24 January 2026

Get In Touch

Bidik 4.000 UMKM Naik Kelas, Diskopindag Kota Malang Perluas Pendampingan

Ilustrasi: Salah satu produk UMKM kuliner Kota Malang. (Santi/Lentera)
Ilustrasi: Salah satu produk UMKM kuliner Kota Malang. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang membidik sebanyak 4.000 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat naik kelas pada 2026. Hal ini dilakukan dengan memperluas dan memperkuat pola pendampingan kepada para pelaku UMKM Kota Malang.

"Jumlah UMKM di Kota Malang itu sekitar 40 ribu. Nah per tahun 2026 ini kami mengupayakan agar 10 persen atau sekitar 4.000 UMKM bisa naik kelas," ujar Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, Jumat (23/1/2026).

Untuk mengejar target tersebut, Eko mengaku pihaknya akan memperluas dan memperkuat program pendampingan UMKM yang selama ini telah berjalan.

Meski secara konsep tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kata Eko, pendampingan pada 2026 akan dilakukan lebih intensif dan terfokus.

Dijelaskannya, cakupan pendampingan oleh tim pendamping direncanakan menyasar antara 50 hingga 100 UMKM. Pendampingan tersebut akan dilakukan secara lebih mendalam, tidak hanya sebatas pelatihan umum.

"Pendampingan akan kami perkuat, baik dari sisi intensitas maupun kualitas materinya. Tim pendamping kami tekankan agar lebih detail, khususnya dalam hal pengemasan produk dan strategi pemasaran," jelasnya.

Langkah penguatan pendampingan ini dilakukan sebagai bentuk evaluasi atas capaian UMKM naik kelas pada 2025 yang dinilai belum memenuhi target. Pada tahun lalu, menurutnya jumlah UMKM yang berhasil naik kelas masih berada di kisaran ratusan pelaku usaha.

Lebih lanjut, Eko menjelaskan UMKM dikategorikan naik kelas apabila menunjukkan peningkatan signifikan. Antara lain, dari sisi omzet tahunan, kelengkapan legalitas usaha, hingga peningkatan kualitas produk yang dihasilkan.

Aspek-aspek tersebut menurutnya menjadi indikator utama dalam proses penilaian Diskopindag. Selain mendorong UMKM naik kelas di tingkat lokal, Eko juga menargetkan peningkatan jumlah produk UMKM yang mampu menembus pasar ekspor.

"Ada beberapa negara yang sudah menjadi sasaran utama ekspor produk UMKM Kota Malang. Misalnya Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Selandia Baru. Jadi peluang pasar di negara-negara tersebut sudah cukup terbuka," kata Eko. 

Hingga akhir 2025 lalu, Eko menyebut sebanyak 95 UMKM asal Kota Malang telah berhasil menembus pasar internasional. Mayoritas produk ekspor tersebut didominasi oleh komoditas keripik, khususnya hasil olahan tempe.

Jika digabungkan dengan produk UMKM lainnya, seperti kriya, nilai ekspor produk UMKM asal Kota Malang diperkirakan mencapai sekitar Rp100 miliar. Angka tersebut menurutnya menunjukkan potensi besar sektor UMKM dalam mendukung perekonomian daerah.

"Di 2026 kami menargetkan jumlah produk UMKM yang ekspor bisa meningkat hingga 50 persen. Klinik ekspor akan dimaksimalkan karena pasarnya sudah terbuka dan kami juga memiliki kerja sama dengan mitra luar negeri," pungkas Eko. (*)


Reporter: Santi Wahyu
Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.