BOJONEGORO (Lentera) - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Timur sekaligus Bunda PAUD Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak mendorong penguatan gizi dan karakter anak sejak usia dini.
Tak hanya itu, Arumi Bachsin juga mengapresiasi inovasi Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro yang mengolaborasikan Gerakan 7 Kebiasaan Anak yaitu Indonesia Hebat (G7KAIH) dengan Program Gayatri (Gerakan Ayam Petelur Mandiri) yang yang diikuti sekitar 1.950 peserta terdiri atas 850 siswa TK dan 1.100 anak PAUD di Lapangan Desa Nglumber, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (18/6/2026).
Menurut Arumi, kolaborasi kedua program tersebut merupakan contoh nyata pembangunan sumber daya manusia yang tidak hanya berfokus pada aspek pendidikan, tetapi juga pemenuhan gizi dan pembentukan karakter anak.
"Sering kali kita berbicara tentang anak yang cerdas. Namun kecerdasan yang sesungguhnya lahir dari tubuh yang sehat, pikiran yang kuat, dan karakter yang baik," kata Arumi.
Dia juga menjelaskan, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat menanamkan kebiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat. Menurutnya, kebiasaan-kebiasaan sederhana tersebut merupakan pondasi penting dalam pembentukan karakter anak.
Ia mencontohkan kebiasaan gemar belajar tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan membaca, tetapi juga dapat dilakukan melalui aktivitas literasi lain seperti melukis, menggambar, berimajinasi, hingga berani bermimpi dan mewujudkan cita-cita.
"Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten akan membentuk karakter besar. Anak-anak belajar disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki nilai-nilai positif yang akan menjadi bekal mereka di masa depan," katanya.
Dalam sesi podcast bersama Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro dr. Hj. Cantika Wahono dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro Drs. Moch. Anwar, Arumi menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
Menurutnya, keberhasilan pembentukan karakter anak membutuhkan kolaborasi erat antara keluarga, sekolah, dan pemerintah. "Tidak bisa dilakukan sendiri. Sekolah berfungsi menebalkan nilai-nilai yang telah diajarkan di rumah. Karena itu komunikasi antara orang tua dan sekolah menjadi sangat penting agar
pembiasaan yang diterapkan kepada anak berjalan selaras," jelasnya.
Arumi menyebut salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah meningkatnya penggunaan gadget pada anak usia dini. Ia mengingatkan bahwa gadget memiliki potensi adiksi bagi semua kelompok usia sehingga penggunaannya harus mendapat pengawasan yang ketat dari orang tua.
"Untuk anak usia dini, penggunaan gadget 0 jam perhari hampir tidak diperkenankan untuk diberikan gadget. Apabila diberikanpun sangat dibatasi dan harus berada dalam pengawasan orang tua dengan durasi yang terkontrol," tegasnya.
Lebih lanjut, Arumi berharap Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dapat dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan oleh keluarga, sekolah, maupun pemerintah.
Menurutnya, program tersebut merupakan upaya memastikan terpenuhinya hak-hak dasar anak, mulai dari gizi yang cukup, aktivitas fisik, waktu istirahat yang memadai, hingga
lingkungan tumbuh kembang yang sehat. Terkait kemungkinan replikasi program di daerah lain, Arumi menyatakan bahwa
pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan karakteristik dan budaya masing-masing daerah. Namun yang terpenting adalah terbangunnya kolaborasi antara sekolah dan keluarga dalam membentuk kebiasaan baik anak sejak dini.
Sementara itu, melalui Program Gayatri, Arumi juga mengajak orang tua untuk membiasakan konsumsi telur sebagai sumber protein yang mudah diperoleh dan terjangkau. Menurutnya, satu butir telur setiap hari dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi dasar anak sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting.
'Ketika anak-anak tumbuh sehat, cerdas, dan berkarakter, sesungguhnya kita sedang membangun masa depan Jawa Timur yang lebih maju, berdaya saing, dan sejahtera," pungkasnya. (*)
Editor : Lutfiyu Handi



.jpg)
