19 June 2026

Get In Touch

Strategi Pemkot Batu Pangkas Tengkulak, Hubungkan Petani ke Pasar Modern

Petani apel di desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. (foto: DistanKP Kota Batu)
Petani apel di desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. (foto: DistanKP Kota Batu)

BATU (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Batu menyiapkan strategi  smart integrated farming atau pertanian cerdas terintegrasi, yang difokuskan untuk memangkas mata rantai tengkulak sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dengan menghubungkan pemasaran produk langsung ke pasar modern.

"Strategi ini dirancang dengan konsep menyeluruh. Artinya mulai dari proses budidaya hingga pemasaran hasil panen, awal sampai akhir. Pada tahap pemasaran nanti ada lembaga profesional yang sudah memiliki jaringan ke pasar modern. Ini menjadi upaya memberantas tengkulak," ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DistanKP) Kota Batu, Hendry Suseno, dikutip pada Rabu (17/6/2026).

Selama ini, menurutnya praktik tengkulak dinilai kerap merugikan petani karena hasil panen dibeli dengan harga rendah, kemudian dijual kembali ke pasar dengan harga yang jauh lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat nilai keuntungan yang diterima petani menjadi tidak optimal.

Karena itu, mantan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batu ini, menempatkan peningkatan kesejahteraan petani sebagai tujuan utama dalam implementasi smart integrated farming.

Ditegaskannya, lembaga yang akan menjadi mitra penyerap hasil panen akan melalui proses seleksi ketat oleh pemerintah daerah.

Selain memperbaiki rantai distribusi, program ini juga akan memodernisasi sistem dan tata kelola pertanian melalui pemanfaatan teknologi. Dengan demikian, hasil panen diharapkan mampu memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan pasar modern.

"Sehingga produk pertanian yang dihasilkan akan sesuai dengan spesifikasi dari pasar modern," katanya.

Hendry menyebut, pihaknya juga telah memproyeksikan lahan seluas 2,5 hektare di Kelurahan Giripurno, Kecamatan Batu, sebagai lokasi pelaksanaan tahap awal program tersebut.

Di lokasi tersebut smart integrated farming akan dijadikan pilot project yang nantinya dapat direplikasi oleh seluruh kelompok tani di Kota Batu.

"Saat ini terdapat 290 kelompok tani yang tersebar di tiga kecamatan, meliputi Kecamatan Batu sebanyak 66 kelompok tani, Kecamatan Bumiaji dengan 151 kelompok tani, dan di Kecamatan Junrejo ada sebanyak 73 kelompok tani," papar Hendry.

Menurutnya, penerapan teknologi dalam sektor pertanian diharapkan mampu memberikan nilai tambah pada produk sekaligus meningkatkan daya saing hasil pertanian daerah.

"Bertani dengan menggunakan teknologi mampu menghadirkan nilai tambah kepada produk pertanian dan tentu karena program ini merupakan visi misi Pak Wali Kota, kami harus berkolaborasi dengan satuan kerja perangkat daerah lain," katanya.

Sebagai informasi, pada triwulan I 2026, komoditas sayuran Kota Batu didominasi oleh produksi petsai atau sawi yang mencapai 28.790,73 kuintal. Selanjutnya, wortel sebanyak 22.705,39 kuintal, kentang 21.427,56 kuintal, bawang daun 16.015,17 kuintal, kembang kol 15.554,52 kuintal, kubis 11.569,95 kuintal, dan bawang merah 6.391,30 kuintal.

Sementara itu, produksi bunga hias terdiri atas 10.065,50 kuintal bunga mawar, 2.348,75 kuintal bunga krisan, serta 155,50 kuintal anggrek pot.

Untuk komoditas buah, produksi apel Kota Batu pada periode tersebut mencapai 20.312,86 kuintal, sedangkan jeruk siem tercatat 89.039,49 kuintal.

 

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.