20 July 2026

Get In Touch

Ilmuwan Singapura-Jepang Ciptakan Kecoa Cyborg, Mampu Menyelam 3 Jam

Ilmuwan Singapura-Jepang Ciptakan Kecoa Cyborg, Mampu Menyelam 3 Jam

SURABAYA  ( LENTERA  - Di dunia robotika dan mitigasi bencana, selama dekade terakhir, para insinyur di berbagai belahan dunia berlomba-lomba menciptakan robot berukuran mikro (micro-robots) untuk menembus celah sempit reruntuhan gedung. Namun, proyek-proyek tersebut berulang kali membentur masalah sama yaitu keterbatasan daya baterai. 

Robot mikro buatan terbukti sangat boros energi, baterai berkapasitas besar membuat bobotnya terlalu berat, sementara baterai kecil membuatnya mati dalam hitungan menit.

Menghadapi jalan buntu tersebut, sekelompok ilmuwan lintas negara mengambil langkah tak biasa, alih-alih menciptakan mesin dari nol, mengapa tidak membajak mekanika tubuh yang sudah disediakan oleh alam.

Pilihan itu jatuh pada salah satu makhluk paling tangguh di bumi yaitu kecoa. Melalui sentuhan sibernetika, lahirlah apa yang disebut sebagai kecoa cyborg--serangga hidup yang dipasangi perangkat pengendali elektronik pada sistem sarafnya untuk mengarahkan pergerakan secara nirkabel dari jarak jauh.

Langkah ini bukan lagi sekadar eksperimen laboratorium yang eksentrik. Laporan dari berbagai media arus utama mencatat bahwa teknologi cyborg ini dipersiapkan untuk dikerahkan ke zona merah pascabencana untuk menjangkau labirin reruntuhan yang mustahil diakses oleh tim Search and Rescue (SAR) manusia maupun anjing pelacak. Di tengah ancaman bencana global. Misalnya seperti gempa tektonik dahsyat bermagnitudo 7,7 yang baru-baru ini melanda Venezuela. Kebutuhan akan armada penyelamat mikro yang adaptif dan tangguh di segala medan menjadi semakin mendesak.

Namun, misi penyelamatan pascabencana sering kali menyuguhkan skenario yang jauh lebih kompleks daripada sekadar tumpukan beton kering. Gempa bumi maupun cuaca ekstrem kerap diikuti oleh banjir bandang, kebocoran pipa bawah tanah, atau genangan air yang mengisolasi korban di ruang bawah tanah (basement). Di sinilah kelemahan awal kecoa cyborg muncul. Sebagai makhluk terestrial, mereka akan tenggelam dan mati jika terjebak di dalam air dalam durasi lama.

Terobosan Baju Selam 3 Jam

Mengatasi limitasi alamiah tersebut, sebuah studi mutakhir yang dipublikasikan pada 29 Juni 2026 di jurnal ilmiah bereputasi, Nature Communications, membawa kabar baik bagi dunia mitigasi bencana. Tim ilmuwan dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura dan Waseda University Jepang berhasil merancang sebuah "baju selam" khusus kedap air untuk kecoa cyborg. 

Pakaian pelindung berteknologi tinggi ini mendongkrak kemampuan serangga hingga mampu bertahan hidup, bernapas, dan tetap bergerak lincah di dalam air hingga durasi tiga jam penuh.

Objek eksperimen ini adalah kecoa desis Madagaskar (Gromphadorhina portentosa) cyborg. Spesies ini dipilih karena ukurannya yang besar, sehingga memiliki kapasitas fisik yang ideal untuk menggendong ransel elektronik (backpack) pengetik sinyal saraf sekaligus mengenakan cangkang baju selam tanpa membebani pergerakannya.

Dalam rangkaian uji coba terkontrol, para peneliti memasukkan kecoa-kecoa bermantel khusus ini ke dalam akuarium, lalu mengarahkan mereka untuk merayap masuk ke dalam pipa-pipa plastik sempit. Lingkungan buatan tersebut dirancang sedemikian rupa untuk menyimulasikan kondisi pascabencana yang ekstrem: terendam air sepenuhnya, gelap, dan minim pasokan oksigen bebas. 

Hasilnya mengagumkan, kecoa cyborg tersebut tetap responsif menerima perintah dari operator remote kontrol sembari menerobos hambatan air.

Secara teknis, merancang baju selam untuk serangga jauh lebih rumit daripada membuat pakaian selam manusia. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menciptakan sistem pendukung kehidupan (life support system) yang mandiri, namun memiliki bobot yang super ringan.

“Pendekatan kami menggabungkan cangkang pelindung tahan air yang lentur dengan generator oksigen kimiawi yang sederhana tapi andal,” ujar salah satu penulis studi, Shinjiro Umezu, profesor di School of Creative Science and Engineering, Waseda University, Jepang. 

“Teknologi ini membuat serangga tetap dapat bergerak lincah secara alami sekaligus terlindungi dari lingkungan ekstrem yang biasanya tidak bisa mereka lalui,” lanjutnya.

Anatomi baju selam mikro ini terdiri dari beberapa komponen krusial yang saling terintegrasi. Pertama, cangkang pelindung fleksibel. Alat ini membungkus tubuh kecoa dengan presisi tinggi agar air tidak merembes masuk, namun tetap lentur agar memberikan ruang bagi sendi-sendi kaki serangga untuk melangkah secara alami.

Kemudian tangki oksigen transparan & generator kimia. Alih-alih membawa tabung gas oksigen kompresi yang berat, ilmuwan memanfaatkan reaksi kimia sederhana namun genius. Di dalam tangki transparan hasil cetakan 3D tersebut, terdapat spons berdaya serap tinggi yang telah ditaburi bubuk mangan dioksida. Peneliti kemudian menyuntikkan sedikit hidrogen peroksida encer ke dalam spons, yang nantinya akan terurai secara perlahan saat bereaksi dengan mangan dioksida untuk menghasilkan gas oksigen murni secara konstan.

Selanjutnya selang silikon mikro. Gas oksigen yang diproduksi di tangki punggung kemudian dialirkan melalui empat selang silikon mikroskopis yang tersambung langsung ke lubang pernapasan utama serangga yang disebut spirakel.

Berbeda dengan manusia yang bernapas melalui hidung dan paru-paru, kecoa menghirup udara melalui jaringan spirakel yang tersebar di sepanjang sisi tubuhnya. Dalam desain ini, selang silikon menyalurkan oksigen secara langsung ke spirakel bagian dada (toraks), sementara spirakel bagian perut (abdomen) yang terletak lebih rendah menghirup sisa oksigen yang tertampung di dalam baju pelindung. Seluruh sistem ini kemudian disegel menggunakan perekat khusus sinar ultraviolet (UV) guna mencegah kebocoran air.

"Baju selam serangga baru ini bekerja layaknya tabung oksigen yang digunakan oleh penyelam manusia," jelas Hirotaka Sato, penulis utama studi sekaligus profesor di School of Mechanical and Aerospace Engineering, NTU Singapura. Laboratorium milik Sato di Singapura inilah yang menjadi pusat pengembangan kecoa cyborg tersebut. Ia menambahkan bahwa selang silikon tersebut dapat dipasang dan dilepas tanpa menimbulkan rasa sakit atau melukai jaringan serangga.

Mengapa Memilih Bio-Cyborg?

Terobosan yang dipimpin oleh Sato dan Umezu ini semakin memperkuat posisi bio-cyborg sebagai masa depan teknologi penyelamatan. Dari perspektif efisiensi energi, hewan hasil rekayasa sibernetik ini memiliki keunggulan mutlak yang tidak akan pernah bisa dikejar oleh robot murni buatan pabrik dalam waktu dekat.

Kecoa cyborg bergerak menggunakan otot alami mereka sendiri dengan memanfaatkan metabolisme dari makanan untuk menggerakkan kaki. Perangkat elektronik yang dipasang di punggung mereka hanya memakan daya baterai yang sangat kecil karena fungsinya terbatas untuk mengirimkan stimulasi listrik mikro guna mengarahkan pergerakan. 

Sebaliknya, robot mikro murni sangat bergantung pada baterai berdaya tinggi yang boros energi dan mudah kehabisan daya hanya untuk menggerakkan motor mekanisnya.
Selain itu, insting bertahan hidup alami yang dimiliki kecoa tetap berjalan secara mandiri. Jika mereka menemui jalan buntu atau ancaman fisik yang membahayakan nyawa, sistem sensorik alami mereka akan otomatis menghindar. Sebuah kemampuan navigasi adaptif tingkat tinggi yang sangat sulit ditiru oleh kecerdasan buatan (AI) pada robot mikro tanpa menambah bobot sensor yang berat.

Kendati demikian, para peneliti mengakui bahwa tantangan teknis utama dalam proyek ini adalah merancang sistem pendukung yang cukup kecil, ringan, dan fleksibel agar tetap nyaman dipakai oleh serangga, namun mampu memproduksi oksigen yang cukup untuk pergerakan bawah air dalam durasi lama.

Dengan keberhasilan baju selam tiga jam ini, para ilmuwan telah membuktikan bahwa batas antara biologi dan teknologi kini semakin kabur. Di masa depan, ketika bencana banjir atau gempa melanda, makhluk yang selama ini dianggap sebagai hama menjijikkan di sudut-sudut gelap perkotaan bisa jadi adalah penyelamat pertama yang merayap di bawah air, membawa kamera mikro dan harapan hidup bagi korban yang terjebak di kegelapan.(far,ist/dya)

Di dunia robotika dan mitigasi bencana, selama dekade terakhir, para insinyur di berbagai belahan dunia berlomba-lomba menciptakan robot berukuran mikro (micro-robots) untuk menembus celah sempit reruntuhan gedung. Namun, proyek-proyek tersebut berulang kali membentur masalah sama yaitu keterbatasan daya baterai. 

Robot mikro buatan terbukti sangat boros energi, baterai berkapasitas besar membuat bobotnya terlalu berat, sementara baterai kecil membuatnya mati dalam hitungan menit.

Menghadapi jalan buntu tersebut, sekelompok ilmuwan lintas negara mengambil langkah tak biasa, alih-alih menciptakan mesin dari nol, mengapa tidak membajak mekanika tubuh yang sudah disediakan oleh alam.

Pilihan itu jatuh pada salah satu makhluk paling tangguh di bumi yaitu kecoa. Melalui sentuhan sibernetika, lahirlah apa yang disebut sebagai kecoa cyborg--serangga hidup yang dipasangi perangkat pengendali elektronik pada sistem sarafnya untuk mengarahkan pergerakan secara nirkabel dari jarak jauh.

Langkah ini bukan lagi sekadar eksperimen laboratorium yang eksentrik. Laporan dari berbagai media arus utama mencatat bahwa teknologi cyborg ini dipersiapkan untuk dikerahkan ke zona merah pascabencana untuk menjangkau labirin reruntuhan yang mustahil diakses oleh tim Search and Rescue (SAR) manusia maupun anjing pelacak. Di tengah ancaman bencana global. Misalnya seperti gempa tektonik dahsyat bermagnitudo 7,7 yang baru-baru ini melanda Venezuela. Kebutuhan akan armada penyelamat mikro yang adaptif dan tangguh di segala medan menjadi semakin mendesak.

Namun, misi penyelamatan pascabencana sering kali menyuguhkan skenario yang jauh lebih kompleks daripada sekadar tumpukan beton kering. Gempa bumi maupun cuaca ekstrem kerap diikuti oleh banjir bandang, kebocoran pipa bawah tanah, atau genangan air yang mengisolasi korban di ruang bawah tanah (basement). Di sinilah kelemahan awal kecoa cyborg muncul. Sebagai makhluk terestrial, mereka akan tenggelam dan mati jika terjebak di dalam air dalam durasi lama.

Terobosan Baju Selam 3 Jam

Mengatasi limitasi alamiah tersebut, sebuah studi mutakhir yang dipublikasikan pada 29 Juni 2026 di jurnal ilmiah bereputasi, Nature Communications, membawa kabar baik bagi dunia mitigasi bencana. Tim ilmuwan dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura dan Waseda University Jepang berhasil merancang sebuah "baju selam" khusus kedap air untuk kecoa cyborg. 

Pakaian pelindung berteknologi tinggi ini mendongkrak kemampuan serangga hingga mampu bertahan hidup, bernapas, dan tetap bergerak lincah di dalam air hingga durasi tiga jam penuh.

Objek eksperimen ini adalah kecoa desis Madagaskar (Gromphadorhina portentosa) cyborg. Spesies ini dipilih karena ukurannya yang besar, sehingga memiliki kapasitas fisik yang ideal untuk menggendong ransel elektronik (backpack) pengetik sinyal saraf sekaligus mengenakan cangkang baju selam tanpa membebani pergerakannya.

Dalam rangkaian uji coba terkontrol, para peneliti memasukkan kecoa-kecoa bermantel khusus ini ke dalam akuarium, lalu mengarahkan mereka untuk merayap masuk ke dalam pipa-pipa plastik sempit. Lingkungan buatan tersebut dirancang sedemikian rupa untuk menyimulasikan kondisi pascabencana yang ekstrem: terendam air sepenuhnya, gelap, dan minim pasokan oksigen bebas. 

Hasilnya mengagumkan, kecoa cyborg tersebut tetap responsif menerima perintah dari operator remote kontrol sembari menerobos hambatan air.

Secara teknis, merancang baju selam untuk serangga jauh lebih rumit daripada membuat pakaian selam manusia. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menciptakan sistem pendukung kehidupan (life support system) yang mandiri, namun memiliki bobot yang super ringan.

“Pendekatan kami menggabungkan cangkang pelindung tahan air yang lentur dengan generator oksigen kimiawi yang sederhana tapi andal,” ujar salah satu penulis studi, Shinjiro Umezu, profesor di School of Creative Science and Engineering, Waseda University, Jepang. 

“Teknologi ini membuat serangga tetap dapat bergerak lincah secara alami sekaligus terlindungi dari lingkungan ekstrem yang biasanya tidak bisa mereka lalui,” lanjutnya.

Anatomi baju selam mikro ini terdiri dari beberapa komponen krusial yang saling terintegrasi. Pertama, cangkang pelindung fleksibel. Alat ini membungkus tubuh kecoa dengan presisi tinggi agar air tidak merembes masuk, namun tetap lentur agar memberikan ruang bagi sendi-sendi kaki serangga untuk melangkah secara alami.

Kemudian tangki oksigen transparan & generator kimia. Alih-alih membawa tabung gas oksigen kompresi yang berat, ilmuwan memanfaatkan reaksi kimia sederhana namun genius. Di dalam tangki transparan hasil cetakan 3D tersebut, terdapat spons berdaya serap tinggi yang telah ditaburi bubuk mangan dioksida. Peneliti kemudian menyuntikkan sedikit hidrogen peroksida encer ke dalam spons, yang nantinya akan terurai secara perlahan saat bereaksi dengan mangan dioksida untuk menghasilkan gas oksigen murni secara konstan.

Selanjutnya selang silikon mikro. Gas oksigen yang diproduksi di tangki punggung kemudian dialirkan melalui empat selang silikon mikroskopis yang tersambung langsung ke lubang pernapasan utama serangga yang disebut spirakel.

Berbeda dengan manusia yang bernapas melalui hidung dan paru-paru, kecoa menghirup udara melalui jaringan spirakel yang tersebar di sepanjang sisi tubuhnya. Dalam desain ini, selang silikon menyalurkan oksigen secara langsung ke spirakel bagian dada (toraks), sementara spirakel bagian perut (abdomen) yang terletak lebih rendah menghirup sisa oksigen yang tertampung di dalam baju pelindung. Seluruh sistem ini kemudian disegel menggunakan perekat khusus sinar ultraviolet (UV) guna mencegah kebocoran air.

"Baju selam serangga baru ini bekerja layaknya tabung oksigen yang digunakan oleh penyelam manusia," jelas Hirotaka Sato, penulis utama studi sekaligus profesor di School of Mechanical and Aerospace Engineering, NTU Singapura. Laboratorium milik Sato di Singapura inilah yang menjadi pusat pengembangan kecoa cyborg tersebut. Ia menambahkan bahwa selang silikon tersebut dapat dipasang dan dilepas tanpa menimbulkan rasa sakit atau melukai jaringan serangga.

Mengapa Memilih Bio-Cyborg?

Terobosan yang dipimpin oleh Sato dan Umezu ini semakin memperkuat posisi bio-cyborg sebagai masa depan teknologi penyelamatan. Dari perspektif efisiensi energi, hewan hasil rekayasa sibernetik ini memiliki keunggulan mutlak yang tidak akan pernah bisa dikejar oleh robot murni buatan pabrik dalam waktu dekat.

Kecoa cyborg bergerak menggunakan otot alami mereka sendiri dengan memanfaatkan metabolisme dari makanan untuk menggerakkan kaki. Perangkat elektronik yang dipasang di punggung mereka hanya memakan daya baterai yang sangat kecil karena fungsinya terbatas untuk mengirimkan stimulasi listrik mikro guna mengarahkan pergerakan. 

Sebaliknya, robot mikro murni sangat bergantung pada baterai berdaya tinggi yang boros energi dan mudah kehabisan daya hanya untuk menggerakkan motor mekanisnya.
Selain itu, insting bertahan hidup alami yang dimiliki kecoa tetap berjalan secara mandiri. Jika mereka menemui jalan buntu atau ancaman fisik yang membahayakan nyawa, sistem sensorik alami mereka akan otomatis menghindar. Sebuah kemampuan navigasi adaptif tingkat tinggi yang sangat sulit ditiru oleh kecerdasan buatan (AI) pada robot mikro tanpa menambah bobot sensor yang berat.

Kendati demikian, para peneliti mengakui bahwa tantangan teknis utama dalam proyek ini adalah merancang sistem pendukung yang cukup kecil, ringan, dan fleksibel agar tetap nyaman dipakai oleh serangga, namun mampu memproduksi oksigen yang cukup untuk pergerakan bawah air dalam durasi lama.

Dengan keberhasilan baju selam tiga jam ini, para ilmuwan telah membuktikan bahwa batas antara biologi dan teknologi kini semakin kabur. Di masa depan, ketika bencana banjir atau gempa melanda, makhluk yang selama ini dianggap sebagai hama menjijikkan di sudut-sudut gelap perkotaan bisa jadi adalah penyelamat pertama yang merayap di bawah air, membawa kamera mikro dan harapan hidup bagi korban yang terjebak di kegelapan.(far,ist/dya)

Di dunia robotika dan mitigasi bencana, selama dekade terakhir, para insinyur di berbagai belahan dunia berlomba-lomba menciptakan robot berukuran mikro (micro-robots) untuk menembus celah sempit reruntuhan gedung. Namun, proyek-proyek tersebut berulang kali membentur masalah sama yaitu keterbatasan daya baterai. 

Robot mikro buatan terbukti sangat boros energi, baterai berkapasitas besar membuat bobotnya terlalu berat, sementara baterai kecil membuatnya mati dalam hitungan menit.

Menghadapi jalan buntu tersebut, sekelompok ilmuwan lintas negara mengambil langkah tak biasa, alih-alih menciptakan mesin dari nol, mengapa tidak membajak mekanika tubuh yang sudah disediakan oleh alam.

Pilihan itu jatuh pada salah satu makhluk paling tangguh di bumi yaitu kecoa. Melalui sentuhan sibernetika, lahirlah apa yang disebut sebagai kecoa cyborg--serangga hidup yang dipasangi perangkat pengendali elektronik pada sistem sarafnya untuk mengarahkan pergerakan secara nirkabel dari jarak jauh.

Langkah ini bukan lagi sekadar eksperimen laboratorium yang eksentrik. Laporan dari berbagai media arus utama mencatat bahwa teknologi cyborg ini dipersiapkan untuk dikerahkan ke zona merah pascabencana untuk menjangkau labirin reruntuhan yang mustahil diakses oleh tim Search and Rescue (SAR) manusia maupun anjing pelacak. Di tengah ancaman bencana global. Misalnya seperti gempa tektonik dahsyat bermagnitudo 7,7 yang baru-baru ini melanda Venezuela. Kebutuhan akan armada penyelamat mikro yang adaptif dan tangguh di segala medan menjadi semakin mendesak.

Namun, misi penyelamatan pascabencana sering kali menyuguhkan skenario yang jauh lebih kompleks daripada sekadar tumpukan beton kering. Gempa bumi maupun cuaca ekstrem kerap diikuti oleh banjir bandang, kebocoran pipa bawah tanah, atau genangan air yang mengisolasi korban di ruang bawah tanah (basement). Di sinilah kelemahan awal kecoa cyborg muncul. Sebagai makhluk terestrial, mereka akan tenggelam dan mati jika terjebak di dalam air dalam durasi lama.

Terobosan Baju Selam 3 Jam

Mengatasi limitasi alamiah tersebut, sebuah studi mutakhir yang dipublikasikan pada 29 Juni 2026 di jurnal ilmiah bereputasi, Nature Communications, membawa kabar baik bagi dunia mitigasi bencana. Tim ilmuwan dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura dan Waseda University Jepang berhasil merancang sebuah "baju selam" khusus kedap air untuk kecoa cyborg. 

Pakaian pelindung berteknologi tinggi ini mendongkrak kemampuan serangga hingga mampu bertahan hidup, bernapas, dan tetap bergerak lincah di dalam air hingga durasi tiga jam penuh.

Objek eksperimen ini adalah kecoa desis Madagaskar (Gromphadorhina portentosa) cyborg. Spesies ini dipilih karena ukurannya yang besar, sehingga memiliki kapasitas fisik yang ideal untuk menggendong ransel elektronik (backpack) pengetik sinyal saraf sekaligus mengenakan cangkang baju selam tanpa membebani pergerakannya.

Dalam rangkaian uji coba terkontrol, para peneliti memasukkan kecoa-kecoa bermantel khusus ini ke dalam akuarium, lalu mengarahkan mereka untuk merayap masuk ke dalam pipa-pipa plastik sempit. Lingkungan buatan tersebut dirancang sedemikian rupa untuk menyimulasikan kondisi pascabencana yang ekstrem: terendam air sepenuhnya, gelap, dan minim pasokan oksigen bebas. 

Hasilnya mengagumkan, kecoa cyborg tersebut tetap responsif menerima perintah dari operator remote kontrol sembari menerobos hambatan air.

Secara teknis, merancang baju selam untuk serangga jauh lebih rumit daripada membuat pakaian selam manusia. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menciptakan sistem pendukung kehidupan (life support system) yang mandiri, namun memiliki bobot yang super ringan.

“Pendekatan kami menggabungkan cangkang pelindung tahan air yang lentur dengan generator oksigen kimiawi yang sederhana tapi andal,” ujar salah satu penulis studi, Shinjiro Umezu, profesor di School of Creative Science and Engineering, Waseda University, Jepang. 

“Teknologi ini membuat serangga tetap dapat bergerak lincah secara alami sekaligus terlindungi dari lingkungan ekstrem yang biasanya tidak bisa mereka lalui,” lanjutnya.

Anatomi baju selam mikro ini terdiri dari beberapa komponen krusial yang saling terintegrasi. Pertama, cangkang pelindung fleksibel. Alat ini membungkus tubuh kecoa dengan presisi tinggi agar air tidak merembes masuk, namun tetap lentur agar memberikan ruang bagi sendi-sendi kaki serangga untuk melangkah secara alami.

Kemudian tangki oksigen transparan & generator kimia. Alih-alih membawa tabung gas oksigen kompresi yang berat, ilmuwan memanfaatkan reaksi kimia sederhana namun genius. Di dalam tangki transparan hasil cetakan 3D tersebut, terdapat spons berdaya serap tinggi yang telah ditaburi bubuk mangan dioksida. Peneliti kemudian menyuntikkan sedikit hidrogen peroksida encer ke dalam spons, yang nantinya akan terurai secara perlahan saat bereaksi dengan mangan dioksida untuk menghasilkan gas oksigen murni secara konstan.

Selanjutnya selang silikon mikro. Gas oksigen yang diproduksi di tangki punggung kemudian dialirkan melalui empat selang silikon mikroskopis yang tersambung langsung ke lubang pernapasan utama serangga yang disebut spirakel.

Berbeda dengan manusia yang bernapas melalui hidung dan paru-paru, kecoa menghirup udara melalui jaringan spirakel yang tersebar di sepanjang sisi tubuhnya. Dalam desain ini, selang silikon menyalurkan oksigen secara langsung ke spirakel bagian dada (toraks), sementara spirakel bagian perut (abdomen) yang terletak lebih rendah menghirup sisa oksigen yang tertampung di dalam baju pelindung. Seluruh sistem ini kemudian disegel menggunakan perekat khusus sinar ultraviolet (UV) guna mencegah kebocoran air.

"Baju selam serangga baru ini bekerja layaknya tabung oksigen yang digunakan oleh penyelam manusia," jelas Hirotaka Sato, penulis utama studi sekaligus profesor di School of Mechanical and Aerospace Engineering, NTU Singapura. Laboratorium milik Sato di Singapura inilah yang menjadi pusat pengembangan kecoa cyborg tersebut. Ia menambahkan bahwa selang silikon tersebut dapat dipasang dan dilepas tanpa menimbulkan rasa sakit atau melukai jaringan serangga.

Mengapa Memilih Bio-Cyborg?

Terobosan yang dipimpin oleh Sato dan Umezu ini semakin memperkuat posisi bio-cyborg sebagai masa depan teknologi penyelamatan. Dari perspektif efisiensi energi, hewan hasil rekayasa sibernetik ini memiliki keunggulan mutlak yang tidak akan pernah bisa dikejar oleh robot murni buatan pabrik dalam waktu dekat.

Kecoa cyborg bergerak menggunakan otot alami mereka sendiri dengan memanfaatkan metabolisme dari makanan untuk menggerakkan kaki. Perangkat elektronik yang dipasang di punggung mereka hanya memakan daya baterai yang sangat kecil karena fungsinya terbatas untuk mengirimkan stimulasi listrik mikro guna mengarahkan pergerakan. 

Sebaliknya, robot mikro murni sangat bergantung pada baterai berdaya tinggi yang boros energi dan mudah kehabisan daya hanya untuk menggerakkan motor mekanisnya.
Selain itu, insting bertahan hidup alami yang dimiliki kecoa tetap berjalan secara mandiri. Jika mereka menemui jalan buntu atau ancaman fisik yang membahayakan nyawa, sistem sensorik alami mereka akan otomatis menghindar. Sebuah kemampuan navigasi adaptif tingkat tinggi yang sangat sulit ditiru oleh kecerdasan buatan (AI) pada robot mikro tanpa menambah bobot sensor yang berat.

Kendati demikian, para peneliti mengakui bahwa tantangan teknis utama dalam proyek ini adalah merancang sistem pendukung yang cukup kecil, ringan, dan fleksibel agar tetap nyaman dipakai oleh serangga, namun mampu memproduksi oksigen yang cukup untuk pergerakan bawah air dalam durasi lama.

Dengan keberhasilan baju selam tiga jam ini, para ilmuwan telah membuktikan bahwa batas antara biologi dan teknologi kini semakin kabur. Di masa depan, ketika bencana banjir atau gempa melanda, makhluk yang selama ini dianggap sebagai hama menjijikkan di sudut-sudut gelap perkotaan bisa jadi adalah penyelamat pertama yang merayap di bawah air, membawa kamera mikro dan harapan hidup bagi korban yang terjebak di kegelapan.(far,ist/dya)

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.