JAKARTA (Lentera) - Sepanjang tahun 2025 setidaknya ada 88.519 orang yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di negeri ini. PHK terhadap puluhan ribu orang ini menambah angka pengangguran di Indonesia, di mana per Agustus 2025 angka pengangguran mencapai 4,85% atau 7,46 juta orang.
Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Indah Anggoro Putri, mengatakan salah satu pemicu utama dari banyaknya PHK itu berasal dari tingginya tensi geopolitik global yang ikut menekan aktivitas perdagangan internasional.
Ia menjelaskan situasi dunia yang masih bergejolak pada awal 2025 hingga semester pertama memberikan dampak langsung terhadap ekspor dan impor, yang kemudian berujung pada PHK.
"Pertama kan ada tekanan juga dari ekspor-impor, itu pasti. Kondisi dunia di 2025 awal terutama sampai semester pertama Kan masih ada dinamika cukup tinggi, geopolitik, ada perang dan sebagainya, pasti itu pengaruh ke ekspor," kata Indah melansir cnbcindonesia, Rabu (21/1/2026).
Lebih lanjut, Indah menyebut sektor yang paling banyak melakukan PHK berasal dari sektor manufaktur.
Sebagai informasi, laman Satudata Kemnaker juga menunjukkan Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah korban PHK tertinggi, yakni 18.815 orang atau setara 21,26% dari total nasional.
Indah membantah kalua Kemnaker belum melakukan aksi nyata dalam merespons gelombang PHK. Menurutnya, persoalan PHK tidak bisa dibebankan hanya pada satu kementerian, karena banyak faktor penyebab yang membutuhkan koordinasi lintas lembaga.
"Saya rasa kan soal PHK itu kan bukan cuma Kemnaker ya. Ada banyak kementerian/lembaga terkait. Perhatian presiden pun kan sudah sangat tinggi tuh. Ada magang nasional bagi para penganggur baru yang terdidik ya," kata Indah.
"Jadi upaya ada. Dan sekali lagi, mengatasi PHK itu kan bukan cuma Kementerian Ketenagakerjaan. Banyak faktor yang menjadi pengaruh, menjadi faktor penyebab PHK. Jadi pasti ada koordinasi dan kolaborasi bersama," sambungnya.
Bahkan, lanjutnya, Kemnaker menyiapkan berbagai langkah untuk menekan angka pengangguran dan membantu pekerja yang terdampak. Upaya itu antara lain dilakukan lewat Program Magang Nasional hingga berbagai pelatihan yang melibatkan serikat pekerja.
"Ada magang nasional bagi para penganggur baru yang terdidik ya. Tadi disampaikan (Menaker Yassierli) sudah mencapai target 100 ribu peserta, InsyaAllah magang tahun ini dobel, ya, 150 ribu rencananya. Terus kemudian pelatihan-pelatihan termasuk melibatkan serikat pekerja. Tadi Pak Menteri bilang akan dimasifkan di tahun ini," ujarnya. (*)
Editor : Lutfiyu Handi




.jpg)
