11 January 2026

Get In Touch

Gubernur Khofifah : Modifikasi Cuaca Behasil Turunkan Curah Hujan

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menerangkan program modifikasi cuaca saat meninjau kondisi warga terdampak banjir di Dusun Ladan, Desa Lalaban, Kecamatan Deket, Sabtu (10/1/2026).
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menerangkan program modifikasi cuaca saat meninjau kondisi warga terdampak banjir di Dusun Ladan, Desa Lalaban, Kecamatan Deket, Sabtu (10/1/2026).

LAMONGAN (Lentera) - Modifikasi cuaca dinilai berhasil menurunkan curah hujan yang terjadi di beberapa daerah di Jawa Timur. Berdasarkan prediksi potensi curah hujan pada Januari ini bisa mencapai 300 hingga 400 milimeter perhari, namun belakangan ini tercatat 104 milimeter per hari.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengatakan curah hujan ekstrem yang tercatat di Lamongan sejatinya sudah mengalami penurunan berkat modifikasi cuaca. Tanpa intervensi tersebut, potensi hujan diprediksi bisa mencapai 300 hingga 400 milimeter per hari.

“Yang tercatat kemarin 104 milimeter itu sudah dengan modifikasi cuaca. Kalau tidak, kondisinya bisa jauh lebih parah,” ungkap Khofifah saat meninjau meninjau kondisi warga terdampak banjir di Dusun Ladan, Desa Lalaban, Kecamatan Deket, Sabtu (10/1/2026)

Dalam kesempatan tersebut Khofifah menjelaskan berbagai langkah mitigasi bencana dengan program modifikasi cuaca. “Saya relatif sering mengunggah proses modifikasi cuaca di Instagram. Ini sejatinya sudah dimulai sejak 5 Desember,” ujar Khofifah.

Namun demikian, ia mengakui keterbatasan kemampuan daerah dalam pelaksanaan modifikasi cuaca. Saat ini, Pemprov Jatim hanya mampu melakukan modifikasi di dua titik, sementara dalam kondisi tertentu dibutuhkan intervensi di empat hingga lima titik sekaligus.

“Kalau yang dimodifikasi hanya dua titik, berarti ada wilayah yang tetap menerima curah hujan tinggi,” jelasnya.

Berdasarkan prediksi BMKG Juanda, Khofifah mengungkapkan bahwa puncak curah hujan terjadi pada Januari. Secara persentase, curah hujan Desember berada di angka 20 persen, Januari melonjak hingga 58 persen, dan Februari turun menjadi 22 persen.

“Artinya, curah hujan di Januari hampir tiga kali lipat dibanding Desember,” tegasnya.

Meski demikian, Khofifah juga menyoroti keterbatasan teknologi dalam mitigasi bencana alam. Menurutnya, hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu mengendalikan angin maupun gempa bumi.

“Kalau hujan bisa dimodifikasi, tapi angin itu belum ada teknologinya. Kita tidak bisa bilang, ‘angin ojo lewat Lamongan ya,’ itu belum bisa,” ujarnya disambut tawa warga.

“Gempa dan angin, teknologinya memang belum ditemukan. Yang sudah baru modifikasi cuaca,” imbuhnya.

Ia pun menjelaskan mekanisme modifikasi cuaca yang dilakukan, yakni dengan menabur garam di wilayah laut dan kapur di daratan, menggunakan pesawat Cessna yang terhubung dengan sistem pemantauan satelit Puskodalops di Lanud Juanda.

Selain faktor cuaca, Khofifah juga menyinggung kerusakan lingkungan sebagai penyebab bencana lain seperti longsor dan banjir bandang.

“Vegetasi yang rusak, hutan yang tidak lagi berfungsi sesuai daya dukung lingkungan, itu memperparah bencana. Banyak kawasan yang gundul,” katanya.

Sementara banjir di sejumlah desa di Kecamatan Deket, Labupaten Lamongan diketahui akibat luapan Bengawan Njero. 

Saat peninjauan tersebut, Khofifah sempat berdialog dengan warga. Ia menanyakan kondisi kesehatan masyarakat yang terdampak banjir setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur Lamongan selama dua hari terakhir.

“Inggih matur nuwun Bapak Bupati dan panjenengan semua. Kita ingin melakukan pemantauan dampak hujan dengan intensitas tinggi. Ibu-ibu semua sehat?” sapa Khofifah, yang langsung dijawab serempak oleh warga, “Alhamdulillah.”

“Mudah-mudahan sehat lahirnya, sehat batinnya, moga-moga sehat dompetnya,” lanjut Khofifah yang disambut senyum dan amin warga.

Banjir Bengawan Njero diketahui menjadi persoalan tahunan bagi warga yang bermukim di sekitaran sungai. Saat musim hujan datang, luapan air kerap tak terhindarkan akibat tingginya debit air yang masuk dari hulu.

Menutup sambutannya, Khofifah mengajak warga untuk memperkuat doa, terlebih saat ini masih berada di bulan Rajab. “Mari kita nyuwun keselamatan dumateng Gusti Allah. Mudah-mudahan kita semua diselamatkan, dijaga keluarga kita,” ucapnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, menjelaskan bahwa genangan air di Desa Lalaban mencapai ketinggian sekitar 10 hingga 15 sentimeter. Kondisi ini dipicu curah hujan dua hari berturut-turut yang jauh di atas rata-rata.

“Kami berharap kunjungan Ibu Gubernur hari ini membawa semangat bagi warga agar tetap kuat menghadapi kondisi ini,” pungkas Yuhronur.

Dalam kunjungan tersebut, Khofifah secara simbolis menyerahkan bantuan kepada Bupati Lamongan untuk warga terdampak banjir. Badan Penanggulangan Bencana  Daerah (BPBD) Pemerintah Provinsi Jawa Timur, menyalurkan berbagai bantuan logistik, mulai dari 20 dus makanan siap saji, 20 dus lauk pauk, 20 dus tambahan gizi, hingga 200 paket sembako.

Selain itu, disalurkan pula 120 lembar selimut, 50 dus perlengkapan makan, bantuan sandang berupa pakaian pria, wanita, dan lansia, perlengkapan anak, paket kebersihan, serta 150 pasang sepatu boot untuk mendukung aktivitas di wilayah terdampak. (*)


Reporter : Lutfi
Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.