tidak siap. Koordinasi lintas sektor di tingkat daerah menjadi fondasi agar upaya pencegahan dan penanganan wabah dapat berjalan lebih cepat, terintegrasi, dan efektif,” tutupnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.