
SURABAYA (Lenteratoday)- Pengidap disleksia sering kali dianggap kurang asertif karena kesulitan dalam berkomunikasi, bahkan tak jarang dianggap bodoh karena otak mereka kesulitan mengolah informasi data dalam bentuk tulisan, kata dan bunyi bahasa.
Disleksia adalah kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan belajar yang menyebabkan masalah pada proses menulis, mengeja, berbicara, dan membaca.
Melihat fenomena tersebut, mahasiswa Program Studi (Prodi) Magister Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Mohammad Adji Romadhon melakukan penelitian terkait “Efektivitas Metode Role Play Untuk Meningkatkan Perilaku Asertif Pada Anak Disleksia”.
Dalam penitiannya, Adji menjelaskan, jika respon yang diberikan anak dengan gangguan disleksia bisa mengarah pada dua kutub yang berbeda. Ia menggunakan istilah radikal kanan atau radikal kiri untuk membaginya.
“Radikal kanan (agresif) ini cenderung mendominasi bahkan mengintimidasi rekannya karena berusaha menutupi kekurangannya sehingga perilaku yang mencul adalah defense mechanism. Sedangkan radikal kiri cenderung (pasif) atau menarik diri dari lingkungan, bahkan efeknya adalah menjadi korban bullying. Sehingga dirasa perlu untuk melakukan intervensi untuk meningkatkan perilaku asertif anak disleksia,” jelasnya, Rabu (14/8/2024).
Melalui penelitiannya, Adji berusaha mengusung salah satu metode pembelajaran yang cocok digunakan anak-anak disleksia untuk meningkatkan perilaku asertif, melalui metode Role Play atau bermain peran seperti sekolah-sekolahan, dokter-dokteran, polisi-polisian, atau jual-jualan.
Adji menyebut, melalui bermain peran mereka juga bisa mendramatisasikan tingkah laku dan mimik wajah dalam mengungkapkan perasaan yang sedang dialami.
“Sebenarnya metode ini akan mengarahkan siswa untuk lebih kreatif dalam menirukan berbagai kegiatan menjadi dramatis, baik itu ide, situasi, maupun karakter khusus. Sehingga bisa terbentuk perilaku asertif,” ucap mahasiswa yang berhasil menyelesaikan Program Magisternya dalam waktu 1,5 tahun dengan IPK 3,76 ini.
Dalam penelitiannya, Adji menggunakan subjek 20 siswa disleksia ringan di salah satu SD Negeri Surabaya, dengan waktu kurang lebih dua bulan mulai dari screening awal hingga menyelesaikan penelitiannya.
“Screening awal pra penelitian saya gali data ke sekolah mengenai anak-anak yang diduga mengalami disleksia atau learning difficulties (kesulitan belajar spesifik) dengan IQ minimal normal namun prestasi akademik rendah. Saya juga bekerja sama dengan salah satu biro psikologi untuk mengadakan tes IQ lagi dan melakukan Screening disleksia dengan mengacu pada DSM V dari sekian banyak siswa yang memenuhi kriteria penelitian ada 20 siswa dengan disleksia ringan 8 perempuan 12 laki-laki sebagai subjek,” tuturnya.
Dari hasil penelitian itu, Adji mengatakan jika perilaku asertif siswa sebagian besar meningkat. Saat pre test (rerata= 11,0) mengalami peningkatan saat post test (rerata= 25,5).
“Perubahannya hanya satu loncatan interval yang semula kurang asertif menjadi cukup asertif karena untuk merubah perilaku seseorang prosesnya cukup panjang. Sedangkan pertemuan yang saya lakukan hanya sekitar delapan kali terbagi menjadi satu kali perkenalan dan pemberian materi pengantar, enam kali intervensi role play dan satu kali psikoedukasi kepada orang tua. Saya menyadari bahwa dalam penelitian ini, masih terdapat banyak kekurangan," kata Adji.
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang gangguan belajar spesifik (disleksia) pada anak dan bermanfaat Secara praktis dapat membantu orang tua, sekolah.
"Harapannya penelitian ini memberikan kebermanfaatan bagi banyak siswa-siswa disleksia lainnya. Dan pelan-pelan mereka mulai terbiasa mengungkapkan perasaannya dengan asertif,” harapnya.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH