MALANG (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang bersama DPRD setempat memastikan rencana revitalisasi Pasar Tawangmangu tidak akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pembenahan pasar tradisional tersebut dirancang melalui skema pendanaan APBN seiring terbatasnya kapasitas fiskal daerah.
"Sejak awal kami sepakat revitalisasi Pasar Tawangmangu tidak dibebankan ke APBD. Karena itu, jalur APBN menjadi pilihan paling rasional agar perbaikan pasar bisa dilakukan secara menyeluruh," ujar Ketua Komisi B DPRD Kota Malang, Bayu Rekso Aji, Senin (12/1/2026).
Dia menyebutkan keterbatasan anggaran daerah menjadi alasan utama pengajuan revitalisasi ke pemerintah pusat. Selain itu, dana transfer ke daerah (TKD) dari pusat yang semakin terbatas membuat Pemkot dan DPRD harus mencari alternatif pembiayaan lain agar pembangunan tetap berjalan.
Menurut Bayu, Pasar Tawangmangu juga menjadi satu-satunya pasar tradisional di Kota Malang yang belum tersentuh revitalisasi dalam kurun waktu hampir 40 tahun. Kondisi tersebut membuat pasar ini tertinggal dibanding pasar-pasar lain yang telah direvitalisasi lebih dulu dan kini memiliki infrastruktur yang lebih representatif.
Sebagai langkah awal, Bayu mendorong penyusunan Detail Engineering Design (DED) melalui APBD Perubahan. Dokumen teknis tersebut menjadi syarat utama pengajuan bantuan revitalisasi ke pemerintah pusat, khususnya ke Kementerian Perdagangan.
DED revitalisasi Pasar Tawangmangu disebut telah rampung dan kini menjadi dasar pengusulan anggaran. Proposal lengkap bersama dokumen perencanaan teknis tersebut telah disampaikan kepada Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri.
Menurut Bayu, pengajuan ini dinilai strategis karena sejalan dengan program pemerintah pusat dalam memperkuat pasar rakyat. Sejumlah usulan revitalisasi pasar dari daerah juga tengah dihimpun untuk disampaikan ke tingkat nasional.
"Harapannya Pasar Tawangmangu bisa masuk dalam daftar prioritas. Kalau bisa direalisasikan lebih cepat tentu akan sangat membantu pemulihan ekonomi pedagang," katanya.
Berdasarkan hasil perencanaan teknis, menurutnya kebutuhan anggaran revitalisasi Pasar Tawangmangu diperkirakan mencapai sekitar Rp35 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk perbaikan menyeluruh, mulai dari struktur bangunan, atap pasar, sistem drainase, hingga penataan kios dan los pedagang.
Kondisi pasar saat ini dinilai sudah tidak layak. Sejumlah kerusakan fisik seperti atap bocor, saluran air yang tidak berfungsi optimal, serta lingkungan pasar yang terkesan kumuh kerap dikeluhkan pedagang maupun pengunjung. Situasi tersebut berdampak pada menurunnya minat belanja masyarakat.
Melalui revitalisasi, Pasar Tawangmangu direncanakan akan ditata ulang dengan konsep pasar rakyat modern yang tetap mempertahankan ciri khas tradisional. Model penataan akan mengacu pada pasar-pasar yang telah berhasil direvitalisasi di Kota Malang, seperti Pasar Oro-oro Dowo dan Pasar Klojen.
Keberadaan kafe dan usaha kopi yang saat ini tumbuh di kawasan Pasar Tawangmangu dipastikan tetap menjadi bagian dari konsep pengembangan. Fasilitas tersebut dinilai mampu menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung sekaligus mendukung aktivitas ekonomi kreatif di sekitar pasar.
"Mayoritas pedagang mendukung karena berharap pasar kembali ramai. Saat ini pedagang aktif hanya ratusan, banyak lapak kosong. Revitalisasi ini kami kawal bersama agar benar-benar berpihak pada pedagang," pungkas Bayu.
Reporter: Santi Wahyu





.jpg)
