14 April 2026

Get In Touch

Adu Gizi di Balik Gurihnya 'Duo Kedelai'

Adu Gizi di Balik Gurihnya 'Duo Kedelai'

SURABAYA ( LENTERA ) - Di tengah bayang-bayang lonjakan harga kedelai impor yang kini menembus angka Rp10.500 hingga Rp11.000 per kilogram, para perajin tahu dan tempe kembali dipaksa memutar otak.

Ketegangan global dan gangguan rantai pasok memang sedang menekan piring nasi kita, namun pesona tahu dan tempe sebagai "penyelamat" gizi keluarga tak pernah luntur.

Keduanya tetap menjadi primadona protein nabati, meski kini hadir dengan irisan yang mungkin sedikit lebih tipis di pasar-pasar tradisional. Di balik kemelut harga tersebut, tersimpan perdebatan klasik, mana yang sebenarnya lebih "sakti" bagi kesehatan?

Meski lahir dari rahim yang sama--biji kedelai--perjalanan keduanya menuju piring kita sangat berbeda. Tahu ibarat hasil penyaringan yang halus, sementara tempe adalah buah dari kesabaran proses fermentasi.

Proses: Halus vs Utuh
Tahu lahir dari sari kedelai yang digiling, disaring, lalu digumpalkan hingga teksturnya lembut dan "berair". Sebaliknya, tempe mempertahankan keutuhan biji kedelai yang direbus dan dipeluk oleh ragi Rhizopus.

Dalam proses satu-dua hari, jamur ini bekerja dalam diam, memecah senyawa kompleks kedelai agar lebih ramah bagi pencernaan manusia. Inilah yang membuat tempe punya karakter rasa dan tekstur yang lebih padat dibandingkan saudaranya yang lembut.

Menakar Isi Piring

Merujuk pada Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI), tempe tampak lebih "berisi" dalam urusan nutrisi makro. Dalam takaran 100 gram, tempe menyumbang sekitar 20,8 gram protein, hampir dua kali lipat dari tahu yang mengandung 10,9 gram. Perbedaan mencolok ini terjadi karena tahu memiliki kadar air yang jauh lebih tinggi.

Bagi mereka yang membutuhkan asupan serat dan energi, tempe kembali unggul. Dengan energi sebesar 201 kkal dan serat yang tetap terjaga karena bijinya utuh, tempe menjadi sumber tenaga yang solid. Tahu, dengan 80 kkal, lebih ringan dan cocok bagi mereka yang sedang menjaga asupan kalori namun tetap butuh protein.

Lebih dari Sekadar Kenyang

Keunggulan tempe tak berhenti di angka. Proses fermentasinya melahirkan senyawa bioaktif yang membantu tubuh menyerap mineral seperti zat besi dan seng dengan lebih optimal. Penelitian tahun 2021 bahkan menyebut produk kedelai fermentasi mampu menjaga kesehatan metabolik, termasuk mengontrol kolesterol.

Namun, tahu jangan dianggap remeh. Teksturnya yang lembut adalah kawan bagi semua usia, dari balita hingga lansia. Selain itu, kandungan isoflavon dalam keduanya tetap menjadi benteng pertahanan bagi kesehatan jantung dan keseimbangan hormon.

Seni Mengolah Manfaat

Ahli gizi mengingatkan bahwa cara masak adalah kunci. Menggoreng--cara favorit kita semua--memang nikmat, tapi rendaman minyak bisa menambah lemak jenuh. Mengukus, memepes, atau menumis dengan sedikit minyak jauh lebih bijak untuk mempertahankan kualitas nutrisi si "Duo Kedelai" ini.

Secara kepadatan gizi, tempe memang sedikit memimpin di depan. Namun, bukan berarti tahu adalah pilihan kedua. Keduanya adalah tim yang saling melengkapi. Mengonsumsi mereka secara bergantian bukan hanya soal variasi rasa, tapi soal memberikan tubuh spektrum nutrisi yang lengkap tanpa harus menguras kantong terlalu dalam.

Pada akhirnya, mau tahu atau tempe, keduanya tetaplah "superfood" asli Indonesia yang patut kita jaga keberadaannya.(ist/dya)

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.