15 April 2026

Get In Touch

Ancaman Blokade Selat Hormuz, Industri Plastik RI Putar Otak Cari Pasokan Baru

Sekjend Asosiasi Inaplas, Fajar Budiono. (foto: Ist)
Sekjend Asosiasi Inaplas, Fajar Budiono. (foto: Ist)

JAKARTA (Lentera) - Ancaman blokade Selat Hormuz mulai mendorong industri plastik nasional untuk memutar otak mencari sumber pasokan nafta baru dari luar kawasan Timur Tengah.

"Memang itu adalah sesuatu yang kita khawatirkan paling serius. Dengan potensi penutupan itu, artinya situasi ini bisa berlangsung lebih lama dari yang kita perkirakan," ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, mengutip Bloomberg, Selasa (14/4/2026).

Nafta sendiri merupakan bahan baku utama industri petrokimia, khususnya dalam produksi olefin yang menjadi dasar berbagai produk plastik.

Fajar menjelaskan, meskipun pasokan alternatif dari Amerika Serikat sudah mulai didapatkan, tantangan utama saat ini adalah waktu pengiriman yang lebih panjang dibandingkan pasokan dari Timur Tengah.

"Artinya mau tidak mau kita fokus ke skenario alternatif, yaitu mendapatkan sumber nafta dari wilayah lain. Kebetulan sudah ada dari Amerika, tapi tantangannya di waktu pengiriman," katanya.

Di sisi lain, ancaman blokade Selat Hormuz berpotensi memperketat pasokan global. Kondisi ini diperparah dengan terbatasnya armada kapal, lantaran sebagian masih tertahan di kawasan konflik.

Sebagai langkah lanjutan, Inaplas juga mulai mengkaji penggunaan bahan baku substitusi selain nafta, yakni kondensat dan Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Fajar menyebutkan, Indonesia sebenarnya memiliki potensi kondensat dalam negeri yang dapat dimanfaatkan, meskipun masih memerlukan pemetaan lebih lanjut terkait ketersediaan dan kesesuaian spesifikasi.

"Kondensat itu sebenarnya ada di dalam negeri, tapi perlu dihitung dan didiskusikan dengan pemerintah. Terutama untuk jenis light condensate seperti yang dimiliki Donggi Senoro, itu harus dipetakan lokasinya, jumlahnya, dan kapan bisa digunakan sebagai substitusi," jelasnya.

Di tengah upaya industri mencari solusi, situasi geopolitik justru semakin memanas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya menyatakan akan memulai blokade angkatan laut penuh terhadap Selat Hormuz.

Pernyataan tersebut muncul setelah kegagalan perundingan antara AS dan Iran, yang berlangsung di Islamabad, Pakistan. 

Trump bahkan menegaskan Angkatan Laut AS akan mencegat kapal yang mencoba melintasi selat tersebut, terutama yang terkait dengan pembayaran kepada Iran untuk jalur aman.

Editor: Santi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.