02 April 2026

Get In Touch

Busana Khas Kota Malang Resmi Diperkenalkan di Upacara Hari Jadi ke 112

Launching busana khas Kota Malang di Upacara Hari Jadi ke 112, Balai Kota Malang, Rabu (1/4/2026). (Santi/Lentera)
Launching busana khas Kota Malang di Upacara Hari Jadi ke 112, Balai Kota Malang, Rabu (1/4/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang resmi memperkenalkan busana khas daerah dalam momentum Hari Jadi ke-112 Kota Malang.

Busana tersebut tidak hanya menjadi simbol visual, tetapi juga merepresentasikan perjalanan panjang sejarah dan karakter Kota Malang yang tangguh, adaptif, dan kreatif.

"Hari jadi ke 112 ini mengusung tema 'Ngalam Melintas, Bergerak Tuntas, mBois Berkelas'. Perjalanan usia baru ini semuanya telah membentuk karakter kota ini menjadi kota yang tangguh, adaptif, dan penuh daya cipta," ujar Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat ditemui usai Upacara Hari Jadi ke 112 di Balai Kota Malang, Rabu (1/4/2026).

Menurutnya, penguatan jati diri kota perlu diwujudkan melalui simbol-simbol budaya yang tidak hanya merefleksikan sejarah, tetapi juga mampu membentuk karakter khas masyarakat Kota Malang. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah melalui perancangan busana khas daerah.

Sejumlah unsur ikonik diangkat dalam desain busana tersebut, seperti Tugu Malang, bunga teratai, serta motif batik kawung yang dimodifikasi dari bentuk biji kopi pecah. "Busana ini menjadi simbol harmoni antara sejarah dan identitas lokal Kota Malang," jelas Wahyu.

Lebih lanjut, Wahyu menyampaikan busana khas tersebut akan digunakan dalam berbagai kegiatan resmi, terutama upacara-upacara tertentu di lingkungan Pemerintah Kota Malang. Tidak hanya jajaran eksekutif, penggunaan busana ini juga akan melibatkan unsur legislatif.

Selain untuk kegiatan pemerintahan, busana khas ini juga direncanakan akan dikenakan dalam berbagai event strategis yang digelar di Kota Malang sebagai bentuk promosi identitas budaya daerah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Suwarjana, mengungkapkan desain busana tersebut terinspirasi dari tokoh sejarah Malang, yakni Raden Adipati Aryo Suryo Adiningrat atau Raden Syarif, yang menjabat sebagai Bupati Malang pada periode 1898 hingga 1934.

Secara detail, busana khas Kota Malang terdiri dari atasan berupa jas berkerah v-neck berwarna hitam yang dipadukan dengan kemeja putih berkerah dan dasi panjang. Untuk bawahan, digunakan celana panjang hitam yang memberikan kesan formal sekaligus elegan.

Ciri khas lainnya terletak pada penggunaan kain atau simpul batik bermotif Tugu Pecah Kopi yang dikenakan di atas lutut hingga sebatas paha. Motif tersebut menjadi elemen penting yang merepresentasikan kekhasan Kota Malang.

Selain itu, penutup kepala menggunakan topi pet yang dikombinasikan dengan udeng bermotif serupa, yakni Tugu Pecah Kopi. Sementara alas kaki yang digunakan adalah sepatu pantofel berbahan kulit berwarna hitam untuk memperkuat kesan klasik dan formal.

Suwarjana menjelaskan, motif batik Tugu Pecah Kopi merupakan hasil pengembangan dari motif batik kawung yang ditemukan pada sejumlah ornamen patung di era Kerajaan Singasari. Motif tersebut kemudian dipadukan dengan unsur kopi dan ikon Tugu Malang.

"Motif ini merupakan perpaduan antara warisan budaya Singasari dengan identitas khas Malang sebagai daerah penghasil kopi," jelasnya.

Santi Wahyu

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.