14 March 2026

Get In Touch

Harga Minyak Naik ke US$103/Barel, Tertinggi Sejak 2022

ilustrasi
ilustrasi

SURABAYA (Lentera) - Harga minyak dunia naik pada perdagangan Jumat (13/3/2026) sore dan menempatkan harga minyak di level tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan harga terjadi di tengah kekhawatiran penutupan Selat Hormuz akibat perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel belum juga mereda. 

Melansir CNN, harga kontrak minyak mentah Brent naik 2,67 persen dan ditutup di angka US$103,14 per barel. Sementara, minyak mentah AS naik 3,11 persen menjadi US$98,71 per barel. Sebelumnya, harga minyak mentah Brent sempat turun di bawah US$100 pada Jumat pagi, yakni US$99,75 per barel.

Harga minyak terus diperdagangkan hingga Sabtu (14/3/2026) sore nanti, namun harga 'penutupan' pada pukul 14.30 ET menjadi acuan untuk melacak pergerakan harian. Setelah perdagangan ditutup sore ini, perdagangan minyak akan dibuka kembali pada pukul 18.00 ET hari Minggu. 

Kenaikan harga terjadi karena kecemasan pasar terhadap Selat Hormuz, jalur vital yang menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Ketegangan di kawasan membuat kekhawatiran ini lebih dominan dibanding upaya menekan harga oleh badan energi internasional.

Pada Rabu (11/3/2026), International Energy Agency (IEA) menyetujui pelepasan cadangan minyak dalam jumlah bersejarah. Sehari kemudian, Amerika Serikat mengeluarkan izin sementara bagi sejumlah negara untuk membeli minyak Rusia yang sebelumnya terkena sanksi.

Sayangnya, keputusan tersebut belum cukup meredakan pasar. Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian, terutama setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel serta menyerang kapal-kapal di jalur tersebut sejak perang pecah 28 Februari lalu.

Situasi di kawasan semakin memanas setelah dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak diserang kapal bermuatan bahan peledak yang diduga berasal dari Iran. Seorang pejabat Irak mengatakan pelabuhan minyak negara tersebut bahkan menghentikan operasinya sepenuhnya.

Selain itu, Oman juga memindahkan seluruh kapal dari terminal ekspor minyak utamanya di Mina Al Fahal sebagai langkah pencegahan di tengah meningkatnya risiko keamanan.

Arab Saudi juga dilaporkan membayar biaya tambahan untuk mengalihkan rute tanker melalui Laut Merah dengan memanfaatkan pipa East-West guna menyalurkan minyak ke pasar global.

Sementara itu, Iran disebut masih mengizinkan satu hingga dua kapal tanker melintas setiap hari, terutama menuju China, untuk menjaga arus pendapatan dari ekspor minyak tetap berjalan. (*)


Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.