SURABAYA ( LENTERA ) - Peringatan ini disampaikan oleh ahli saraf asal Amerika Serikat, Dr Baibing Chen, yang dikenal luas di media sosial dengan nama Dr Bing. Melalui sebuah video edukasi, ia menjelaskan bagaimana nasi yang disimpan tidak dengan benar dapat menyebabkan keracunan makanan langka yang berdampak hingga ke otak.
Dilansir dari DailyMailUK, Dr Chen memaparkan kasus seorang pasien muda yang harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengonsumsi nasi yang tidak disimpan dengan aman.
Dari hasil pemindaian medis, terlihat adanya kerusakan pada struktur dalam otak pasien tersebut. Kondisi ini berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai fried rice syndrome, yakni keracunan makanan akibat racun yang dihasilkan bakteri Bacillus cereus.
"Menghangatkan ulang nasi tidak akan menghancurkan racun tersebut jika sudah terbentuk," ujar Dr Chen dalam penjelasannya.
Ia menekankan bahwa bakteri Bacillus cereus memang dapat mati saat proses pemanasan, tetapi racun yang dihasilkannya justru tahan panas. Meski begitu, Dr Chen mengakui bahwa kasus ini tergolong langka.
"Saya sering mendengar orang berkata bahwa mereka tumbuh besar dengan makan nasi sisa dan tidak pernah mengalami apa pun. Itu benar, sebagian besar orang baik-baik saja," katanya.
Namun ia menegaskan ketika kasus ini terjadi, dampaknya bisa sangat berbahaya, terutama pada anak-anak dan remaja.
"Pada kelompok usia ini, racun dapat menyerang pusat energi sel otak dan menyebabkan kerusakan otak yang cepat," ujarnya.
Diketahui, nasi secara umum mengandung spora Bacillus Cereus, bakteri yang dikenal menyebabkan keracunan makanan. Spora tersebut cenderung bertahan hidup bahkan setelah nasi matang.
Jadi, ketika nasi didiamkan pada suhu ruangan sekitar 4 sampai 60 derajat Celsius, nasi berada dalam zona bahaya. Dalam kondisi tersebut Bacillus cereus akan berkembang biak dan bertumbuh subur. Mereka akan berkembang biak dengan sangat cepat, lalu menghasilkan racun yang membuat seseorang jatuh sakit.
Bacillus Cereus ini adalah spora yang berasal dari tanah, tetapi tetap bisa hidup di perairan, tumbuhan, bahkan usus beberapa hewan. Spora tersebut juga bisa tumbuh di bahan makanan berbahan dasar biji-bijian seperti nasi, pasta, hingga mie. Dengan kemampuan bakteri tersebut untuk tumbuh, maka nasi sisa sebaiknya dihindari.
Peringatan serupa juga disampaikan oleh Dr Joe Whittington. Sebelumnya ia menyoroti bahaya meninggalkan nasi dan pasta matang di suhu ruang terlalu lama. Ia mengulas kembali kasus tragis seorang mahasiswa berusia 20 tahun yang meninggal dunia setelah mengonsumsi pasta yang diduga dibiarkan selama beberapa hari.
Menurut Dr Whittington, makanan seperti nasi dan pasta merupakan tempat ideal bagi bakteri untuk berkembang biak jika tidak segera didinginkan.
"Nasi atau pasta sebaiknya tidak dikonsumsi jika sudah dibiarkan di suhu ruang lebih dari dua jam," tegasnya.
Meski kasus fatal sangat jarang, para ahli sepakat agar orang-orang lebih berhati-hati ketika akan menyantap nasi sisa. Dr Chen menyarankan agar nasi matang dapat segera didinginkan dalam waktu satu hingga dua jam setelah dimasak, jika berencana tidak akan dimakan langsung.
"Jika nasi sudah dibiarkan hampir seharian dalam suhu ruangan, jangan ambil risiko. Lebih baik dibuang," pungkas Dr Chen.
Disebut 'Sindrom Nasi Goreng'
Isu keracunan makanan akibat bakteri Bacillus cereus sering disebut juga dengan istilah sindrom nasi goreng. Istilahnya diambil karena kasus ini pertama kali dilaporkan terjadi pada seseorang yang makan nasi goreng.
Meskipun namanya seperti itu, bakteri penyebabnya tidak hanya tumbuh di nasi. Bisa jadi tumbuh juga pada makanan lain yang disimpan pada suhu tidak sesuai.
Namun nasi lebih berpeluang besar lantaran tanaman asalnya tumbuh langsung di tanah dan melalui proses minimal sebelum dimasak dan dimakan. Jadi menurut allrecipes.com, secara teori nasi mungkin mengandung konsentrasi bakteri lebih tinggi daripada biji-bijian lainnya. Ketika tidak disimpan dengan tepat, risikonya akan lebih berbahaya.
Sindrom ini juga bisa terjadi ketika alat masak, seperti pisau atau panci tidak dijaga kebersihannya.
Orang yang terkena sindrom nasi goreng umumnya mengalami sejumlah gejala, seperti diare, mual dan muntah, dehidrasi, hingga demam.
Sebenarnya masalah utama yang menyebabkan keracunan makanan adalah ketika nasi tidak disimpan dengan tepat.
Jika nasi baru selesai dimasak tetapi ada sisa yang tidak akan dimakan langsung, lebih baik masukkan nasi sisa tersebut ke dalam kulkas kurang lebih satu jam. Hal ini disarankan agar bakteri tidak dapat berkembang biak. Jika perlu, proses pendinginan tersebut dilakukan lebih cepat lagi dengan cara membagi nasi ke dalam wadah-wadah lebih kecil.
Beberapa hal juga perlu diperhatikan saat memesan nasi dari restoran atau pesanan makan online. Sebab tidak ada yang tahu persis berapa lama nasi tersebut sudah didiamkan.
Untuk menghindari risiko keracunan, setelah sampai, sebaiknya nasi langsung dimasukkan ke dalam wadah kedap udara lalu masukkan ke kulkas.(tin,ist,dtc/dya)





.jpg)
