KOLOM (Lentera) - Beberapa hari lalu saya menyaksikan pertunjukan Wayang Orang Sriwedari yang legendaris, sebuah seni tradisi yang lahir lebih dari satu abad lalu dan masih bertahan hingga kini. Keindahan tarian, kemegahan kostum, irama gamelan, serta narasi yang membawa kita melewati kisah klasik Ramayana dan Mahabharata tak ubahnya seperti brand story legendaris yang terus hidup di benak masyarakat.
Namun lebih dari sekadar tontonan budaya, ada pelajaran penting yang sebenarnya kita bisa telisik di balik pertunjukan yang telah “hidup lebih lama dari mayoritas merek komersial” ini, tentang bagaimana kita mengkomunikasikan dan membranding produk agar tetap relevan di hati masyarakat.
Warisan Budaya yang Tetap Menarik Perhatian
Tahukah Anda, bahwa Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari telah ada sejak tahun 1910, saat Paku Buwono X memerintahkan pertunjukan wayang orang secara berkala di taman istana yang kini menjadi ruang publik. Meski sempat meredup karena teknologi hiburan modern, komunitas ini bangkit kembali dengan revitalisasi dan perhatian pemerintah, sehingga sekarang pertunjukan tetap hadir secara rutin—bahkan dengan fasilitas modern agar lebih nyaman ditonton.
Legenda Sriwedari bisa menjadi inspirasi bagi pelaku usaha dalam hal branding: produk yang kuat bukan hanya soal kualitas, tapi juga soal cerita, nilai budaya, dan relevansi emosional yang melekat di dalamnya.
Legenda vs Produk Komersial: Apa Bedanya?
Sudah banyak penelitian dan riset yang menunjukkan bahwa storytelling atau narasi kuat adalah elemen penting dalam komunikasi brand. Dalam studi konsumen global, konten yang bercerita terbukti meningkatkan brand recall dan keterlibatan emosional audiens dibandingkan hanya menyampaikan fitur produk secara teknis. Intinya: manusia memilih cerita sebelum membeli produk.
Contoh klasik ini bisa kita lihat pada pertunjukan Sriwedari: Sebenarnya kita bukan hanya membeli tiket, tetapi pengalaman, sejarah dan estetika. Sebagai Audiens, kita akan terkoneksi dengan narasi moral dan nilai-nilai kehidupan yang dipentaskan.
Lantas, Bagaimana Konsep Ini Diterapkan di Bisnis Kita?
Tidak perlu rumit. Berikut beberapa langkah praktis rekomendasi saya yang bisa langsung diadopsi UMKM:
- Kenali Nilai dan Sejarah Produk Anda
Setiap produk punya cerita —entah itu proses pembuatannya, inspirasi di baliknya, atau nilai yang diusung. Ceritakan itu!
- Bangun Narasi yang Konsisten
Tuliskan brand story yang mencerminkan apa yang membedakan produk Anda dengan lainnya—tanpa jargon, tetapi dengan hati.
- Gunakan Media yang Tepat
Ini bisa dilakukan lewat teks sederhana di kemasan, video singkat di media sosial, atau sesi “behind the scene” di mana konsumen melihat proses nyata di balik produk.
- Libatkan Audiens dalam Cerita
Ajak audiens untuk berbagi pengalaman menggunakan produk Anda, atau buat konten kolaboratif yang memberdayakan pelanggan sebagai bagian dari cerita brand.
Penutup: Produk Legendaris Tak Dilahirkan, Ia Diceritakan
Warisan budaya seperti Wayang Orang Sriwedari bertahan bukan hanya karena kualitas seni, tetapi karena narasi yang tertanam kuat di benak masyarakat. Ia bukan sekadar hiburan; ia adalah identitas yang diceritakan dari generasi ke generasi.
Demikian juga dengan brand kita. Agar produk dikenal, dicintai, bahkan dikenang, kita perlu lebih banyak bercerita, bukan sekadar memperkenalkan. Karena di balik setiap produk legendaris bukan hanya fungsi—ada cerita unik yang membuatnya tetap hidup.
Selamat membangun brand. Happy Friday!
Ohya, Ngomong-ngomong, saat Anda ke Solo, sempatkanlah nonton Wayang Orang Sriwedari, sungguh bagusss...
(* Suhardiman Eko, Tim di Lentera Media/Editor: Ais





.jpg)
