13 June 2026

Get In Touch

Kasus HIV/AIDS Jatim Tertinggi Nasional, DPRD Tekankan Penguatan Deteksi Dini

Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Sri Wahyuni
Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Sri Wahyuni

SURABAYA (Lentera) - Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan jumlah kasus baru HIV/AIDS tertinggi di Indonesia sepanjang 2025. Menyikapi kondisi tersebut, Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Sri Wahyuni menekankan pentingnya penguatan upaya deteksi dini melalui pencegahan dan edukasi.

"Kasus HIV/AIDS di Jawa Timur yang masih menempati urutan tertinggi secara nasional menjadi perhatian serius bagi kita semua. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan, edukasi, deteksi dini, dan pengobatan masih perlu diperkuat secara berkelanjutan,” ungkap Sri Wahyuni, Jumat (12/6/2026).

Politisi Partai Demokrat yang akrab disapa Yuni itu menegaskan, HIV/AIDS bukan semata persoalan kesehatan, tetapi juga persoalan sosial yang memerlukan keterlibatan berbagai elemen masyarakat.

"HIV/AIDS bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga persoalan sosial yang membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, organisasi masyarakat, hingga keluarga," katanya.

Menurutnya, peningkatan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dini dan menghapus stigma terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) menjadi langkah penting dalam menekan laju penularan.

"Yang terpenting saat ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dini, menghilangkan stigma terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), serta memastikan akses layanan kesehatan dan terapi antiretroviral (ARV) tersedia secara merata. Dengan kolaborasi yang kuat, kita berharap angka kasus baru dapat ditekan dan kualitas hidup para penyandang HIV/AIDS semakin baik," tegasnya.

Sri Wahyuni juga menekankan perlunya penguatan dukungan anggaran dan program edukasi kesehatan reproduksi, termasuk skrining bagi kelompok berisiko dan peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan.

"Perlu penguatan anggaran, program edukasi kesehatan reproduksi, skrining kelompok berisiko, serta dukungan terhadap fasilitas kesehatan agar layanan pencegahan dan penanganan HIV/AIDS semakin efektif," ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan program pencegahan dan penanganan HIV/AIDS merupakan investasi penting untuk menjaga kualitas sumber daya manusia di Jawa Timur.

"Ini merupakan investasi penting untuk melindungi generasi produktif dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Jawa Timur," pungkasnya.

Diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Kasus Penyakit Menurut Provinsi dan Jenis Penyakit 2025 yang diperbarui pada 16 Februari 2026, jumlah kasus baru HIV/AIDS di Jawa Timur mencapai 10.612 kasus. Angka itu lebih tinggi dibandingkan Jawa Barat dengan 9.212 kasus dan Jawa Tengah sebanyak 6.057 kasus.

Sementara itu, data Kementerian Kesehatan menunjukkan pada 2025 diperkirakan terdapat sekitar 564 ribu orang hidup dengan HIV (ODHIV) di Indonesia. Namun hingga Maret 2025, baru sekitar 356.638 orang atau 63 persen yang mengetahui status kesehatannya.

Reporter: Pradhita/Editor: Santi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.