SURABAYA (Lentera) - Panitia Khusus (Pansus) BUMD DPRD Jawa Timur tengah mempercepat penyusunan rekomendasi strategis untuk memperkuat kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebelum diserahkan kepada pihak eksekutif.
Ketua Pansus BUMD DPRD Jatim, Agung Mulyono, menegaskan bahwa seluruh rekomendasi dirumuskan melalui kajian komprehensif selama proses pembahasan berlangsung.
“Rekomendasi ini hasil kajian dan pencermatan kami selama proses perjalanan Pansus BUMD. Kita ingin hasilnya benar-benar matang,” ungkapnya, Kamis (01/03/2026).
Dalam penyusunannya, Pansus tidak hanya mengkaji kondisi BUMD di Jawa Timur, tetapi juga melakukan studi komparatif ke sejumlah daerah, seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan DI Yogyakarta. Langkah ini dilakukan untuk mengambil praktik terbaik sekaligus menghindari kesalahan yang sama.
“Kita bandingkan dengan daerah lain. Mana yang bagus kita ambil, yang tidak bagus kita tinggalkan. Prinsipnya ATM, amati, tiru, modifikasi,” paparnya.
Agung menjelaskan, indikator penilaian yang digunakan mencakup berbagai aspek, mulai dari kualitas sumber daya manusia (SDM), sistem pengelolaan, hingga kondisi keuangan masing-masing BUMD guna mengukur kinerja secara objektif.
“Ukurannya jelas, dari SDM, manajemen, sampai keuangan. Dari situ akan terlihat mana yang perform, mana yang tidak,” tegasnya.
Ia mengakui pembahasan sempat terkendala waktu akibat momentum Ramadan dan Lebaran. Meski demikian, Pansus tetap optimistis penyusunan rekomendasi berjalan sesuai jadwal.
“Mudah-mudahan Mei bisa selesai sesuai jalur, sesuai jadwal. Kalau belum, akan kita lanjutkan. Yang penting on the track dan sesuai aturan,” katanya.
Menurutnya, kondisi BUMD di setiap provinsi memiliki dinamika berbeda, di mana sebagian mampu bertahan dan berkontribusi positif, sementara lainnya mengalami kerugian.
“Semua provinsi punya BUMD. Ada yang survive, ada yang merugi. Itu nanti kita kaji dan tuangkan dalam rekomendasi,” ujarnya.
Ia memastikan rekomendasi yang dihasilkan tidak disusun secara tergesa-gesa agar tepat sasaran dan tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.
“Kita godok betul supaya tidak salah arah. Ini harus jadi rekomendasi yang matang dan berkualitas,” pungkasnya.
Reporter: Pradhita|Editor: Arifin BH




.jpg)
