MOJOKERTO (Lentera) – Residu sampah yang selama ini sulit diolah, masih menjadi tantangan besar dalam pengelolaan sampah di Jawa Timur.
Kondisi tersebut mendorong munculnya berbagai inovasi, salah satunya teknologi pengolahan sampah tanpa proses pemilahan yang dinilai berpotensi menjadi solusi pelengkap dalam mengurangi timbunan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA).
Akademisi Teknik Lingkungan Universitas Airlangga, Dr. Rizky Amaliyah menilai persoalan utama pengelolaan sampah di Indonesia tidak hanya terletak pada teknologi, namun juga rendahnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari sumbernya.
Menurutnya, sampah rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar timbulan sampah nasional, yakni sekitar 60 persen. Namun hingga kini belum tersedia kebijakan yang cukup kuat untuk mendorong masyarakat melakukan pemilahan secara disiplin.
"Kesadaran masyarakat mengenai pemilahan sampah masih belum merata. Selain itu, manfaat ekonomi dari penerapan ekonomi sirkular juga belum banyak dirasakan sehingga motivasi masyarakat masih rendah," ungkapnya, Jumat (25/6/2026).
Rizky menambahkan, jika pengembangan ekonomi sirkular juga masih menghadapi kendala berupa terbatasnya pasar bagi produk hasil pengolahan sampah.
"Karena itu, diperlukan dukungan pemerintah, perguruan tinggi, serta berbagai pihak untuk memperkuat kapasitas komunitas sekaligus membuka akses pendanaan," tambahnya.
Sementara, pandangan lain disampaikan Ketua Tim Kerja Infrastruktur Sumber Daya Air dan Lingkungan Hidup Bappeda Jawa Timur, Kunarti Sri Rejeki saat menghadiri forum diskusi pengelolaan sampah yang diselenggarakan Perhimpunan Filantropi Indonesia bersama Yayasan Bimasakti Peduli Negeri di Pendopo Bimasakti Farm, Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Menurut Kunarti, teknologi pengolahan sampah tanpa pilah merupakan inovasi yang layak dikembangkan, terutama untuk menangani residu sampah yang hingga kini masih menjadi persoalan dalam sistem pengelolaan sampah.
"Pengelolaan sampah tanpa pilah merupakan inovasi yang dibutuhkan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Namun kualitas produk hasil pengolahannya tetap dipengaruhi kondisi sampah yang dipilah maupun tidak dipilah," ujarnya.
Ia menjelaskan, sekitar 20 persen sampah yang dihasilkan masih berupa residu yang sulit dimanfaatkan kembali. Sementara volume sampah di Jawa Timur terus meningkat setiap hari, sehingga diperlukan inovasi yang mampu melengkapi sistem pengelolaan yang sudah berjalan.
Selama ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menerapkan berbagai strategi, mulai dari pemilahan sampah organik dan anorganik di tingkat rumah tangga hingga pengolahan di tempat pembuangan sementara. Namun, laju timbulan sampah dinilai masih lebih cepat dibanding kapasitas pengolahannya.
"Masih ada jenis sampah tertentu yang memang tidak dapat dimanfaatkan kembali sehingga akhirnya harus dibuang," jelasnya.
Dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan ini, Direktur Yayasan Bimasakti Peduli Negeri, M. Adistya Dwi Kurniawan mengatakan forum tersebut menjadi wadah mempertemukan pemerintah, akademisi, komunitas, dan sektor filantropi guna mencari solusi pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.
"Kita berharap inovasi yang diperkenalkan dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi timbulan sampah sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan," tutup Kurniawan.
Reporter: Nur hidayah/Editor: Ais




.jpg)
