SURABAYA ( LENTERA ) - Aktris sekaligus penyanyi Indonesia, Aurelie Moeremans, membagikan pengalaman kelam dan traumatis yang pernah dialaminya saat berusia 15 tahun. Melalui buku berjudul Broken Strings, perempuan berusia 32 tahun itu memutuskan untuk tidak lagi bungkam dan berani menyuarakan kisah masa lalunya. Pada bagian awal buku tersebut, Aurelie mengisahkan pertemuannya dengan seorang pria yang ia samarkan dengan nama Bobby, yang saat itu berusia 29 tahun.
Pertemuan mereka di lokasi syuting iklan menjadi titik awal terjadinya praktik grooming. Aurelie mengungkapkan bahwa Bobby secara bertahap menjauhkan dirinya dari lingkungan dan kenyataan di sekitarnya. Pria dengan selisih usia lebih dari satu dekade itu bahkan mengatur cara berpakaian Aurelie serta membatasi interaksinya dengan orang lain dan dunia luar.
Broken Wings adalah sebuah catatan penyembuhan sekaligus peringatan bagi publik tentang bahaya laten grooming, dan manipulasi dalam hubungan. Namun, ap aitu grooming?
Grooming, juga disebut dengan child grooming, adalah proses manipulasi, yang mana seseorang membangun hubungan, rasa percaya, dan koneksi emosional dengan seorang anak. Tujuan child grooming adalah untuk memanipulasi, mengeksploitasi, atau melakukan kekerasan terhadap anak. Istilah ini sering berkaitan dengan tindakan pedofilia, yaitu ketertarikan seksual terhadap anak-anak di bawah umur. "Intinya sih ada intensi buruk tadi, intensi untuk memanipulasi atau untuk melakukan kekerasan seksual, juga eksploitasi terhadap anak," jelas Farraas Afiefah Muhdiar, M.Sc., M.Psi., Psikolog.
Menurut psikolog anak, remaja, dan keluarga, praktik child grooming umumnya tidak dilakukan secara terbuka atau melalui kekerasan fisik seperti penculikan. Pelaku justru memakai cara-cara halus, seperti memberi perhatian berlebih, menunjukkan kasih sayang, atau membangun suasana yang membuat anak merasa aman dan nyaman. Tujuannya adalah mendapatkan kepercayaan korban, sehingga anak sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang dikendalikan dan dimanipulasi.
Sebagai contoh, pelaku kerap mendekati korban lewat pesan singkat, menunjukkan perhatian yang berlebihan, memberi hadiah, sering melontarkan pujian, serta memberikan apresiasi. Setelah rasa percaya terbentuk, pelaku mulai mengajukan berbagai permintaan yang biasanya bermuatan seksual, seperti meminta foto pribadi hingga menggiring anak untuk melakukan tindakan seksual tertentu.
Beberapa alasan korban tertarik pada orang dewasa bisa disebabkan adanya rasa bangga ketika bisa menjalin hubungan dengan orang dewasa, terutama ketika orang tersebut sudah matang secara ekonomi dan pendidikan. Mereka memandang pasangan yang usianya lebih tua sebagai sosok yang memiliki kelebihan dibandingkan teman sebaya, seperti kondisi ekonomi yang lebih mapan, perhatian yang lebih besar, serta pengalaman hidup yang luas, sehingga menimbulkan rasa kagum.
Selanjutnya adalah mencari figur ayah, karena mungkin kurang hadir dalam kehidupan mereka. ketika perhatian itu datang dari pria dewasa, mereka dapat dengan mudah tergoda untuk menerima perhatian dari orang yang lebih dewasa.
Dampak grooming pada anak dapat mempengaruhi kesehatan mental mereka. Para korban umumnya menghadapi dampak kesehatan mental jangka panjang yang berat, seperti gangguan kecemasan, depresi, stres pascatrauma, hingga munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup. Jika korban dipaksa membuat konten bersifat intim, perasaan malu yang mendalam sering muncul, disertai kecenderungan menyalahkan diri sendiri atas kekerasan atau pelecehan yang dialaminya.
Farraas menyampaikan bahwa praktik child grooming sering kali sulit dikenali, terutama ketika hubungan komunikasi antara orang tua dan anak tidak berjalan dengan baik, terlebih jika anak sudah memasuki usia remaja. Meski demikian, terdapat sejumlah tanda awal yang dapat menjadi indikasi bahwa seorang anak berpotensi menjadi korban grooming.
Beberapa di antaranya meliputi perubahan perilaku yang mencolok, seperti anak mulai banyak menyembunyikan sesuatu, mengunci gawai atau akun digitalnya, menjadi lebih tertutup, serta cenderung sering mengisolasi diri. (Inna – UINSA berkontribusi dalam tulisan ini)
–+++
Langkah mencegah child grooming berdasarkan panduan perlindungan anak:
1. Membangun Komunikasi Terbuka
2.
Jadilah Pendengar yang Baik: Ciptakan suasana di mana anak merasa aman menceritakan apa pun tanpa takut dimarahi.
Edukasi Nama Anggota Tubuh: Ajarkan anak nama ilmiah anggota tubuh (seperti penis atau vagina) agar mereka bisa melapor dengan jelas jika terjadi sesuatu.
Konsep Sentuhan: Ajarkan perbedaan antara "sentuhan baik" (pelukan orang tua), "sentuhan tidak enak" (cubitan), dan "sentuhan rahasia/tidak boleh" (di area privat)
2. Memberdayakan Anak (Empowerment)
Hak untuk Berkata "Tidak": Ajarkan anak bahwa mereka berhak menolak pelukan, ciuman, atau pemberian dari siapa pun, termasuk anggota keluarga atau orang yang dikenal, jika mereka merasa tidak nyaman
Hapus Budaya Rahasia: Tegaskan bahwa tidak boleh ada rahasia antara anak dan orang lain. Katakan, "Jika seseorang memintamu merahasiakan sesuatu dari Ayah/Ibu, kamu harus segera memberitahu kami"
3. Keamanan Digital (Cyber Grooming)
Pantau Aktivitas Online: Gunakan aplikasi parental control dan letakkan perangkat komputer di ruang keluarga, bukan di kamar pribadi.
Privasi Media Sosial: Pastikan akun anak bersifat privat dan ajarkan mereka untuk tidak menerima permintaan pertemanan dari orang asing.
Waspada Identitas Palsu: Beri tahu anak bahwa orang di internet bisa berpura-pura menjadi sebaya padahal dewasa (predator)




.jpg)
