SURABAYA (Lentera) -Pedagang bahan pokok di sejumlah pasar tradisional di Surabaya, Jawa Timur, meminta pemerintah menambah pasokan Minyakita karena tingginya permintaan masyarakat.
"Stok Minyakita sudah lama kosong, ada paling dua bulanan," kata pedagang di Pasar Wonokromo, Surabaya, Munawaroh, Senin (8/6/2026).
Keluhan tersebut disampaikan saat Satgas Pangan Polda Jawa Timur bersama Perum Bulog Kanwil Jawa Timur, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Surabaya melakukan pemantauan di Pasar Soponyono dan Pasar Wonokromo, Minggu (7/6/2026).
Pedagang Keluhkan Pasokan Terbatas
Pemimpin Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Timur, Langgeng Wisnu, mengatakan sejumlah pedagang berharap ketersediaan Minyakita dapat ditingkatkan karena permintaan masyarakat masih tinggi.
"Beberapa pedagang yang ditemui mengharapkan supaya ketersediaan Minyakita dapat ditambah mengingat permintaan masyarakat masih cukup besar," ujar Langgeng.
Menurut dia, distribusi Minyakita berasal dari skema domestic market obligation (DMO), dengan porsi 35 persen dialokasikan kepada BUMN pangan seperti Bulog, Id Food, dan Agrinas Palma, sedangkan 65 persen sisanya disalurkan oleh pihak swasta.
Meski pasokan dinilai terbatas, harga Minyakita di Pasar Soponyono dan Pasar Wonokromo masih terpantau sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp 15.700 per liter.
Stok Dinilai Masih Aman
Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, Yudi Arianto, mengatakan ketersediaan Minyakita memang bersifat fluktuatif karena dipengaruhi volume ekspor yang dilakukan perusahaan swasta.
"Kalau kemarin yang Bulog informasikan di grup itu memang di bulan ini, Juni itu ada tambahan 1 sekian juta liter. Jadi insyaallah kalau dari segi kecukupan enggak ada masalah menurut saya," kata Yudi, mengutip Kompas.
Ia menilai tambahan pasokan tersebut dapat membantu menjaga ketersediaan Minyakita di pasaran dalam waktu dekat.
Wacana Kenaikan HET Masih Dikaji
Terkait rencana kenaikan Harga Eceran Tertinggi Minyakita dalam dua pekan ke depan, Yudi mengatakan pihaknya masih menunggu keputusan dari Kementerian Perdagangan.
Menurut dia, harga Minyakita sangat dipengaruhi pergerakan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar.
"Kalau ekspor CPO-nya naik otomatis harganya Minyakita yang di pasar juga pasti akan naik. Tapi kalau ekspornya turun, otomatis produksi Minyakita akan turun juga," ujarnya.
Pemerintah saat ini tengah mengevaluasi kemungkinan penyesuaian HET Minyakita menyusul kenaikan harga CPO yang telah mencapai Rp 15.445 per kilogram.
Minyakita merupakan merek minyak goreng rakyat yang disiapkan pemerintah untuk menjaga keterjangkauan harga minyak goreng bagi masyarakat.
Produk tersebut berasal dari kewajiban pemenuhan pasar domestik atau DMO yang dibebankan kepada eksportir minyak sawit (*)
Editor: Arifin BH




.jpg)
