24 June 2026

Get In Touch

Guru Besar ITS Ciptakan NL-COCOMO, Inovasi Model Estimasi Perangkat Lunak

Guru Besar ke-239 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Dr Sholiq ST MKom MSA menunjukkan inovasi NL-COCOMO .
Guru Besar ke-239 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Dr Sholiq ST MKom MSA menunjukkan inovasi NL-COCOMO .

SURABAYA (Lentera) - Seiring berkembangnya teknologi, transformasi menggunakan sistem digital kian terus digencarkan, Guru Besar ke-239 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Dr Sholiq ST MKom MSA menghadirkan inovasi bernama NL-COCOMO (Natural Language Constructive Cost Model).

Inovasi ini merupakan sebuah model estimasi biaya dan usaha proyek perangkat lunak yang memanfaatkan analisis bahasa alami. Kemudian juga inovasi menjadi model guna estimasi biaya pengembangan perangkat lunak berbasis bahasa natural.

Sholiq menegaskan bahwa inovasi NL-COCOMO berpotensi diterapkan di berbagai sektor karena pengembangan perangkat lunak kini menjadi bagian penting dalam transformasi digital di berbagai bidang. Menurutnya, model ini dapat membantu proses estimasi biaya proyek perangkat lunak agar lebih terstandar, sehingga mendukung pengembangan sistem digital yang lebih efektif dan akuntabel.

NL-COCOMO dirancang untuk memperkirakan ukuran, kompleksitas, dan sumber daya yang dibutuhkan dalam pengembangan perangkat lunak. Sholiq mengungkapkan bahwa harga suatu perangkat lunak masih belum memiliki standardisasi dibandingkan produk fisik umumnya. 

“Tujuannya adalah menciptakan acuan dalam proyek perangkat lunak,” kata lelaki asal Gresik tersebut dalam keterangan yang diterima Selasa (23/6/2026)..

Sebelumnya, NL-COCOMO merupakan model yang bekerja sebatas untuk mengestimasi keperluan pengembangan perangkat lunak saja. Lelaki kelahiran 1971 tersebut pun merekonstruksi model ini dengan bantuan teknik pemrosesan bahasa alami atau Natural Language Processing (NLP). Sebab, NLP memungkinkan komputer untuk memproses bahasa manusia dalam bentuk teks atau data suara untuk memahami makna sepenuhnya, lengkap dengan maksud dan sentimen. 

“NLP dapat membuat penyampaian kebutuhan pengguna dikomunikasikan dengan lebih mudah,” jelas Sholiq.

Ia mengelaborasikan bahwa dalam proses pengembangan perangkat lunak, tahapan memahami kebutuhan pengguna biasanya dilakukan melalui proses storytelling sebelum estimasi biaya dapat dilakukan. Melalui inovasi pemrosesan bahasa alami yang dikembangkan dalam model ini, proses tersebut dapat dilakukan lebih cepat dan efisien karena kebutuhan pengguna dapat diidentifikasi melalui sistem. 

“Sehingga perhitungan biaya dapat dilaksanakan lebih cepat,” imbuh alumnus Teknik Informatika ITS tersebut.

Melanjutkan penelitiannya, Sholiq berencana untuk mengembangkan arsitektur model NL-COCOMO yang sebelumnya menggunakan sistem monolithic menuju microservices dan cloud-native systems. Pengembangan ini memungkinkan penggunaan model secara independen, terhubung, dan terotomatisasi dibandingkan sistem sebelumnya yang hanya menggunakan sistem tunggal dalam satu basis kode saja.

Penelitian Kepala Laboratorium Manajemen Sistem Informasi ITS tersebut menjadi bukti nyata dukungan sivitas akademika ITS untuk mengupayakan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada poin ke-9 yakni Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Sholiq mengharapkan inovasi ini dapat dimanfaatkan sebagai standar dan mempermudah perancangan perangkat lunak. 

“Saya harap inovasi ini dapat menjadi kontribusi nyata dalam perkembangan teknologi digital di Indonesia,” katanya.

dosen Departemen Sistem Informasi (SI) ITS ini menandaskan transformasi digital ini mendorong perangkat lunak menjadi fondasi utama berbagai layanan dan proses bisnis modern. Oleh karena itu, proses pengembangan perangkat lunak perlu dirancang secara matang guna meminimalkan risiko kegagalan proyek. (*)

Editor : Lutfiyu Handi
 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.