PROGRAM konversi kompor elpiji 3 kilogram ke kompor listrik yang sempat kandas pada 2022 kini kembali muncul di meja pemerintah. Dulu program ini dibatalkan setelah memicu penolakan luas. Banyak rumah tangga sasaran menggunakan listrik 450 VA dan 900 VA yang dinilai tidak memadai untuk mengoperasikan kompor listrik. Kekhawatiran soal beban daya, kesiapan infrastruktur, hingga biaya tambahan bagi masyarakat menjadi penyebab utama. Empat tahun berlalu, pemerintah kembali mengusulkan program serupa dengan anggaran Rp815,56 miliar. Alasannya masih sama yaitu menekan impor dan subsidi LPG 3 kilogram yang terus membengkak. Bedanya, pemerintah mengklaim teknologi kompor yang akan digunakan kini lebih efisien dan lebih sesuai dengan kebutuhan rakyat. Saat ingatan publik atas kegagalan sebelumnya masih membekas, kemunculan kembali program ini memicu pertanyaan mendasar: apakah pemerintah telah benar-benar memperbaiki akar persoalan, atau justru sedang mengulang kebijakan lama dengan kemasan baru? BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI https://lentera.co/upload/Epaper/17062026.pdf



.jpg)
.jpg)
.jpg)
