MADIUN (Lentera) – Deretan Vespa klasik berbagai warna dan generasi memenuhi kawasan Stadion Wilis di tengah semarak perayaan Hari Jadi ke-108 Kota Madiun, para pecinta skuter legendaris itu tak hanya datang untuk touring tetapi juga membawa pesan persaudaraan yang telah lama menjadi ruh komunitas Vespa.
Salah satu komunitas yang turut ambil bagian dalam kegiatan Rolling Thunder Black Scooter Gagak Rimang Bervespa, adalah Klavesda atau Klasik Vespa Sidoarjo. Komunitas yang bermarkas di Kabupaten Sidoarjo tersebut mengirimkan sekitar 15 anggota, untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung hingga Minggu (31/5/2026).
Wakil Ketua Klavesda, Lilik Isharyono mengatakan keikutsertaan mereka dalam kegiatan tersebut bukan sekadar menghadiri agenda otomotif, lebih dari itu ingin memperkenalkan eksistensi komunitas sekaligus menjalin silaturahmi dengan sesama pecinta Vespa dari berbagai daerah di Indonesia.
“Kami ingin mensosialisasikan Klavesda di tingkat nasional, khususnya kepada komunitas Vespa di seluruh Indonesia,” kata Lilik Sabtu (30/5/2026).
Menurutnya, memperkenalkan komunitas tidak cukup hanya melalui media sosial. Karena itu, Klavesda memilih aktif hadir dalam berbagai kegiatan komunitas yang digelar di berbagai daerah.
Mulai dari acara silaturahmi, halal bihalal, gathering hingga kegiatan touring dan jambore Vespa, menjadi ruang bagi Klavesda untuk membangun jejaring sekaligus memperkuat hubungan antaranggota komunitas.
“Kami berusaha hadir di berbagai undangan kegiatan komunitas. Dari situ hubungan antarkomunitas semakin erat dan masyarakat juga lebih mengenal Klavesda,” ujarnya.
Namun bagi Klavesda, komunitas Vespa tidak hanya identik dengan perjalanan jauh dan hobi otomotif. Di balik aktivitas touring, terdapat berbagai kegiatan sosial yang rutin dilakukan.
Lilik menuturkan, komunitasnya kerap menggelar donor darah, pembagian takjil saat Ramadan, penggalangan bantuan untuk panti asuhan, hingga pembagian bingkisan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.
Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen komunitas untuk hadir dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Kami ingin komunitas Vespa tidak hanya dikenal karena hobinya, tetapi juga karena kepeduliannya terhadap sesama,” katanya.
Di tengah berkembangnya komunitas Vespa di berbagai daerah, Lilik mengakui, masih ada sebagian masyarakat yang memandang negatif komunitas tersebut. Stigma yang identik dengan gaya hidup jalanan maupun perilaku sebagian oknum masih kerap melekat di mata masyarakat.
Meski demikian, ia menilai, citra tersebut perlahan dapat diubah melalui tindakan nyata.
Menurutnya, keterlibatan komunitas dalam kegiatan sosial dan interaksi yang baik dengan masyarakat menjadi cara paling efektif untuk menunjukkan wajah lain dari komunitas Vespa.
“Kami berusaha memperbaiki citra komunitas Vespa dengan aktif bersosialisasi dan berbuat positif di tengah masyarakat. Ketika masyarakat melihat langsung kegiatan yang kami lakukan, mereka akan memahami bahwa komunitas Vespa juga memiliki banyak sisi positif,” ujarnya.
Bagi Lilik, nilai terpenting yang membuat komunitas Vespa tetap bertahan hingga saat ini adalah rasa persaudaraan yang kuat. Perbedaan profesi, jabatan, usia, hingga latar belakang sosial seolah melebur ketika para anggota berkumpul.
“Di komunitas Vespa semua sama. Tidak ada sekat jabatan atau pekerjaan. Saat berkumpul, semua bisa duduk bersama, bercanda bersama, bahkan berjoget bersama,” katanya sambil tersenyum.
Semangat kesetaraan itulah, yang menurutnya menjadi keunikan komunitas Vespa dibandingkan komunitas lainnya. Sebab, seluruh anggota dipersatukan oleh kecintaan terhadap hobi yang sama dan rasa kekeluargaan yang terus dijaga.
Menutup perbincangan, Lilik mengajak, seluruh pecinta Vespa maupun komunitas lainnya untuk terus menjaga kebersamaan dan membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat.
“Kebersamaan dan kekeluargaan adalah prinsip utama kami. Satu rasa, satu hati, satu hobi,” pungkasnya.
Reporter: Wiwiet Eko Prasetyo/Editor: Ais



.jpg)
