09 April 2026

Get In Touch

Cuaca Ekstrem Picu Tanah Gerak di Dampit Malang, Satu Keluarga Mengungsi

Retakan tanah akibat tanah gerak imbas cuaca ekstrem di wilayah Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. (foto:BPBD Kabupaten Malang)
Retakan tanah akibat tanah gerak imbas cuaca ekstrem di wilayah Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. (foto:BPBD Kabupaten Malang)

MALANG (Lentera) - Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, memicu terjadinya tanah gerak di Dusun Sukorejo, Desa Srimulyo, Rabu (8/4/2026) petang. Dampak dari kejadian tersebut, satu keluarga terpaksa mengungsi setelah rumah mereka mengalami retakan tanah dan kerusakan pada bagian atap akibat.

"Terpantau hujan dengan intensitas sedang hingga deras disertai angin. Dampaknya, terjadi tanah retak dan di sebagian atap rumah warga terbawa angin," ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, dalam laporan resminya, Kamis (9/4/2026).

Disebutkannya, rumah yang terdampak diketahui milik seorang warga setempat yang dihuni oleh satu kepala keluarga dengan total 4 jiwa. Retakan tanah dilaporkan muncul di bagian ruang tamu, sementara bagian atap rumah mengalami kerusakan cukup signifikan.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, Sadoni mengatakan kondisi tersebut memaksa penghuni rumah untuk mengungsi ke rumah kerabat terdekat.

"Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi, mengingat lokasi retakan tanah berada dekat dengan tebing di belakang rumah yang berpotensi longsor," katanya.

BPBD Kabupaten Malang memperkirakan total kerugian akibat kejadian ini mencapai sekitar Rp20 juta. Kerusakan utama meliputi bagian atap rumah dan struktur tanah yang mengalami pergerakan.

Setelah menerima laporan dari Poslap Tirtoyudo pada Kamis (9/4/2026) sekitar pukul 11.57 WIB, Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD langsung melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk penanganan awal.

Tim Poslap Tirtoyudo kemudian diterjunkan ke lokasi sekitar pukul 12.00 WIB guna melakukan pendataan serta langkah penanganan darurat. Penanganan awal juga melibatkan unsur pemerintah desa, relawan, serta masyarakat setempat.

Saat ini, kata Sadono, kondisi atap rumah telah diperbaiki sementara melalui kerja bakti warga. Namun demikian, potensi bencana lanjutan masih menjadi perhatian utama, terutama risiko longsor akibat retakan tanah yang berada di dekat tebing.

Hingga kini, pihak terkait masih terus memantau perkembangan situasi di lokasi kejadian guna mengantisipasi potensi risiko lanjutan.

Reporter:Santi Wahyu/Editor:Santi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.