23 March 2026

Get In Touch

Iran Balas Ancaman AS: Ratakan Fasilitas Energi Timteng, Tutup Total Selat Hormuz 

Ilustrasi
Ilustrasi

JAKARTA (Lentera)-Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melontarkan ancaman balasan berupa serangan terhadap fasilitas energi di wilayah tersebut jika Amerika Serikat dan Israel benar-benar menyerang pembangkit listrik milik Teheran.

Mengutip laporan Al Jazeera, Senin (23/3/2026), peringatan itu disampaikan oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menargetkan infrastruktur listrik Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.

Ghalibaf menegaskan, setiap serangan terhadap fasilitas Iran akan memicu respons yang meluas di kawasan. Ia menyebut berbagai infrastruktur vital, khususnya sektor energi di Timur Tengah, berpotensi menjadi sasaran serangan balasan. Selain itu, ia juga mengingatkan potensi kenaikan harga minyak dalam jangka panjang akibat eskalasi konflik.

“Segera setelah pembangkit listrik dan infrastruktur di negara kami menjadi sasaran, maka infrastruktur vital serta energi di seluruh kawasan akan dianggap sebagai target yang sah,” ujarnya.

Ancaman tersebut muncul di tengah memanasnya situasi di Selat Hormuz. Iran sebelumnya disebut telah memblokade jalur strategis itu setelah serangan AS dan Israel pada 28 Februari. Namun pemerintah Iran menegaskan bahwa jalur pelayaran tersebut tetap terbuka, kecuali bagi negara yang dianggap memusuhi mereka.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Selat Hormuz masih dapat dilintasi oleh negara lain.

“Jalur ini terbuka untuk semua kecuali mereka yang melanggar wilayah kami,” katanya.

Pernyataan serupa juga disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang membantah bahwa negaranya menutup selat tersebut. Ia menjelaskan bahwa gangguan pelayaran yang terjadi lebih disebabkan meningkatnya risiko konflik.

Menurutnya, perusahaan pelayaran dan perusahaan asuransi menjadi lebih berhati-hati karena kondisi keamanan di kawasan yang terus memburuk.

Sementara itu, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) juga mengeluarkan peringatan keras. Pasukan elite Iran itu menyatakan siap menutup sepenuhnya Selat Hormuz jika ancaman serangan terhadap fasilitas energi Iran benar-benar direalisasikan.

IRGC bahkan menyebut fasilitas energi di negara yang menampung pangkalan militer AS berpotensi menjadi sasaran.

Di sisi lain, konflik yang telah memasuki pekan keempat tersebut terus meluas. Iran dilaporkan meluncurkan serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk Israel dan beberapa negara di kawasan, yang disebut menargetkan aset militer AS.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu juga menyerukan dukungan internasional untuk menghadapi Iran. Ia menuduh Teheran menargetkan warga sipil dan menyatakan bahwa negaranya membutuhkan keterlibatan global yang lebih luas.

Upaya diplomasi pun terus diupayakan. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan dilaporkan melakukan pembicaraan dengan sejumlah pihak, termasuk Iran, Mesir, Uni Eropa, dan Amerika Serikat, guna mencari jalan keluar untuk meredakan konflik.

Situasi di kawasan kini dinilai semakin tidak menentu, dengan potensi eskalasi yang dapat berdampak luas terhadap keamanan regional sekaligus stabilitas pasokan energi global.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika negara tersebut tidak membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.

Editor:Widyawati/ist

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.