
SURABAYA (Lentera) - Kita seringkali tidak menyadari bahwa sejumlah barang di rumah yang dipakai setiap hari bisa menjadi sumber penyakit bila tidak diganti secara rutin. Meski tampak masih layak pakai, benda-benda ini sebenarnya dapat menjadi sarang bakteri, jamur, dan kuman berbahaya. Beberapa contohnya adalah sikat gigi, spons dapur, dan bantal, yang masing-masing memiliki masa pemakaian tertentu yang sebaiknya diperhatikan.
Untuk menjaga kesehatan tubuh, kulit, serta sistem pernapasan, sangat penting untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengganti barang-barang rumah tangga tersebut. Artikel ini akan membahas 11 barang sehari-hari yang harus diganti rutin menurut para ahli kesehatan, lengkap dengan alasan medis, rekomendasi waktu penggantian, serta tips untuk pengelolaan limbah yang baik.
Sikat Gigi
Sikat gigi perlu diganti setiap tiga hingga empat bulan atau segera setelah bulunya aus, sesuai rekomendasi American Dental Association (ADA). Bulu sikat yang rusak tidak efektif membersihkan plak, dapat melukai gusi, dan berpotensi menjadi sarang bakteri, terutama bila disimpan di tempat lembap.
Setiap penggunaan, sikat gigi terpapar air liur, sisa makanan, dan mikroorganisme yang dapat berkembang biak. Karena itu, simpanlah sikat gigi dalam posisi tegak dan terbuka agar cepat kering, atau gunakan penutup kepala sikat berventilasi. Sikat yang sudah tidak layak pakai sebaiknya dialihfungsikan, misalnya untuk membersihkan keran atau sepatu, bukan untuk tubuh.
Kasur
Kualitas tidur sangat dipengaruhi oleh kondisi kasur. Menurut para ahli, kasur sebaiknya diganti setiap 7–10 tahun karena seiring waktu dapat menjadi sarang debu, tungau, dan jamur yang memicu alergi, asma, atau gangguan kulit. Tanda kasur perlu diganti antara lain terasa kendur, berisik, berbau, atau menimbulkan pegal dan tidur tidak nyenyak.
Untuk menjaga kebersihan dan daya tahan kasur, gunakan pelindung anti alergi, cuci seprai tiap minggu, vakum permukaan kasur secara rutin, serta hindari makan atau membawa hewan peliharaan ke tempat tidur.
Spons Dapur
Spons dapur sering kali menjadi sarang bakteri berbahaya seperti E. coli dan Salmonella, bahkan lebih kotor dibanding dudukan toilet. Penelitian menunjukkan satu spons dapat mengandung hingga 45 miliar bakteri per sentimeter kubik. Karena itu, spons sebaiknya diganti setiap dua minggu atau lebih cepat jika berbau.
Meski bisa disterilkan sementara dengan microwave atau mesin pencuci piring, cara tersebut tidak membersihkan sepenuhnya. Untuk menjaga kebersihan, spons perlu segera dibuang atau didaur ulang bila berbahan selulosa alami.
Loofah dan Spons Mandi
Loofah, baik alami maupun plastik, mudah menyerap air dan sel kulit mati sehingga menjadi tempat tumbuh bakteri, jamur, hingga lumut. Penggunaannya yang kotor dapat memicu infeksi kulit, iritasi, atau jerawat. Para ahli menyarankan loofah diganti setiap 2–4 minggu, disimpan di tempat kering, dan tidak digantung di dalam shower. Alternatif yang lebih higienis adalah menggunakan waslap yang bisa dicuci setelah setiap pemakaian.
Wadah Plastik
Wadah plastik yang retak, tergores, atau berubah warna sebaiknya segera diganti karena berpotensi melepaskan bahan kimia berbahaya seperti BPA dan PFAS yang dapat mengganggu kesehatan. Tanda lainnya adalah permukaan keruh, berubah warna akibat makanan, atau bentuk rusak karena panas microwave.
Sebagai alternatif, gunakan wadah kaca atau stainless steel yang lebih aman dan tahan lama. Jika tetap menggunakan plastik, pilihlah yang berlabel food grade dan hindari memanaskannya di microwave.
Panci Anti-Lengket
Panci anti-lengket yang lapisannya terkelupas sebaiknya segera diganti karena berpotensi melepaskan partikel berbahaya seperti PFAS (forever chemicals) ke dalam makanan. Paparan zat ini bisa memicu gangguan hormonal, kerusakan hati, hingga masalah perkembangan janin.
Gunakan alternatif lebih aman seperti panci besi cor atau stainless steel. Untuk memperpanjang usia panci anti-lengket, hindari penggunaan spons kasar dan spatula logam.
Alas Pemotong
Papan pemotong yang penuh goresan dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri, jamur, dan virus, terutama jika dipakai bergantian untuk daging dan sayuran. Papan plastik sebaiknya diganti saat sudah banyak goresan, sedangkan papan kayu perlu diganti jika muncul noda hitam, bau, atau retakan. Untuk mencegah kontaminasi, gunakan papan terpisah untuk daging dan sayuran, bersihkan dengan air panas dan disinfektan, serta pastikan papan kayu dikeringkan dengan baik setelah digunakan.
Bantal
Bantal tidak hanya berfungsi sebagai penopang kepala, tetapi juga menyerap keringat, minyak kulit, air liur, dan sel-sel kulit mati yang dapat menjadi makanan bagi tungau debu. Hal ini berpotensi memicu alergi, asma, dan iritasi kulit. Para ahli menyarankan untuk mengganti bantal setiap 1 hingga 3 tahun, karena selain bisa menjadi sarang alergen, bantal lama juga kehilangan bentuk dan daya topang sehingga berdampak pada postur leher serta kualitas tidur.
Tanda bantal perlu diganti antara lain leher terasa kaku saat bangun tidur, bantal menggumpal, atau berbau apek. Untuk memperpanjang umur bantal, gunakan sarung pelindung antialergi, cuci bantal secara rutin, dan manfaatkan kembali bantal lama dengan mendaur ulang isinya atau menyumbangkannya ke penampungan hewan.
Alat Cukur Sekali Pakai
Pisau cukur sekali pakai sebaiknya hanya digunakan sekitar tiga kali, karena setelah itu bilahnya akan tumpul atau berkarat dan berisiko menimbulkan luka, iritasi, serta menjadi jalur masuk bakteri. Jika muncul ruam atau kemerahan setelah bercukur, kemungkinan besar pisau cukur sudah tidak layak pakai.
Untuk menjaga kesehatan kulit, ganti pisau cukur lebih awal, gunakan selalu alat yang bersih, dan simpan di tempat kering. Sebagai alternatif ramah lingkungan, pilih alat cukur dengan kepala yang bisa diganti seperti safety razor, sehingga lebih awet sekaligus mengurangi limbah.
Tirai Kamar Mandi
Tirai kamar mandi yang sering terkena air dan uap panas mudah ditumbuhi jamur serta lumut. Jika dibiarkan, jamur dapat menimbulkan bau apek dan memperburuk masalah pernapasan. Tirai plastik yang berubah warna sebaiknya segera diganti atau dibersihkan dengan air panas dan pemutih, sementara tirai kain bisa dicuci dengan mesin cuci.
Untuk mencegah lembap berlebih, pastikan ventilasi kamar mandi baik, biarkan tirai terbuka setelah mandi, dan pilih tirai dengan bahan antijamur agar lebih tahan lama dan higienis.
Handuk
Handuk digunakan setiap hari untuk mengeringkan tubuh, namun sering kali jarang diganti. Kelembapan dari handuk yang tidak cepat kering bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri dan jamur. Jika digunakan terus-menerus, bisa memicu masalah kulit seperti gatal dan iritasi.
Selain itu, handuk yang jarang diganti juga dapat menimbulkan bau tidak sedap. Handuk kotor bahkan bisa menjadi media penyebaran penyakit kulit antaranggota keluarga jika digunakan bersama.
Handuk sebaiknya dicuci setelah digunakan 3–4 kali dan diganti dengan yang baru setiap 6–12 bulan. Dengan begitu, kebersihan dan kesehatan kulit tetap terjaga.
Co-Editor: Nei-Dya/berbagai sumber