29 May 2026

Get In Touch

Cara Ideal Makan Daging Kurban agar Tak Ganggu Kesehatan

Cara Ideal Makan Daging Kurban agar Tak Ganggu Kesehatan

SURABAYA ( LENTERA ) - Menjelang Hari Raya Idul Adha, konsumsi daging merah biasanya meningkat drastis di banyak rumah tangga Indonesia. Momen yang identik dengan pembagian hewan kurban ini hampir selalu menghadirkan beragam olahan berbahan dasar daging sapi maupun kambing, mulai dari sate, gulai, tongseng, rendang, semur, hingga sop daging yang kaya rempah dan menggugah selera.

Namun di balik kelezatan hidangan khas Idul Adha, para ahli kesehatan mengingatkan masyarakat agar tetap memperhatikan pola makan dan kondisi tubuh agar perayaan tidak berujung pada gangguan kesehatan.

Peningkatan konsumsi protein dan lemak dalam jumlah besar dapat membuat sistem metabolisme bekerja lebih berat dibandingkan hari biasa. Terlebih bila konsumsi daging tidak diimbangi asupan serat, air putih yang cukup, aktivitas fisik, dan kualitas tidur yang baik.

Fenomena ini hampir selalu berulang setiap Idul Adha. Setelah pembagian daging kurban, masyarakat cenderung mengolah seluruh stok daging menjadi berbagai menu lezat dalam waktu berdekatan. Akibatnya, konsumsi lemak jenuh, kolesterol, dan purin meningkat tajam. Tidak sedikit orang kemudian mengeluhkan tekanan darah naik, kolesterol meningkat, gangguan lambung, sembelit, hingga rasa begah berkepanjangan.

Jangan Konsumsi Berlebihan

Dokter spesialis gizi klinik dari berbagai rumah sakit besar di Indonesia juga berkali-kali mengingatkan bahwa masalah utama saat Idul Adha bukan semata pada dagingnya, melainkan pola konsumsi berlebihan. Daging merah sebenarnya mengandung nutrisi penting seperti protein, zat besi, vitamin B12, dan seng yang dibutuhkan tubuh.

Namun ketika dikonsumsi secara berlebihan, apalagi disertai santan, jeroan, gorengan, dan minim sayur, risiko gangguan kesehatan meningkat signifikan.

Mengutip laman Johns Hopkins Medicine, sistem pencernaan manusia membutuhkan proses kompleks untuk mengubah makanan menjadi energi dan nutrisi yang dapat digunakan tubuh. Dalam proses tersebut, tubuh memproduksi enzim untuk memecah protein, lemak, dan karbohidrat.

Makanan tinggi lemak dan protein seperti daging merah membutuhkan waktu cerna lebih lama dibandingkan makanan tinggi serat. Karena itu, konsumsi daging dalam jumlah besar sekaligus dapat membuat sistem pencernaan bekerja ekstra keras.

Kondisi tersebut sering menimbulkan rasa penuh, begah, mengantuk, hingga ketidaknyamanan pada lambung.

Jangan Makan Larut Malam

Di Indonesia, konsumsi daging saat Idul Adha juga sering diikuti kebiasaan makan malam larut, pesta bakar sate, atau mengonsumsi makanan bersantan berulang kali selama beberapa hari. Pola ini menurut para ahli berpotensi meningkatkan kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat dalam darah.

Atur Pola Makan

Yang tak kalah penting adalah menjaga keseimbangan konsumsi makanan saat Idul Adha. Para ahli menyarankan masyarakat tidak langsung mengonsumsi daging dalam porsi besar, terutama bagi penderita hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, asam urat, dan penyakit jantung.

Untuk menjaga tubuh tetap nyaman selama Idul Adha, para ahli kesehatan menyarankan sejumlah langkah persiapan yang bisa dilakukan bahkan sejak beberapa hari sebelum hari raya tiba.

Langkah pertama adalah mengatur pola makan sekitar tiga hingga tujuh hari sebelum Idul Adha. Persiapan ini penting agar sistem metabolisme dan pencernaan berada dalam kondisi optimal ketika nantinya harus memproses asupan protein dan lemak dalam jumlah lebih besar.

Masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi sayur, buah, dan makanan tinggi serat. Serat membantu memperlancar sistem pencernaan sekaligus menjaga keseimbangan bakteri baik dalam usus. Selain itu, serat juga membantu tubuh mengontrol kadar kolesterol dan gula darah.

Para ahli gizi menyebut pola makan tinggi serat dapat membantu mengurangi efek “kaget” pada sistem pencernaan ketika tubuh mulai menerima makanan tinggi lemak selama Idul Adha. Karena itu, konsumsi sayuran hijau, pepaya, apel, pisang, oat, kacang-kacangan, dan biji-bijian dianjurkan mulai ditingkatkan menjelang hari raya.

Selain memperbanyak serat, masyarakat juga diminta mengurangi konsumsi gorengan, makanan ultraproses, makanan tinggi gula, serta sajian bersantan sebelum Idul Adha. Pengurangan ini bertujuan mengurangi beban metabolisme sehingga tubuh lebih siap ketika pola makan berubah saat perayaan berlangsung.

Untuk memenuhi kebutuhan protein harian sebelum Idul Adha, masyarakat dapat memilih sumber protein yang lebih ringan seperti ikan, tahu, tempe, telur, atau dada ayam tanpa kulit. Pola makan yang lebih seimbang membantu menjaga kesehatan saluran cerna dan mengurangi risiko lonjakan kolesterol.

Banyak Minum Air Putih

Selain pola makan, hidrasi tubuh juga menjadi faktor penting yang sering diabaikan masyarakat. Padahal, kecukupan cairan sangat membantu tubuh dalam proses metabolisme makanan, termasuk mencerna protein dan lemak.

Para dokter mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu haus untuk minum. Tubuh yang kekurangan cairan cenderung lebih mudah mengalami gangguan pencernaan, sembelit, hingga rasa lemas setelah mengonsumsi makanan berat.

Air putih membantu proses distribusi nutrisi sekaligus mendukung kerja ginjal dalam membuang zat sisa metabolisme protein. Ketika konsumsi daging meningkat, kebutuhan cairan tubuh biasanya ikut meningkat.

Karena itu, masyarakat disarankan membiasakan minum air putih minimal dua liter per hari menjelang dan selama Idul Adha. Sebaliknya, konsumsi minuman tinggi gula, kopi berlebihan, soda, maupun minuman energi sebaiknya dibatasi.

Menurut sejumlah studi kesehatan yang dikutip media internasional seperti Healthline dan WebMD, konsumsi gula berlebih bersamaan dengan makanan tinggi lemak dapat memperburuk inflamasi dalam tubuh dan meningkatkan risiko lonjakan trigliserida.

Aktif Bergerak

Persiapan lain yang tidak kalah penting adalah menjaga tubuh tetap aktif bergerak. Banyak orang menganggap olahraga menjelang Idul Adha tidak terlalu penting karena fokus pada persiapan hari raya. Padahal aktivitas fisik ringan justru membantu tubuh menghadapi perubahan pola makan.

Olahraga ringan seperti jalan kaki pagi, stretching, yoga, atau bersepeda selama 20–30 menit per hari membantu menjaga metabolisme tubuh tetap aktif. Aktivitas fisik juga membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan memperbaiki metabolisme lemak.

Selain itu, tubuh yang aktif bergerak cenderung lebih siap membakar kalori berlebih dari makanan tinggi lemak yang dikonsumsi selama Idul Adha. Aktivitas fisik juga membantu memperbaiki kualitas tidur dan menjaga suasana hati tetap stabil.

Organisasi kesehatan dunia World Health Organization (WHO) menyebut aktivitas fisik rutin dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, hipertensi, dan obesitas. Bahkan aktivitas ringan seperti berjalan kaki secara konsisten sudah memberi manfaat signifikan bagi kesehatan metabolik.
Selain pola makan dan olahraga, kualitas tidur juga menjadi faktor penting yang sering diabaikan menjelang hari raya.

Jaga Kualitas Tidur

Kesibukan mempersiapkan kebutuhan Idul Adha sering membuat waktu tidur berkurang drastis.
Kurang tidur diketahui dapat mengganggu keseimbangan hormon tubuh, meningkatkan rasa lapar, dan memperburuk metabolisme gula maupun lemak. Kondisi tersebut membuat tubuh lebih rentan mengalami kelelahan setelah mengonsumsi makanan berat.

Karena itu, masyarakat dianjurkan tetap menjaga kualitas tidur sekitar tujuh hingga delapan jam per hari. Tidur yang cukup membantu proses pemulihan tubuh dan menjaga daya tahan tetap optimal.

Dalam sejumlah penelitian kesehatan, kurang tidur juga dikaitkan dengan peningkatan hormon ghrelin yang memicu rasa lapar serta penurunan hormon leptin yang berfungsi memberi rasa kenyang. Akibatnya, seseorang lebih mudah makan berlebihan ketika kurang tidur.

Dalam konteks budaya Indonesia, Idul Adha memang bukan sekadar momentum menikmati makanan lezat. Hari raya ini memiliki nilai sosial dan spiritual yang sangat kuat. Tradisi berbagi daging kurban mencerminkan semangat solidaritas, kepedulian sosial, dan kebersamaan antarmasyarakat. Dengan persiapan yang tepat, masyarakat tetap dapat menikmati seluruh sajian khas hari raya tanpa harus mengorbankan kondisi tubuh dan kesehatan jangka panjang.(ist/dya)

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.