09 April 2026

Get In Touch

Angin Jadi Tantangan, Kebakaran Hanguskan 10 Hektare Lahan Gambut di Ogan Ilir

Petugas memadamkan api yang melanda lahan gambut di Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. (foto:ist/Ant)
Petugas memadamkan api yang melanda lahan gambut di Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. (foto:ist/Ant)

JAKARTA (Lentera) - Lahan gambut seluas 10 hektare di wilayah Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, dilaporkan hangus terbakar dalam insiden yang berlangsung sejak Selasa (7/4/2026). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti faktor angin kencang dan sulitnya akses wilayah sebagai tantangan utama dalam proses pemadaman.

"Api berhasil dipadamkan pada Rabu melalui upaya penyiraman darat. Total lahan yang terbakar mencapai 10 hektare," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangan resminya di Jakarta, melansir Antara, Kamis (9/4/2026).

Proses pemadaman melibatkan berbagai unsur, mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pemadam Kebakaran, Manggala Agni, hingga personel TNI dan Polri. Mereka bekerja secara terpadu untuk mengendalikan api agar tidak meluas ke wilayah lain.

Meski berhasil dipadamkan dalam waktu kurang dari 48 jam, upaya tersebut tidak berjalan mudah. Kondisi angin kencang serta luasnya area terdampak menjadi kendala utama di lapangan.

Selain itu, karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan turut memperbesar risiko penyebaran api, terutama jika tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Kabupaten Ogan Ilir sendiri diketahui sebagai salah satu wilayah rawan karhutla di Sumatera Selatan. Berdasarkan data BPBD provinsi, daerah ini masuk dalam daftar 12 kabupaten/kota dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Kepala Pelaksana BPBD Sumatera Selatan, Iqbal Alisyahbana, menyatakan pihaknya tengah mempersiapkan penetapan status siaga karhutla.

Status siaga tersebut dinilai penting sebagai dasar untuk memperkuat kapasitas penanganan, termasuk dalam pengajuan dukungan sarana dan prasarana.

Salah satu kebutuhan yang diusulkan adalah penambahan 10 unit helikopter guna mendukung operasi pemadaman, khususnya di wilayah yang sulit dijangkau oleh jalur darat.

Menurut Iqbal, keberadaan helikopter sangat krusial untuk mempercepat proses pemantauan sekaligus pemadaman dari udara, sehingga potensi perluasan kebakaran dapat ditekan sejak dini.

Namun demikian, ia menegaskan jumlah helikopter yang diajukan masih bersifat fleksibel dan akan disesuaikan dengan kondisi lapangan serta mempertimbangkan efisiensi anggaran pemerintah.

"Termasuk juga melihat efisiensi anggaran dari pemerintah. Tapi nantinya akan melihat kondisi karhutla," kata Iqbal.

Editor:Santi,ist

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.