SURABAYA (Lentera) - Remaja warga Jalan Manukan Yoso II, Surabaya, Thomas Julius Kristianto (19) diduga tewas dikeroyok, gegara masalah sandal. Empat orang terduga pelaku pengeroyokan, sudah diamankan pihak kepolisian.
"Ya benar sudah diamankan empat orang pelaku. Inisialnya CJF, AAY, KVRL, dan RU," kata Kasi Humas Polrestabes Surabaya, AKP Hadi Ismanto saat dikonfirmasi, Jumat (5/6/2026) mengutip detikJatim, Sabtu (6/6/2026).
Namun, pihaknya belum menjelaskan lebih rinci terkait kronologi peristiwa itu, termasuk peran para pelaku yang terlibat.
Demikian juga, Kanit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya, AKP Raditya Herlambang juga enggan membeberkan kronologi dan motif pengeroyokan. Ia hanya menyebut, saat ini kasus masih dalam penyelidikan.
"Masih lanjut pemeriksaan. Perkembangan selanjutnya diinfo Humas," ujar Raditya.
Dari informasi yang dihimpun, korban diduga dikeroyok, pada Sabtu (30/5/2026). Awalnya, ia berjalan kaki keluar rumah untuk membeli minuman di kawasan Jalan Manukan Mukti, Tandes.
Namun saat itu, toko yang dituju korban tutup. Korban lantas pindah ke toko lainnya. Di lokasi itu korban disebut bertemu dengan kelompok pelaku, yang berjumlah empat orang.
Korban sempat diajak berduel, sebelum akhirnya dibawa ke lokasi lain dan diduga menjadi korban pengeroyokan. Setelah dikeroyok, korban dikabarkan lemas tak sadarkan diri, kemudian dibawa oleh pelaku dengan dibonceng.
Korban juga disebut sempat terjatuh di jalan, lalu ditinggal dalam keadaan tergeletak di dekat salah satu toko Jalan Manukan Mukti. Teman korban, lalu memberikan kabar kepada keluarga korban.
Tak lama, pihak keluarga datang ke Rumah Sakit di Jalan Manukan Tengah. Saat itu kondisi korban kian memburuk hingga dibawa ke RSUD dr. Soetomo. Usai menjalani perawatan, korban meninggal dunia pada, Kamis (4/6/2026).
Kakak korban, Hana Novia Kristiani mengaku tidak ada utang-piutang antara adiknya dengan para pelaku. Menurutnya, permasalahan bermula pada pertengahan Mei 2026, saat Thomas terlibat permasalahan dengan temannya yang diduga pelaku pengeroyokan.
Mulanya, ada sandal merek Crocs milik terduga pelaku yang ada di rumah temannya. Kemudian korban memakai sandal tersebut sebab tidak membawa alas kaki atau sepatunya basah.
Kemudian teman korban mengetahui bahwa sandal tersebut dibawa korban. Usai dicari, ternyata sandal itu hilang. Pelaku meminta Thomas menggantinya dengan sandal baru.
"Lalu adik saya minta info ke saya bahwa si pelaku meminta ganti rugi. Saya sudah kasih uang ke adik saya terkait ganti rugi tersebut dan juga adik saya sudah mengembalikan dengan sandal yang baru," ungkap Hana.
Menurut Hana, pelaku sempat menghubunginya dan menyatakan menerima sandal pengganti. Karena itu, ia menganggap persoalan tersebut telah selesai.
Namun muncul keberatan dari pihak pelaku, yang mengklaim sandal asli bernilai sekitar Rp1,5 juta. Sementara sandal pengganti yang diberikan korban disebut hanya seharga Rp200 ribu hingga Rp300 ribu.
"Apakah betul Rp 1,5 juta? Bahkan model sandalnya saya tidak tahu. Bagaimana caranya saya percaya bahwa harga sandal tersebut Rp1,5 juta jika tidak ada bukti pembelanjaannya," katanya.
Hana menyesalkan, persoalan sandal menjadi pemicu hilangnya nyawa adiknya. Ia pun berharap, polisi mengusut kasus tersebut secara tuntas dan memberikan keadilan bagi keluarganya.
"Cuma disayangkan anaknya emosi bahkan berujung melakukan tindakan anarki yang mana menghilangkan nyawa seseorang hanya motif ganti rugi sebuah sandal," tegasnya.
Editor: Arief Sukaputra



.jpg)
