12 January 2026

Get In Touch

Ancaman Super Flu Mengintai, Pakar FK Unair Tekankan Pentingnya Vaksinasi

Ilustrasi flu dan virus. (Pixabay)
Ilustrasi flu dan virus. (Pixabay)

SURABAYA (Lentera)– Meningkatnya kasus influenza musiman di Indonesia kini mendapat perhatian serius seiring terdeteksinya varian Influenza A H3N2 Subclade K, yang populer disebut sebagai “Super Flu”. Untuk itu, Pakar Imunologi dari Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) menekankan pentingnya vaksinasi dan diagnosis cepat.

Sebab, meski belum dikategorikan sebagai wabah besar, kemunculan varian ini menimbulkan kekhawatiran karena mutasi virus berpotensi memicu gejala lebih berat, khususnya pada kelompok rentan.

Pakar Imunologi dari Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi FK Unair, dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, dr., M.Si., menjelaskan karakteristik virus serta pentingnya vaksinasi dan diagnosis cepat dari perspektif mikrobiologi klinik.

dr. Agung menuturkan, virus Influenza tipe A, termasuk H3N2, memiliki kemampuan mutasi yang sangat tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh dua protein permukaan utama, yakni Hemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA), yang mudah mengalami perubahan struktur.

“Fenomena Superflu terjadi akibat antigenic drift, yaitu mutasi genetik kecil yang terus-menerus. Virus influenza, khususnya tipe A, sangat dinamis dan mampu melakukan reassortment atau penyusunan ulang materi genetik. Inilah yang memicu munculnya varian baru dengan potensi gejala lebih berat, terutama pada individu tanpa kekebalan yang memadai,” jelasnya, Rabu (7/1/2026).

Berdasarkan data terkini, varian H3N2 Subclade K telah terdeteksi di Indonesia, termasuk di wilayah Jawa Timur. Gejala klinisnya masih menyerupai flu biasa seperti demam, batuk, pilek, dan nyeri otot. Namun, mutasi pada varian ini meningkatkan risiko komplikasi serius, seperti pneumonia, terutama pada lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis.

Dalam situasi meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan, dr. Agung menekankan pentingnya peran laboratorium mikrobiologi klinik untuk memastikan diagnosis yang akurat. Menurutnya, pemeriksaan Real-Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) masih menjadi standar emas (gold standard) dalam membedakan influenza dengan virus pernapasan lain, seperti SARS-CoV-2 atau Respiratory Syncytial Virus (RSV).

“Diagnosis cepat bukan hanya untuk menentukan terapi yang tepat, tetapi juga sangat penting untuk surveilans strain virus. Kita perlu mengetahui apakah virus yang beredar menunjukkan tanda-tanda resistensi terhadap antiviral yang tersedia,” ujarnya.

Salah satu poin utama yang ditekankan dr. Agung adalah pentingnya vaksinasi influenza tahunan sebagai langkah paling efektif untuk menekan risiko keparahan akibat Superflu. Mengingat virus influenza terus mengalami mutasi, pembaruan komposisi vaksin secara rutin menjadi hal yang mutlak.

“Vaksin influenza disesuaikan dengan strain yang diprediksi akan beredar. Dengan vaksinasi, tubuh memiliki perlindungan yang lebih baik sehingga risiko gejala berat dan rawat inap dapat ditekan,” tegasnya.

Ia juga menambahkan perlindungan individu akan berdampak pada penurunan penularan di tingkat komunitas.

Selain vaksinasi, masyarakat diimbau tetap menerapkan langkah pencegahan dasar, seperti menggunakan masker saat sakit, mencuci tangan, serta menghindari kerumunan. Dari sisi terapi, penggunaan antiviral seperti Oseltamivir masih dinilai efektif, terutama jika diberikan dalam waktu kurang dari 48 jam sejak gejala awal muncul.

Tak lupa, dr. Agung mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan gejala flu, terutama di tengah musim hujan dan munculnya varian influenza baru. "Kesadaran terhadap diagnosis dini, vaksinasi lengkap, dan perilaku hidup bersih ini diharapkan mampu mencegah meluasnya penularan Superflu di Indonesia," tutupnya.

 

Reporter: Amanah

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.