18 June 2026

Get In Touch

Jangan Abaikan Perubahan BAB, Bisa Jadi Sinyal Awal Kanker Pankreas

Jangan Abaikan Perubahan BAB, Bisa Jadi Sinyal Awal Kanker Pankreas

SURABAYA ( LENTERA ) - Kebiasaan memperhatikan kondisi tubuh sering kali dimulai dari hal-hal sederhana. Salah satunya adalah memperhatikan perubahan saat buang air besar (BAB). Meski terdengar sepele, para ahli kini menemukan bahwa tinja atau feses dapat menyimpan petunjuk penting mengenai kondisi kesehatan seseorang, termasuk kemungkinan adanya kanker pankreas.

Kanker pankreas dikenal sebagai salah satu jenis kanker yang paling sulit dideteksi sejak dini. Penyakit ini sering dijuluki "silent killer" karena pada tahap awal jarang menimbulkan gejala yang khas. Banyak penderita baru mengetahui keberadaan kanker ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut dan pengobatan menjadi lebih sulit dilakukan.

Selama ini, gejala kanker pankreas sering berupa kelelahan berkepanjangan, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, gangguan metabolisme energi, nyeri perut atau punggung, hingga gangguan pencernaan. Masalahnya, gejala tersebut sangat mirip dengan keluhan kesehatan sehari-hari sehingga kerap dianggap tidak serius.

Namun penelitian terbaru yang dilaporkan Science Alert menunjukkan adanya harapan baru untuk mendeteksi penyakit ini lebih awal. Peneliti menemukan bahwa kanker pankreas, khususnya jenis pancreatic ductal adenocarcinoma (PDAC) yang merupakan tipe paling umum, dapat meninggalkan jejak biologis pada mikroorganisme yang hidup di saluran pencernaan manusia.

Pankreas memiliki saluran yang terhubung langsung dengan usus halus. Karena itu, perubahan yang terjadi pada organ tersebut dapat memengaruhi komposisi bakteri di dalam usus. Perubahan tersebut kemudian dapat terdeteksi melalui analisis sampel feses.

Dalam studi internasional yang melibatkan peneliti dari Finlandia dan Iran pada 2025, ditemukan bahwa pasien kanker pankreas memiliki keragaman mikrobioma usus yang jauh lebih rendah dibandingkan orang sehat. Bahkan, pola bakteri tertentu dapat berfungsi layaknya "sidik jari biologis" yang membantu membedakan individu sehat dengan penderita kanker pankreas.

Untuk mengidentifikasi pola tersebut, para ilmuwan menggunakan teknologi sekuensing gen 16S rRNA yang memungkinkan mereka memetakan jenis dan jumlah bakteri dalam saluran cerna. Hasilnya kemudian dianalisis menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menariknya, model AI yang dikembangkan mampu mengidentifikasi penderita kanker pankreas hanya berdasarkan profil mikrobioma usus dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Perkembangan ilmu mikrobioma memang sedang menjadi perhatian dunia medis. Metode yang lebih canggih seperti shotgun metagenomic sequencing kini memungkinkan peneliti memetakan seluruh genom bakteri secara rinci. Pendekatan ini mengubah cara pandang ilmuwan terhadap tubuh manusia. Jika dahulu tubuh dianggap sebagai sistem yang berdiri sendiri, kini manusia dipahami sebagai ekosistem kompleks yang hidup berdampingan dengan triliunan mikroorganisme.

Penelitian mengenai hubungan antara mikrobioma dan kanker juga berkembang pesat. Di Inggris, para ilmuwan di Quadram Institute telah menganalisis lebih dari seribu sampel feses untuk mempelajari hubungan antara bakteri usus dan kanker kolorektal.

Hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara mikroba dan kanker bersifat dua arah. Kanker dapat mengubah komposisi bakteri usus, sementara bakteri tertentu juga dapat memengaruhi perkembangan penyakit.

Meski teknologi ini belum menjadi metode pemeriksaan rutin di rumah sakit, para ilmuwan optimistis bahwa analisis mikrobioma akan menjadi salah satu alat penting untuk deteksi dini kanker di masa depan. Seperti dikatakan para peneliti Quadram Institute dalam The Conversation, "Kita semakin memahami bahwa jawaban dari berbagai pertanyaan medis bisa saja tersembunyi dalam hal yang selama ini kita abaikan, yaitu feses."

Selain penelitian mikrobioma, berbagai organisasi kesehatan dunia mengingatkan pentingnya memperhatikan perubahan pada pola BAB. Menurut Mayo Clinic, NHS Inggris, dan American Cancer Society, beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain tinja berwarna pucat atau keabu-abuan, tinja berminyak yang sulit disiram, diare berkepanjangan, perubahan pola BAB yang tidak biasa, serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Perubahan tersebut tidak selalu berarti kanker pankreas. Namun jika berlangsung terus-menerus selama beberapa minggu, disertai nyeri perut, kehilangan nafsu makan, atau kulit menguning, pemeriksaan medis sebaiknya segera dilakukan.

Pola Makan

Meski tidak ada makanan yang dapat menjamin seseorang terhindar dari kanker pankreas, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola makan sehat dapat membantu menurunkan risiko penyakit kronis, termasuk kanker.

Laporan Harvard Health Publishing dan BBC Good Food menyebut konsumsi sayuran berwarna hijau tua seperti bayam, brokoli, dan kale berkaitan dengan asupan antioksidan yang membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan. Buah-buahan kaya vitamin C seperti jeruk, jambu biji, kiwi, dan stroberi juga direkomendasikan sebagai bagian dari pola makan sehari-hari.

Sumber serat dari gandum utuh, oat, kacang-kacangan, dan biji-bijian turut berperan menjaga kesehatan saluran cerna dan mendukung keseimbangan mikrobioma usus. Sementara itu, ikan berlemak seperti salmon, sarden, dan makarel yang kaya asam lemak omega-3 diketahui memiliki efek antiinflamasi yang baik bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Sebaliknya, para ahli menyarankan membatasi konsumsi daging olahan, makanan ultra-proses, minuman tinggi gula, serta alkohol berlebihan karena berbagai penelitian mengaitkannya dengan peningkatan risiko sejumlah penyakit kronis dan kanker.

Menjaga kesehatan pankreas sebenarnya dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga minimal 150 menit per minggu, tidak merokok, mengontrol kadar gula darah, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang merupakan langkah yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai lembaga kesehatan internasional.

Yang tidak kalah penting adalah tidak mengabaikan perubahan kecil pada tubuh. Kebiasaan memperhatikan kondisi BAB, warna tinja, pola buang air besar, hingga keluhan pencernaan yang berlangsung lama dapat menjadi langkah sederhana yang membantu deteksi dini berbagai penyakit serius.(ist/dya)

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.