14 April 2026

Get In Touch

Airlangga Klaim Ekonomi RI Tangguh, Tumbuh 5,11 Persen di Tengah Tekanan Global

Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (foto: Ist/Ant)
Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (foto: Ist/Ant)

JAKARTA (Lentera) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengklaim ekonomi Indonesia tetap tangguh di tengah tekanan global, bahkan tumbuh di angka 5,11 persen.

"Pertumbuhan ekonomi kita tetap kuat, didukung oleh konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, mengutip Antara, Selasa (14/4/2026).

Airlangga bahkan menyebut capaian ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan performa terbaik di kelompok Group of Twenty (G20).

Berdasarkan proyeksi sejumlah lembaga internasional seperti International Monetary Fund, Organisation for Economic Co-operation and Development, dan World Bank, pertumbuhan ekonomi global hanya berada di kisaran 2,6 hingga 3,3 persen. Di tengah situasi tersebut, Indonesia mampu mencatat pertumbuhan sebesar 5,11 persen pada 2025.

Konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung ekonomi dengan kontribusi mencapai 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Tingginya aktivitas konsumsi tercermin dari Mandiri Spending Index yang bertahan di level 360,7.

Di sektor pangan, produksi beras nasional mendekati 34,7 juta ton. Cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog bahkan hampir menyentuh 4,6 juta ton, menjadi salah satu yang terbesar sepanjang sejarah.

Sementara itu, sektor energi juga menunjukkan penguatan. Pemerintah terus mendorong kemandirian energi melalui program B50 dan mencatat surplus energi sebesar 4,84 juta kiloliter.

Memasuki 2026, optimisme pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. Airlangga memproyeksikan pertumbuhan tahun ini berada di atas 5,3 persen, dengan capaian kuartal I diperkirakan menyentuh 5,5 persen.

"Memasuki triwulan II, ekonomi kita masih kuat. Inflasi terkendali, neraca perdagangan surplus selama 70 bulan berturut-turut, dan kepercayaan konsumen tetap tinggi," jelasnya.

Kinerja sektor manufaktur juga masih berada di zona ekspansi dengan indeks PMI sebesar 50,1. Di saat yang sama, cadangan devisa Indonesia tercatat mencapai 148,2 miliar dolar AS, memperkuat daya tahan terhadap gejolak eksternal.

Dari sisi perdagangan, peningkatan ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, tembaga, dan aluminium yang mencapai 47 miliar dolar AS turut menjadi bantalan ekonomi, terutama saat sektor migas mengalami tekanan.

Peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga tetap strategis sebagai penopang ekonomi. Pemerintah menggelontorkan stimulus senilai Rp11,92 triliun, mencakup bantuan pangan, subsidi energi, hingga insentif transportasi.

Defisit APBN pun tetap terkendali di level 0,93 persen terhadap PDB per Maret 2026.

Di sisi lain, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional terus meningkat. Sepanjang 2025, nilainya mencapai 25,6 miliar dolar AS atau dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, termasuk melalui implementasi QRIS lintas negara di kawasan Asia.

Indikator sosial turut menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25 persen, pengangguran berada di level 4,7 persen, dan rasio gini menurun menjadi 0,363. Sementara itu, realisasi investasi sepanjang 2025 berhasil menyerap 2,71 juta tenaga kerja baru.

Dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang, pemerintah juga terus mempercepat program hilirisasi yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto.

Sepanjang 2025, investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun atau sekitar 36,5 miliar dolar AS, tumbuh 43,3 persen secara tahunan dan berkontribusi 30,2 persen terhadap total investasi nasional.

Di tingkat global, Indonesia juga mencatat kemajuan kerja sama ekonomi dengan berbagai mitra, termasuk Uni Eropa, Kanada, dan kawasan Eurasia.

Dalam kesempatannya, Airlangga menegaskan subsidi energi tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga menyiapkan cadangan fiskal guna mengantisipasi fluktuasi harga minyak global.

Sementara itu, investasi asing langsung (FDI) terus menunjukkan tren positif, terutama pada sektor strategis seperti energi, semikonduktor, dan pusat data.

"Indonesia memiliki populasi lebih dari 280 juta jiwa. Saya pikir digital adalah salah satu hal yang masih menarik bagi sebagian besar investor, terutama dengan AI, komputasi kuantum, mereka membutuhkan lebih banyak pusat data,” pungkasnya.

Editor: Santi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.