INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) tersungkur tajam pada perdagangan Rabu (28/1/2026), menandai salah satu guncangan terdalam pasar modal domestik dalam beberapa tahun terakhir. Tekanan jual yang meluas menyeret IHSG anjlok hingga 7,35 persen ke level 8.320,55 pada penutupan, setelah sempat jatuh lebih dari 8 persen. Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa menghentikan sementara (trading halt) perdagangan saham selama 30 menit. Aksi panik jual dipicu laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti lemahnya transparansi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Hal ini memantik arus keluar dana asing mencapai Rp 6,17 triliun (net sell) dan membuat hampir seluruh sektor saham tertekan.
Tekanan tersebut tercermin pada arus modal asing yang berbalik arah. Kondisi ini membalik posisi sepanjang tahun berjalan yang sebelumnya masih mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp 2,45 triliun, menjadi net sell kumulatif senilai Rp 3,7 triliun. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut ini sebagai cermin persoalan lama di bursa, mulai dari minimnya transparansi hingga praktik 'goreng-gorengan' saham. Meski menilai reaksi pasar berlebihan, Purbaya menegaskan pemerintah tak akan tinggal diam dan telah meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengonfrontasi BEI. Bahkan mengancam turun langsung sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan bila pembenahan tak menunjukkan hasil hingga akhir Maret. Di sisi lain, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menekankan pentingnya menindaklanjuti seluruh catatan MSCI demi menjaga kepercayaan investor global. Direktur Utama BEI Iman Rachman menegaskan langkah bursa menarik rem darurat demi menjaga perdagangan tetap teratur, wajar, dan efisien. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI https://lentera.co/upload/Epaper/29012026.pdf



.jpg)
.jpg)
.jpg)
