08 July 2026

Get In Touch

Pemkot Surabaya Merelokasi Bengkel Jalan Nias ke Menur dengan Fasilitas Gratis

Relokasi pindahan bengkel dari Jalan Nias ke Menur.
Relokasi pindahan bengkel dari Jalan Nias ke Menur.

SURABAYA (Lentera) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menata kawasan Jalan Nias dengan merelokasi puluhan pelaku usaha bengkel ke lokasi baru di Jalan Menur Nomor 111, Kelurahan Manyar Sabrangan, Kecamatan Mulyorejo. 

Langkah ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi jalan sekaligus memastikan para pelaku usaha tetap dapat mencari nafkah di tempat yang lebih aman dan representatif.

Penataan dilakukan setelah Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meninjau langsung kondisi Jalan Nias pada akhir Juni 2026. Saat itu, ia menerima berbagai keluhan masyarakat terkait kemacetan akibat aktivitas bengkel yang menggunakan bahu jalan, serta kondisi lingkungan yang dinilai kurang tertata.

Meski demikian, Eri menegaskan penataan kawasan tidak dilakukan dengan menggusur para pelaku usaha. Sebaliknya, Pemkot menyediakan lokasi relokasi agar aktivitas ekonomi warga tetap berjalan.

Selain memindahkan aktivitas bengkel ke kawasan khusus, Pemkot juga melakukan pembenahan di Jalan Nias dengan memasang lampu penerangan jalan, memangkas ranting pohon, serta membersihkan saluran drainase. 

Penataan tersebut diharapkan menciptakan lingkungan yang lebih aman, bersih, dan nyaman bagi pengguna jalan maupun warga sekitar.

Koordinator Bengkel Jalan Nias, Jekti Purwantoro atau Cak Lewan, mengaku sempat terkejut saat Wali Kota Eri datang meninjau lokasi. Namun setelah diajak melihat tempat relokasi, ia menilai lokasi baru jauh lebih layak untuk kegiatan perbengkelan.

"Saya dan teman-teman diajak melihat langsung lokasi di Menur. Setelah melihat kondisinya, kami menilai tempat ini sudah layak dan sesuai untuk mendukung aktivitas perbengkelan. Kami bersyukur difasilitasi lokasi yang lebih aman dan nyaman untuk bekerja. Terima kasih kepada Pemerintah Kota Surabaya, khususnya Bapak Wali Kota Eri Cahyadi," ujar Cak Lewan dikutip Selasa (7/7/2026).

Menurutnya, lokasi baru memberikan rasa aman yang selama ini sulit diperoleh ketika masih bekerja di pinggir Jalan Nias. Sebab, aktivitas pengelasan, pendempulan, hingga pengecatan mobil sebelumnya dilakukan di bahu jalan yang berisiko membahayakan pekerja maupun pengguna jalan.

"Dulu kami bekerja di pinggir jalan sehingga selalu waspada karena kendaraan melintas sangat dekat. Sekarang kami memiliki tempat yang lebih aman dan nyaman untuk bekerja tanpa mengganggu lalu lintas," katanya.

Pria yang telah berusaha di kawasan Jalan Nias sejak 1985 itu mengatakan sentra bengkel tersebut sudah dikenal masyarakat sejak akhir 1970-an. Pelanggannya datang dari berbagai daerah, mulai Surabaya, Madura, Kediri hingga Malang.

Saat ini sekitar 20 pekerja telah menempati lokasi baru dan tetap melayani jasa pengelasan, pendempulan, serta pengecatan mobil. Dalam sehari, seluruh bengkel mampu menangani sekitar enam hingga tujuh kendaraan.

Cak Lewan juga mengapresiasi komitmen Pemkot yang memfasilitasi proses relokasi tanpa membebani pelaku usaha.

"Kami juga tidak mengeluarkan biaya sedikit pun. Sesuai janji Bapak Wali Kota, kami tinggal menempati lokasi yang sudah disiapkan. Bahkan jika masih ada fasilitas yang perlu dilengkapi, Pemkot akan membantu menyediakannya, seperti penambahan atap agar tempat kerja lebih nyaman," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Manyar Sabrangan, Basuki Nugroho, menilai kebijakan tersebut menjadi solusi yang mengakomodasi kepentingan penataan kota sekaligus menjaga keberlangsungan usaha masyarakat.

Menurut Basuki, sebelumnya aktivitas bengkel dilakukan di tepi jalan sehingga membahayakan pekerja dan mengganggu arus lalu lintas. Kini seluruh kegiatan dipusatkan di area khusus yang lebih aman.

"Di lokasi sebelumnya aktivitas bengkel dilakukan di tepi jalan sehingga cukup berisiko. Sekarang seluruh aktivitas sudah berada di dalam area khusus sehingga lebih aman dan lalu lintas juga menjadi lebih lancar," ujarnya.

Ia menambahkan, relokasi tersebut juga mencerminkan semangat Kampung Pancasila yang mengedepankan gotong royong dan kolaborasi antarmasyarakat.

"Kami mendukung penuh kebijakan ini. Semangat Kampung Pancasila mengajarkan bahwa kita semua adalah warga Surabaya yang harus saling mendukung, saling menerima, dan bersama-sama membangun lingkungan yang lebih baik," tambahnya.

Basuki berharap para pelaku usaha menjaga kebersihan, keamanan, dan ketertiban lingkungan serta membuka peluang kerja bagi warga sekitar yang memiliki keterampilan di bidang perbengkelan.

Dukungan senada disampaikan Ketua RT 06 RW 01 Manyar Sabrangan, Sunardi. Menurutnya, relokasi ini menjadi contoh kolaborasi yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat tanpa mengorbankan kepentingan lingkungan.

"Kami mendukung sepenuhnya keberadaan teman-teman pelaku usaha di lingkungan ini. Harapannya, relokasi ini tidak hanya membantu pelaku usaha, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat dan mempererat persaudaraan karena kita semua adalah warga Surabaya," tutupnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.