
JAKARTA (Lenteratoday) - Setiap tahunnya, tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Namun Hari Ibu Nasional bukan sekadar perayaan bagi para ibu di Indonesia. Hari Ibu ternyata merupakan hari peringatan pergerakan perempuan Indonesia, didasari oleh Kongres Perempuan Indonesia pertama yang berlangsung pada 1928 silam.
Sebagai salah satu cara untuk memperluas pemahaman sejarah ini, Keana Films dan Galeri Indonesia Kaya berkolaborasi dan menghadirkan pentas teater monolog bertajuk Karena Aku Perempuan: Kelahiran Sebuah Pergerakan. Teater dengan durasi selama 17–20 menit ini merupakan bagian dari acara Panggung Gagasan: Perempuan Indonesia - Peringatan Kongres Perempuan Indonesia Pertama 1928.
Teater monolog ini menjadi panggung bagi tiga aktris ternama Tanah Air, yakni Marcella Zalianty, Ruth Marini, dan Aghniny Haque, untuk merekonstruksi berjalannya Kongres Perempuan Indonesia pertama.
Hampir satu abad lalu, para perempuan dari berbagai organisasi pergerakan Indonesia berkumpul bersama untuk memperjuangkan hak dan memperkuat pemberdayaan perempuan. Kongres ini diselenggarakan di Yogyakarta pada 22–25 Desember 1928.
“Bersama Galeri Indonesia Kaya, kami ingin membuat sesuatu di sini dan Hari Ibu sepertinya menjadi momen yang tepat dan ada peristiwa penting tentang Kongres Perempuan pertama di Indonesia. Kok, banyak yang tidak tahu bahwa Hari Ibu ini asal muasalnya dari Kongres Perempuan? Makna di balik itu perjuangan dilakukan sampai kita ini para perempuan bisa bersama-sama berdiri di sini, itu semuanya awalnya karena peristiwa bersejarah itu,” ucap Marcella Zalianty, pemeran tokoh Nyonya Sukonto, di jumpa pers teater pada Kamis (19/12/2024).
Menurut Marcella, lewat acara dan teater ini, mereka ingin mengangkat peran perempuan dalam pembangunan bangsa, dengan menyoroti kontribusi perempuan sebagai pilar bangsa.
“Kita seraya membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kesetaraan gender. Jadi kita bersama juga ke depannya berharap bahwa lebih banyak lagi kebijakan-kebijakan yang mendukung pemberdayaan perempuan Indonesia,” imbuhnya.
Selain pertunjukan teater monolog, acara Panggung Gagasan ini menghadirkan sesi gelar wicara yang membahas soal isu-isu perempuan. Gelar wicara bertajuk Perempuan Indonesia: Kini dan Nanti ini mengundang enam tokoh perempuan sebagai pembicara.
Mereka adalah Niniek L. Karim, aktris dan psikolog senior; Nita Yudi, Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI); Andini Weningtyas Effendi, jurnalis dan aktivis lingkungan; Nurul Arifin, politisi dan aktris; Triana Wulandari, praktisi sosial; serta Davina Veronica, aktivis lingkungan dan model.
Sekilas soal pentas teater “Karena Aku Perempuan”
Teater yang terbagi ke dalam dua babak ini merupakan karya Wawan Sofwan sebagai sutradara, Marcella Zalianty sebagai produser, dan Kadek Sonia Piscayanti sebagai penulis naskah.
Pertunjukan ini akan menghadirkan tiga karakter perempuan penting dalam penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia pertama. Salah satunya adalah Nyonya Sukonto, yang diperankan oleh Marcella Zalianty. Sukonto, perwakilan dari organisasi perempuan Wanita Oetomo, merupakan ketua komite Kongres Perempuan Indonesia.
Kemudian, ada juga tokoh Nyi Hajar Dewantara yang diperankan oleh Ruth Marini. Nyi Hajar Dewantara merupakan aktivis perempuan dan penggiat pendidikan Indonesia, yang juga merupakan istri dari pahlawan nasional Ki Hajar Dewantara. Lalu, Aghniny Haque berperan sebagai Soejatin, seorang guru muda dan Poetri Indonesia Cabang Yogyakarta.
Selama 20 menit, para pemeran akan menghadirkan rekonstruksi dari Kongres Perempuan Indonesia, termasuk argumentasi dan perdebatan antara para peserta kongres. Musik dari pementasan ini diaransemen oleh Achi Hardjakusumah, diangkat dari salah satu karya komposer ternama Indonesia, Ismail Marzuki.
“Yang menjadi intisari dari musiknya adalah karangan Ismail Marzuki yang berjudul Wanita, lagu itu menjadi bingkai utamanya yang kemudian akan saya sesuaikan sesuai dengan adegan tertentu dalam pementasan ini,” jelas Achi.
Sutradara pementasan, Wawan Sofwan, mengatakan bahwa teater ini menjadi salah satu cara baru untuk memperkenalkan sejarah kepada masyarakat. Jika di sekolah sejarah diajarkan secara satu arah, lewat teater, pengajaran berbentuk dua arah.
“Ini sudah saatnya kita memperkenalkan sejarah dalam bentuk lain. Jadi, bukan sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah seperti satu arah, tapi ini interaktif. Bagaimana kita mencoba menampilkan sejarah Indonesia dalam format teater,” papar Wawan.
Acara ini akan diselenggarakan di Galeri Indonesia Kaya, mal Grand Indonesia Jakarta Pusat pada Minggu (22/12/2024). Buat kamu yang tertarik, acara Panggung Gagasan serta pentas teater ini gratis dan terbuka untuk umum. Kamu bisa langsung mendaftarkan diri lewat situs resmi Galeri Indonesia Kaya.
Menelusuri Jejak Sejarah di Panggung
Ruth Marini berperan sebagai Ny. Hadjar Dewantara, Marcella Zalianty sebagai Ny. Soekonto (Wanita Oetomo), dan Aghniny Haque sebagai Sujatin Kartowijono (Poetri Indonesia), para penggagas Kongres Perempuan pada Desember 1928. Kisah teater ini berfokus pada tiga tokoh perempuan yang memainkan peran penting dalam Kongres Perempuan Pertama, yaitu Ny. Soekonto, Ny. Hadjar Dewantara, dan Sujatin.
Ny. Soekonto, yang memimpin kongres dan organisasi Wanita Oetomo, diperankan oleh salah satu pemeran utama. Nyi. Hajar Dewantara, atau R.A. Sutartinah, dikenal melalui perjuangannya dalam pendidikan bersama suaminya, Ki Hajar Dewantara. Sementara itu, Sujatin, seorang guru muda, mengabdikan dirinya untuk memajukan pendidikan dan keterampilan perempuan.
Peran Tim Kreatif
Produksi teater ini mendapat dukungan penuh dari tim kreatif berbakat. Komposer musik menciptakan melodi yang memperkuat suasana pementasan, sementara tata panggung dirancang memukau oleh tim skenografer dan penata cahaya. Elemen multimedia turut menambah kedalaman visual, menjadikan pengalaman menonton lebih emosional dan berkesan.
Tantangan dalam Berakting
Para pemain menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam mendalami sejarah serta menyampaikan emosi melalui dialog yang kuat. Salah satu pemeran utama mengungkapkan bahwa transisi dari dunia film ke teater memerlukan latihan yang intensif, terutama dalam aspek artikulasi dan pengelolaan emosi.
Pengalaman ini juga menjadi pelajaran berharga bagi para pemain. Melalui serangkaian latihan dan gladi resik, mereka berhasil menggambarkan semangat perjuangan tokoh-tokoh perempuan yang mereka perankan. Aghniny Haque, salah seorang pemeran, mengakui bahwa ini adalah kali pertama ia terlibat dalam teater. "Awalnya berat karena skripnya menantang, tetapi setelah dijalani, ternyata seru dan bikin ketagihan," ujarnya.
Lebih dari Hiburan Semata
Selain pementasan utama, acara ini juga diisi dengan diskusi bersama tokoh-tokoh perempuan inspiratif dan pertunjukan seni lainnya. Dengan tema yang relevan, pementasan ini mendorong refleksi tentang peran perempuan dalam membangun bangsa.
Teater "Karena Aku Perempuan: Kelahiran Sebuah Pergerakan" bukan hanya sarana penghormatan terhadap sejarah, tetapi juga media untuk menyuarakan isu-isu perempuan serta mendorong kebijakan yang mendukung pemberdayaan perempuan di Indonesia.
Co-Editor: Nei-Dya