14 March 2026

Get In Touch

Ekonomi AS Kian Lesu

Ilustrasi aktivitas ekonomi Amerika Serikat (Sumber: Bloomberg)
Ilustrasi aktivitas ekonomi Amerika Serikat (Sumber: Bloomberg)

SURABAYA (Lentera) - Kondisi ekonomi di Amerika Serikat (AS) tidak mengalami kenaikan atau lesu pada Januari lalu. Kondisi ini terlihat dari pengeluaran konsumen yang tercatat hampir tidak mengalami kenaikan, menyusul revisi pertumbuhan ekonomi akhir tahun lalu yang ternyata lebih lemah dari perkiraan semula. 

Berdasarkan data yang dirilis Jumat (13/3/2026), seperti laporan Bloombergtechnoz,  pengeluaran konsumen yang telah disesuaikan dengan inflasi hanya naik 0,1% dibandingkan Desember. Di sisi lain, indikator inflasi inti yang menjadi acuan Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) justru naik tajam sebesar 0,4%. 

Pemerintah juga memangkas estimasi awal pertumbuhan kuartal keempat hingga separuhnya, akibat dampak penutupan pemerintahan (government shutdown) terlama dalam sejarah, penurunan konsumsi, serta merosotnya angka ekspor.

Kondisi tersebut kini kian mengkhawatirkan. Angka penggajian (payrolls) anjlok pada Februari sementara pengangguran meningkat, memicu kembali kecemasan atas kesehatan pasar tenaga kerja. 

Kondisi itu diperparah dengan perang yang telah mendongkrak harga energi dan memukul sentimen rumah tangga dalam beberapa pekan terakhir, menurut survei terbaru dari University of Michigan.

"Konflik Timur Tengah kemungkinan besar akan meninggalkan dampak nyata pada ekonomi AS melalui harga energi yang lebih tinggi, kondisi keuangan yang mengetat, meningkatnya ketidakpastian sektor swasta, dan kembalinya tekanan pada rantai pasok," tulis ekonom EY-Parthenon, Gregory Daco dan Lydia Boussour, dalam catatan mereka.

Di pasar keuangan, indeks S&P 500 berbalik melemah setelah sempat menguat di awal perdagangan, sementara imbal hasil obligasi Treasury dua tahun bergerak lebih rendah.

Laporan dari Biro Analisis Ekonomi menunjukkan konsumen mulai mengerem belanja barang setelah musim liburan Januari, namun tetap mengeluarkan uang untuk layanan penting seperti kesehatan. Kelompok masyarakat kaya sejauh ini masih mampu mempertahankan level pengeluaran mereka, sementara kelompok berpenghasilan rendah mulai menghadapi tekanan finansial yang nyata.

"Layanan kesehatan, perumahan, dan asuransi adalah kategori belanja teratas pada Januari," kata Heather Long, kepala ekonom di Navy Federal Credit Union. "Namun tentu saja, semua data ini sekarang terasa seperti cerita lama (karena situasi perang)."

Pendapatan masyarakat, baik sebelum maupun setelah disesuaikan dengan inflasi, meningkat pada awal tahun, sebagian karena penyesuaian tahunan biaya hidup bagi penerima tunjangan Social Security. Tingkat tabungan melonjak paling besar dalam setahun, mengindikasikan sebagian rumah tangga memilih menyimpan tambahan pendapatan daripada membelanjakannya.

Pemerintahan Trump sebagian mengandalkan peningkatan pengembalian pajak untuk mendukung pertumbuhan ekonomi pada 2026. Namun, jika perang mendorong harga minyak bertahan di kisaran US$83 per barel atau lebih sepanjang tahun, keuntungan rata-rata rumah tangga dari pengembalian pajak tersebut bisa terhapus, menurut Anna Wong, kepala ekonom AS di Bloomberg Economics. Harga minyak Brent diperdagangkan sekitar US$100 per barel pada Jumat.

Kenaikan kuat inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE) pada Januari terutama didorong oleh kenaikan harga layanan. Ukuran inflasi layanan yang tidak memasukkan energi dan perumahan — salah satu indikator yang banyak diperhatikan — meningkat dengan salah satu laju tercepat dalam setahun.

Laporan tersebut menegaskan bahwa dua ukuran utama inflasi AS telah menunjukkan perbedaan tren dalam beberapa bulan terakhir. Inflasi inti PCE tercatat naik 3,1% pada Januari dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, tertinggi dalam hampir dua tahun.

Peritel mulai dari Walmart Inc hingga Home Depot Inc menyampaikan kekhawatiran terhadap ketahanan belanja konsumen di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar tenaga kerja yang rapuh. Perusahaan lain juga menyoroti potensi tekanan dari konflik di Timur Tengah. Tingginya biaya hidup yang terus bertahan juga diperkirakan menjadi isu utama bagi para pemilih dalam pemilu paruh waktu tahun ini. (*)


Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.