SURABAYA (Lentera) – Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU, Saifullah Yusuf mengajak seluruh pengurus wilayah dan cabang Nahdlatul Ulama (NU) untuk menjaga suasana kondusif menjelang pelaksanaan muktamar ke-35 NU, serta mengingatkan agar warga NU tidak mudah mempercayai berbagai informasi yang beredar di media sosial tanpa melakukan verifikasi.
Menurut pria yang akrab disapa Gus Ipul itu, informasi yang beredar di media sosial tidak semuanya benar. Sebagian informasi bersifat setengah benar, bahkan ada yang mengandung fitnah dan hoaks yang tidak sesuai dengan fakta.
"Saya berharap kepada para pengurus wilayah dan pengurus cabang Nahdlatul Ulama untuk bersiap diri, tidak mudah percaya dengan berita-berita yang ada di media sosial. Ada yang benar, ada yang separuh benar, ada yang hoaks, bahkan fitnah yang tidak sesuai dengan kenyataan," kata Gus Ipul ketika ditemui Lentera usai menghadiri open house SRMA 21 di Unesa, Jumat (26/6/2026).
Gus Ipul mengajak, seluruh pengurus NU untuk bersama-sama mempersiapkan muktamar dengan sungguh-sungguh, berbekal informasi yang akurat dan hati yang bersih, sehingga keputusan-keputusan yang dihasilkan nantinya benar-benar membawa kemaslahatan bagi jam'iyah.
Ia meyakini, NU memiliki tradisi dan mekanisme yang matang dalam menyelesaikan perbedaan pandangan serta mengambil keputusan secara kolektif demi kepentingan organisasi.
"Kita percaya NU punya cara untuk menyelesaikan berbagai perbedaan dan memiliki mekanisme dalam mengambil keputusan yang akan menjadi kebaikan bersama, termasuk kebaikan Jam'iyah Nahdlatul Ulama," tuturnya.
Terkait lokasi penyelenggaraan muktamar, Gus Ipul menyebut, hingga kini belum ada keputusan final. PBNU akan membentuk tim khusus yang nantinya berkonsultasi dengan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU sebelum menetapkan lokasi penyelenggaraan.
Ia mengungkapkan, rekomendasi hasil Konferensi Besar (Konbes) sebelumnya telah mengusulkan sejumlah daerah untuk disurvei lebih lanjut, yakni Jawa Timur, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sumatera Barat, dan Jakarta.
Mengenai nama-nama yang mulai bermunculan sebagai kandidat Rais Aam maupun Ketua Umum PBNU, Gus Ipul mengungkapkan, seluruh kader memiliki kesempatan yang sama sesuai mekanisme organisasi.
Ia menjelaskan, pemilihan Rais Aam dilakukan melalui pembentukan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Berdasarkan keputusan sebelumnya, akan dipilih sembilan anggota AHWA dari usulan pengurus syuriyah cabang dan wilayah. Kesembilan anggota tersebut kemudian bertugas memilih Rais Aam.
Sementara itu, untuk posisi Ketua Umum PBNU, Gus Ipul menilai kemunculan sejumlah nama merupakan hal yang wajar. Ia mencontohkan bahwa dalam sekitar 70 tahun terakhir, NU hanya memiliki lima Ketua Umum, yakni KH Idham Chalid, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Hasyim Muzadi, KH Said Aqil Siradj, dan KH Yahya Cholil Staquf.
"Yang kita lihat ini dalam 70 tahun terakhir, memang Ketua Umum itu sebelumnya menduduki jabatan-jabatan tertentu," tutupnya.
Reporter: Amanah/Editor: Ais




.jpg)
