11 June 2026

Get In Touch

Ilmuwan China Temukan Gen Jagung Berprotein Tinggi, Bisa Gantikan Kedelai

Ilmuwan China Temukan Gen Jagung Berprotein Tinggi, Bisa Gantikan Kedelai

SURABAYA ( LENTERA ) - Tim ilmuwan China menemukan gen baru pada jagung liar yang berpotensi meningkatkan kandungan protein jagung modern secara signifikan. Temuan tersebut dinilai strategis karena dapat membantu mengurangi ketergantungan China terhadap impor kedelai yang selama ini menjadi sumber utama protein untuk pakan ternak.

Berdasarkan laporan Yicai Global, tim peneliti yang dipimpin oleh Wu Yongrui dan Wang Haihai dari Chinese Academy of Sciences menemukan gen bernama THP3-T pada Teosinte, spesies jagung liar yang merupakan nenek moyang jagung modern.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature pada 3 Juni 2026. Gen THP3-T diketahui menghasilkan enzim yang berperan penting dalam proses pembentukan asam amino, yakni komponen dasar penyusun protein.

Peneliti menjelaskan bahwa gen-gen yang berkontribusi terhadap tingginya kandungan protein banyak hilang selama ribuan tahun proses domestikasi tanaman. Selama ini, program pemuliaan jagung lebih berfokus pada peningkatan produktivitas dan hasil panen sehingga kandungan protein tidak menjadi prioritas utama.

Akibatnya, jagung modern saat ini rata-rata hanya memiliki kandungan protein sekitar 8 persen. Sebaliknya, jagung liar dapat mengandung protein hingga 30 persen.

Temuan tersebut memiliki arti penting bagi China yang memproduksi sekitar 300 juta ton jagung setiap tahun. Meski volumenya besar, kadar protein jagung yang relatif rendah membuat kebutuhan industri peternakan dan unggas belum sepenuhnya terpenuhi.

Selama ini kekurangan protein dalam pakan ternak ditutupi melalui impor bungkil kedelai, yaitu residu atau ampas kedelai yang umum digunakan sebagai bahan baku pakan.
Penelitian terbaru ini melanjutkan temuan tim Wu pada 2022 yang sebelumnya berhasil mengidentifikasi gen berprotein tinggi lain bernama THP9-T. Menurut para peneliti, gen THP3-T dapat bekerja bersama THP9-T untuk meningkatkan kadar protein jagung secara lebih optimal.

Setelah melalui beberapa tahun uji lapangan, kedua gen tersebut berhasil disisipkan ke sejumlah varietas jagung hibrida utama di China. Hasilnya menunjukkan peningkatan kandungan protein biji jagung dari sekitar 8,5 persen menjadi 12 hingga 13 persen. Sementara itu, kandungan protein pada seluruh bagian tanaman meningkat dari sekitar 7 persen menjadi lebih dari 9 persen.

Peningkatan kandungan protein tersebut dicapai tanpa mengorbankan produktivitas tanaman. Faktor ini dianggap sangat penting karena varietas jagung berprotein tinggi akan sulit diterapkan secara luas apabila menyebabkan penurunan hasil panen yang signifikan.

Tim peneliti memperkirakan bahwa kenaikan kandungan protein jagung sebesar empat poin persentase secara nasional dapat menghasilkan tambahan protein yang setara dengan 30 juta ton kedelai impor. Jumlah tersebut setara sekitar 30 persen dari total impor kedelai China dalam setahun.

Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas nutrisi jagung dapat menjadi salah satu strategi penting untuk memperkuat ketahanan pasokan bahan baku industri pakan sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.

Ke depan, para peneliti akan bekerja sama dengan perusahaan pemuliaan benih untuk mengembangkan varietas jagung berprotein tinggi yang siap dibudidayakan secara luas. Mereka juga akan terus menelusuri gen-gen baru dengan target meningkatkan kandungan protein biji jagung hibrida hingga mencapai 15 persen.(Ist/dya)

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.