21 July 2026

Get In Touch

Tembok Hijau Afrika: Mimpi Menghentikan Sahara

Tembok Hijau Afrika: Mimpi Menghentikan Sahara

SURABAYA ( LENTERA ) - Setiap tahun, hamparan kering di Afrika bergerak sedikit demi sedikit ke arah selatan. Bukan karena gurun berpindah tempat, melainkan karena lahan-lahan subur di kawasan Sahel perlahan kehilangan daya hidupnya.

Pohon menghilang, tanah mengeras, hujan semakin sulit diprediksi, dan hasil panen terus menurun. Di wilayah yang membentang dari Senegal hingga Sudan itu, perubahan iklim bukan lagi sekadar istilah ilmiah. Ia hadir sebagai musim tanam yang gagal, sumur yang mengering, dan penghasilan yang terus menyusut.

Di tengah situasi tersebut, negara-negara Afrika memilih melawan dengan cara yang tidak biasa. Mereka membangun "tembok" sepanjang hampir 8.000 kilometer. Bukan dari batu, melainkan dari bentang alam yang dipulihkan. Mulai dari hutan, padang rumput, lahan pertanian, rawa, dan vegetasi asli. Inilah Great Green Wall atau Tembok Hijau Besar, proyek restorasi ekologi terbesar yang pernah digagas di benua Afrika.

Inisiatif itu diluncurkan African Union pada 2007. Jalurnya membentang dari Senegal di pesisir Samudra Atlantik hingga Djibouti di tepi Laut Merah. Kawasan yang dilalui adalah Sahel, sabuk semi-kering yang menjadi batas alami antara Gurun Sahara dan wilayah tropis Afrika.

Selama puluhan tahun, kawasan ini menghadapi kombinasi kekeringan berkepanjangan, penggundulan hutan, pertumbuhan penduduk, serta eksploitasi lahan yang membuat tanah kehilangan kesuburannya.

Pada awalnya, Great Green Wall dibayangkan sebagai barisan pepohonan yang memanjang melintasi Afrika. Namun konsep itu segera dianggap terlalu sederhana untuk menjawab persoalan yang jauh lebih kompleks. Para peneliti menemukan bahwa tidak semua wilayah membutuhkan penanaman pohon.

Sebagian kawasan justru lebih membutuhkan pemulihan tanah, pengelolaan air, perlindungan vegetasi yang masih tersisa, atau regenerasi alami hutan. Sejak saat itu, proyek bergeser dari sekadar penghijauan menjadi restorasi bentang alam secara menyeluruh.

Pendekatan baru tersebut menempatkan masyarakat sebagai aktor utama. Petani didorong memanfaatkan kembali spesies pohon lokal yang tahan kekeringan, mengembangkan sistem agroforestri, membangun penampungan air hujan, hingga menghidupkan kembali padang penggembalaan. Tujuannya bukan hanya menghentikan penggurunan, tetapi juga memastikan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi sehingga kawasan yang dipulihkan tetap terjaga.

Target proyek ini sangat ambisius. Pada 2030, Great Green Wall ditargetkan mampu memulihkan 100 juta hektare lahan yang terdegradasi, menyerap sekitar 250 juta ton karbon dioksida, dan menciptakan 10 juta lapangan kerja hijau. Angka-angka tersebut menjadikan Great Green Wall sebagai salah satu proyek solusi berbasis alam terbesar dalam agenda mitigasi perubahan iklim dunia.

Namun perjalanan menuju target itu tidak mudah. Hingga kini, kemajuannya masih jauh dari harapan. Reuters, mengutip Presiden Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Penanggulangan Penggurunan (UNCCD), Alain Richard Donwahi, melaporkan bahwa proyek tersebut baru mencapai sekitar 30 persen dari target yang direncanakan. Sekitar 30 juta hektare lahan telah berhasil dipulihkan dan sekitar tiga juta lapangan kerja telah tercipta, tetapi laju tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi target 2030.

Persoalan terbesar bukan terletak pada kemampuan menanam pohon, melainkan pendanaan dan tata kelola. Pada Konferensi One Planet Summit 2021, komunitas internasional menjanjikan dukungan sekitar US$19 miliar bagi Great Green Wall. Namun menurut Reuters, dana yang benar-benar mengalir hingga pertengahan 2024 baru sekitar US$2,5 miliar. UNCCD memperkirakan proyek ini masih membutuhkan sedikitnya US$33 miliar tambahan agar target restorasi dapat tercapai.

Selain masalah pembiayaan, situasi keamanan di sejumlah negara Sahel ikut memperlambat pelaksanaan proyek. Kudeta politik, konflik bersenjata, hingga aktivitas kelompok ekstremis di Mali, Burkina Faso, Niger, dan Chad membuat sebagian wilayah sulit dijangkau. Kondisi tersebut memperumit koordinasi antarnegara yang menjadi salah satu kelemahan utama proyek lintas batas ini.

Meski demikian, sejumlah negara menunjukkan bahwa restorasi tetap mungkin dilakukan. Ethiopia menjadi salah satu negara dengan capaian terbesar melalui rehabilitasi jutaan hektare lahan yang memperbaiki daerah tangkapan air sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian.

Di Niger, petani mengembangkan metode Farmer Managed Natural Regeneration, yaitu membiarkan tunas pohon yang masih hidup tumbuh kembali secara alami. Pendekatan sederhana itu terbukti lebih murah sekaligus memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi dibanding penanaman bibit secara masif.

Senegal juga berhasil menanam lebih dari 11 juta pohon dan memulihkan puluhan ribu hektare lahan yang sebelumnya kritis.

Keberhasilan tersebut memperlihatkan bahwa restorasi ekosistem tidak selalu identik dengan penanaman pohon dalam jumlah besar. Yang lebih penting adalah mengembalikan fungsi ekologis suatu kawasan. Ketika tanah kembali mampu menyimpan air, vegetasi lokal tumbuh, dan petani memperoleh hasil panen yang lebih baik, proses pemulihan berlangsung dengan sendirinya. Pohon menjadi bagian dari solusi, tetapi bukan satu-satunya jawaban.

Laporan evaluasi independen UNCCD juga menunjukkan keberhasilan proyek sangat bervariasi di setiap negara. Ada negara yang berhasil memulihkan jutaan hektare lahan, sementara negara lain baru mencapai ratusan hektare. Perbedaan tersebut dipengaruhi kapasitas kelembagaan, akses pendanaan, kondisi keamanan, hingga kemampuan pemerintah mengelola proyek restorasi secara berkelanjutan.

Di tengah berbagai tantangan itu, Great Green Wall tetap dipandang sebagai laboratorium terbesar bagi solusi berbasis alam dalam menghadapi krisis iklim. Ketika banyak negara berinvestasi pada teknologi penangkap karbon atau infrastruktur adaptasi yang mahal, Afrika menawarkan pendekatan berbeda: memulihkan ekosistem agar kembali menjalankan fungsi alaminya.

Mungkin proyek ini tidak akan benar-benar membentuk "tembok" hijau yang utuh seperti bayangan awal dua dekade lalu. Namun perubahan konsep justru membuatnya lebih realistis. Great Green Wall kini bukan sekadar proyek menanam pohon, melainkan upaya menghidupkan kembali bentang alam yang menopang kehidupan lebih dari 230 juta penduduk Sahel.

Di kawasan yang selama puluhan tahun identik dengan kekeringan, keberhasilan tidak lagi diukur dari berapa banyak bibit yang ditanam. Ukurannya adalah berapa banyak lahan yang kembali produktif, berapa banyak keluarga yang dapat bertahan hidup dari tanahnya sendiri, dan sejauh mana alam mampu pulih sebelum krisis iklim bergerak lebih cepat daripada upaya manusia menghentikannya.(ist/dya)

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.