31 August 2025

Get In Touch

FK Unair Terjunkan Tim Dokter Dampingi ORI Campak di Sumenep

Tim FK Unair mendampingi pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) campak di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur
Tim FK Unair mendampingi pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) campak di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur

SURABAYA (Lentera)– Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) turut mendampingi pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) campak di Kabupaten Sumenep pada 25 Agustus–6 September 2025,  menyusul penetapan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang merenggut belasan korban jiwa di daerah tersebut.

Pendampingan FK Unair ini dilakukan bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, serta Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep.

Wakil Dekan III FK Unair, Dr Sulistiawati dr M Kes mengungkapkan kebutuhan tenaga dokter pada pelaksanaan ORI, mendorong keterlibatan Unair.

“Tim vaksinator di lapangan sudah lengkap, namun tetap dibutuhkan dukungan dokter, terutama untuk advokasi dan pendampingan. Karena itu, FK Unair menerjunkan tim dari departemen pediatri,” ungkapnya, Kamis (28/8/2025).

Ia menjelaskan, tim FK Unair diberangkatkan dalam tiga gelombang. Gelombang pertama dipimpin dr Dwi Yanti Puspitasari DTMH MCTM SpA(K) bersama dr Alpha Fardah Athiyyah SpA(K) dan dokter PPDS. Mereka langsung berkoordinasi dengan Kemenkes, serta Dinas Kesehatan setempat untuk memetakan wilayah dengan cakupan imunisasi rendah.

“Pendampingan difokuskan pada daerah dengan cakupan ORI di bawah 10 persen. Salah satunya di TK Qurrota Ayun, dengan 200 anak sebagai sasaran imunisasi,” jelasnya.

Selain vaksinasi, tim juga memberikan edukasi kepada orang tua dan tenaga kesehatan, serta mendampingi proses screening hingga pascavaksinasi.

Tak hanya itu, tim FK Unair juga memastikan kesiapan tenaga kesehatan menghadapi kemungkinan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Edukasi diberikan mengenai pentingnya vaksinasi campak sekaligus cara penanganan medis yang tepat.

“Campak sangat menular dan berisiko mematikan bila tidak dicegah dengan imunisasi. Vaksin bukan hanya melindungi anak, tapi juga orang-orang di sekitarnya,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data RSUD Sumenep melaporkan adanya penurunan jumlah pasien campak, dari 22 menjadi 6 orang. Namun angka kematian akibat komplikasi pneumonia masih tinggi. 

“Rata-rata pasien datang terlambat dalam kondisi berat sehingga sulit ditangani,” ungkapnya.

Ia menambahkan, ORI diberikan untuk semua anak sesuai rentang usia tanpa melihat status imunisasi sebelumnya. “Kalau sedang sakit atau demam, vaksinasi ditunda. Tapi jika sehat, tetap diberikan vaksin,” tambahnya.

Melalui ORI serentak ini, diharapkan cakupan imunisasi meningkat sehingga penyebaran campak dapat ditekan. 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.