14 May 2026

Get In Touch

Mood Naik Turun saat Menstruasi, Ini Batas Normal Menurut Psikiater

Mood Naik Turun saat Menstruasi, Ini Batas Normal Menurut Psikiater

SURABAYA ( LENTERA ) - Menstruasi tidak hanya ditandai dengan kram perut atau rasa tidak nyaman pada tubuh, tetapi juga kerap disertai perubahan suasana hati.
Sejumlah perempuan dapat mengalami peningkatan sensitivitas emosional, seperti mudah tersinggung, lebih cepat marah, mudah menangis, atau justru merasa lelah dan cenderung menarik diri dari lingkungan sekitar. Kondisi ini umumnya dipandang sebagai hal yang lazim terjadi selama periode tersebut.
Perubahan emosi saat menstruasi memang dapat menjadi bagian alami dari siklus tubuh perempuan. Namun, ketika keluhan yang muncul terasa berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.

Psikiater Elvine Gunawan menjelaskan bahwa perubahan suasana hati selama menstruasi berkaitan erat dengan fluktuasi hormon di dalam tubuh. Ia menyebutkan, hormon estrogen dan progesteron memiliki pengaruh besar terhadap kondisi emosional.

Menurutnya, estrogen berperan dalam memengaruhi zat kimia otak seperti serotonin dan dopamin, yang berkaitan langsung dengan suasana hati seseorang.

Pada fase awal menstruasi, sebagian perempuan juga dapat merasakan peningkatan sensitivitas emosional. Respons terhadap hal-hal kecil pun bisa berbeda dari biasanya, bahkan terasa lebih mengganggu.

Elvine menambahkan, pada periode tersebut seseorang bisa menjadi lebih peka terhadap ekspresi orang lain, sehingga situasi yang sebelumnya dianggap biasa dapat memicu reaksi emosional yang lebih kuat.

Pengalaman menstruasi sendiri tidak bersifat seragam pada setiap individu. Penyanyi dan aktris Maudy Ayunda mengungkapkan bahwa perubahan emosi yang ia rasakan tidak selalu berupa suasana hati yang buruk.

Ia menggambarkan, kondisi tersebut bisa membuat seseorang menjadi lebih sensitif sekaligus lebih mudah terharu. Perasaan bahagia dapat terasa lebih intens hingga menimbulkan tangisan, begitu pula saat sedih yang menjadi lebih mudah terbawa suasana.

Kapan perlu waspada?
Meski perubahan suasana hati saat menstruasi tergolong wajar, Elvine Gunawan mengingatkan adanya kondisi tertentu yang perlu diwaspadai, terutama bila gejalanya jauh lebih berat dibandingkan sindrom pramenstruasi (PMS) pada umumnya.

Salah satu kondisi tersebut adalah Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD), yakni gangguan yang ditandai dengan perubahan emosi yang ekstrem hingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Elvine menjelaskan, tanda-tanda yang patut diperhatikan antara lain perasaan sedih yang menyerupai depresi, keengganan untuk beraktivitas atau keluar kamar, hingga hilangnya energi secara signifikan. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat mengarah pada PMDD dan memerlukan perhatian lebih lanjut.
Apabila kondisi tersebut terjadi secara berulang di setiap siklus dan mulai berdampak pada aktivitas sehari-hari, disarankan untuk segera mencari bantuan profesional.

Psikiater Elvine Gunawan menyarankan agar perempuan yang merasa tidak dalam kondisi baik saat menstruasi tidak ragu untuk berkonsultasi. 
Pemeriksaan dapat diawali ke dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn) untuk mengevaluasi kondisi hormon, kemudian dilanjutkan ke psikiater guna memastikan apakah gejala yang dialami masih dalam batas wajar atau sudah mengarah pada gangguan tertentu.

Ia menegaskan, tidak semua perubahan emosi saat menstruasi dapat dianggap normal, terutama jika intensitasnya sudah berlebihan.
Selain itu, perubahan cara pandang terhadap menstruasi juga dinilai penting. Stigma yang menganggap menstruasi sebagai hal tabu justru dapat membuat perempuan enggan mencari pertolongan. Padahal, menstruasi merupakan proses biologis yang dialami secara alami dan bukan sesuatu yang perlu disembunyikan.

Dukungan dari lingkungan sekitar turut berperan besar. Sikap sederhana seperti menanyakan kebutuhan atau sekadar mendengarkan keluhan dapat membantu perempuan merasa lebih dipahami.

Elvine juga menambahkan, kondisi fisik dan mental selama menstruasi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor hormonal, tetapi juga gaya hidup sehari-hari. 
Pola olahraga yang teratur, asupan makanan bergizi, serta waktu istirahat yang cukup dinilai berkontribusi dalam membantu menjalani fase tersebut dengan lebih baik.

Pada akhirnya, meski menstruasi merupakan bagian alami dari tubuh perempuan, keluhan yang dirasakan tidak seharusnya dihadapi sendiri apabila sudah terasa berlebihan. 

Mengenali batas antara kondisi yang masih wajar dan yang memerlukan bantuan profesional menjadi langkah penting agar perempuan dapat lebih memahami tubuhnya tanpa merasa harus selalu kuat sendirian. (Ella- mahasiswa UINSA, berkontribusi dalam tulisan)
 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.