JAKARTA (Lentera) - Harga daging sapi tercatat naik tajam di momen libur Lebaran 2026, lonjakan ini disinyalir dipicu meningkatnya harga sapi hidup impor terutama dari Australia.
Termasuk pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang memperbesar biaya impor dan menekan pelaku usaha dalam negeri.
"Kondisi feedlot dalam keadaan sulit karena harga sapi hidup di Australia cenderung naik. Ini membuat pelaku usaha cukup sulit menyusun business plan dalam kondisi yang tidak menentu," ujar Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) Djoni Liano, Minggu (22/3/2026).
Untuk diketahui, feedlot merupakan istilah industri penggemukan sapi. Di mana menurut Djoni, industri domestik saat ini berada dalam tekanan akibat kenaikan harga sapi hidup dari Australia.
Menurutnya, pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga memperburuk situasi, yakni secara langsung meningkatkan biaya impor sapi hidup.
Djoni menambahkan, beban pelaku usaha semakin bertambah seiring dengan kenaikan biaya transportasi serta harga bahan baku pakan. Kenaikan biaya operasional ini membuat margin usaha semakin tertekan.
Terlebih momentum Lebaran yang identik dengan peningkatan konsumsi daging sapi juga turut menjadi faktor pendorong kenaikan harga di pasar domestik.
Di sisi lain, daya beli masyarakat dinilai belum sepenuhnya pulih. Pertumbuhan ekonomi yang cenderung stagnan serta ketidakpastian global, termasuk dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, turut memengaruhi stabilitas pasar dalam negeri.
"Kombinasi faktor tersebut membuat harga sapi hidup dan volume impor akan menyesuaikan. Artinya, ada tekanan kenaikan harga yang sulit dihindari," jelasnya.
Lebih lanjut, berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) per Jumat (20/3/2026), mayoritas harga pangan di pasar tradisional mengalami kenaikan, termasuk daging sapi.
Harga daging sapi kualitas 1 tercatat naik 15,51 persen menjadi Rp168.650 per kilogram. Sementara itu, daging sapi kualitas 2 naik 16,99 persen menjadi Rp161.150 per kilogram.
Djoni memperkirakan tren kenaikan harga daging sapi masih akan berlanjut setidaknya hingga paruh pertama tahun 2026. Hal ini sejalan dengan kenaikan harga daging impor dari negara-negara eksportir yang menjadi acuan pasar domestik.
"Untuk kuartal I dan II, prediksi saya masih sama karena harga daging impor dari negara eksportir juga naik," katanya.
Secara struktural, pasar daging sapi Indonesia masih bergantung pada impor, baik dalam bentuk sapi hidup maupun daging beku. Ketergantungan ini membuat harga di dalam negeri sangat sensitif terhadap fluktuasi global, termasuk perubahan harga di negara asal dan pergerakan nilai tukar.
Editor:Santi/blo,ist



.jpg)
