Tanggul Lumpur Lapindo Sidoarjo Rembes, Pemprov Jatim Pantau dan Koordinasi dengan Pusat
SURABAYA (Lentera) – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) terus memantau kondisi tanggul lumpur Lapindo di Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, yang mengalami rembesan air dan lumpur pada Jumat (10/7/2026).
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengatakan penanganan kawasan lumpur Lapindo berada di bawah kewenangan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), Kementerian Pekerjaan Umum (PU), dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
"Karena itu fenomena geologi, kami terus menyiagakan diri apabila ada langkah-langkah yang harus diambil terkait kondisi di sana," kata Emil kepada mengutip Kompas.com, Senin (13/7/2026).
Emil mengatakan, Pemprov Jatim terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan setiap perkembangan di lapangan, mendapat perhatian dan ditindaklanjuti berdasarkan kajian ilmiah.
"Semua fakta di lapangan tidak diabaikan. Penanganannya harus berdasarkan data dan kajian ilmiah, bukan sekadar asumsi," ujarnya.
Menurut Emil, hasil kajian ilmiah, termasuk temuan retakan tanah, rembesan lumpur, maupun laporan masyarakat akan menjadi dasar bagi instansi terkait untuk menentukan langkah penanganan.
"Kita tunggu hasil kajian ilmiahnya, apakah kekhawatiran ini memang perlu ditindaklanjuti dengan langkah-langkah tertentu," katanya.
Ia menegaskan, Pemprov Jatim bukan pengambil keputusan utama dalam penanganan lumpur Lapindo. Sejak semburan lumpur terjadi pada 2006, penanganannya melibatkan berbagai instansi pemerintah karena persoalan tersebut bersifat kompleks.
"Tugas Pemprov memastikan hal-hal yang berkaitan dengan sosial kemasyarakatan dan teknis kepemerintahan daerah berjalan dengan optimal," ujar Emil.
Sebelumnya diberitakan, tanggul penahan lumpur Lapindo di titik 10 D, Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, rembes pada Jumat (10/7/2026) sekitar pukul 05.15 WIB.
Rembesan air dan lumpur muncul di sisi tanggul yang berdekatan dengan Jalan Raya Porong dan jalur rel kereta api, sehingga memicu kekhawatiran warga.
Warga di sekitar lokasi, Sastro mengatakan rembesan diduga muncul, karena tanggul tidak lagi mampu menahan tekanan material lumpur di kolam penampungan.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan kejadian pertama dalam beberapa tahun terakhir.
"Tanggulnya bocor, merembes. Pagi tadi jam 05.15 WIB. Ini pertama kalinya merembes selama beberapa tahun ini. Mungkin tanggulnya kurang kuat karena tanggul cuma pakai lumpur aja," kata Sastro, Jumat (10/7/2026).
Sastro menjelaskan, permukaan lumpur di dalam kolam penampungan saat ini sudah mendekati bibir tanggul. Berdasarkan pengamatannya, jarak permukaan lumpur dengan bibir tanggul tinggal sekitar 25 sentimeter.
"Tinggi lumpurnya sekarang tinggal 25 cm dari bibir tanggul," ujarnya.
Menurut Sastro, peningkatan volume lumpur di kolam tidak sebanding dengan proses pengaliran material ke Sungai Porong. Petugas saat ini hanya mengoperasikan satu jalur pembuangan lumpur.
"Ada pembuangan lumpur ke Sungai Porong, tapi kalau saat ini cuma satu saja yang keluar, satu titik pembuangan lumpur saja yang sedang jalan," katanya.
Di lokasi, panjang titik rembesan diperkirakan mencapai hampir dua meter. Meski belum meluas, posisi tanggul yang berbatasan langsung dengan Jalan Raya Porong dan jalur rel kereta api membuat warga khawatir apabila kondisi tanggul memburuk.
"Tadi kurang lebih yang rembes hampir dua meter. Kalau dibilang khawatir ya khawatir, kalau tiba-tiba jebol, kami juga nanti jadi korbannya," tutur Sastro.
Hingga Jumat siang, Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) melakukan penguatan pada titik rembesan dengan menambahkan material lumpur di badan tanggul. Langkah tersebut dilakukan, untuk mencegah rembesan meluas sambil memantau perkembangan kondisi tanggul.
Sementara itu, Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) memastikan rembesan air dan lumpur di tanggul titik 10D terjadi akibat penurunan permukaan tanah di kawasan terdampak, bukan karena kegagalan struktur tanggul.
"Memang ada di beberapa titik tanggul terjadi pelemahan, tetapi bukan karena tanggul tidak kuat. Kondisi itu dipengaruhi penurunan permukaan tanah yang terus berlangsung di kawasan ini," kata Petugas Pelaksana Lapangan PPLS Fahmi Zamroni, Jumat (10/7/2026).
Menurut Fahmi, penurunan tanah yang masih terjadi membuat beberapa bagian tanggul mengalami pelemahan, sehingga diperlukan penyesuaian dalam penanganan infrastruktur.
Editor: Arief Sukaputra




.jpg)
