07 April 2025

Get In Touch

Turki Tangguhkan Perdagangan dengan Israel, Beralasan Konflik Gaza

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu pada September 2023, hanya beberapa minggu sebelum pecahnya konflik Gaza (GettyImages)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu pada September 2023, hanya beberapa minggu sebelum pecahnya konflik Gaza (GettyImages)

ANKARA (Lenteratoday) –Turki telah mengambil langkah drastis dengan menangguhkan semua aktivitas perdagangan dengan Israel, menanggapi serangan yang terjadi di Gaza, dengan menyebut situasi di sana sebagai "tragedi kemanusiaan yang semakin memburuk".

Kementerian Perdagangan Turki menjelaskan bahwa keputusan ini akan tetap berlaku hingga Israel memberikan izin untuk "aliran bantuan yang tidak terganggu dan memadai" ke wilayah Gaza.

Perdagangan antara kedua negara, yang mencapai hampir $7 miliar tahun lalu, kini akan berhenti beroperasi.

Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, mengecam Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, menuduhnya bertindak otoriter dengan mengambil langkah ini, dan menambahkan bahwa Erdogan "menelantarkan kepentingan warganya dan pelaku usaha Turki serta mengabaikan kewajiban internasional dalam perdagangan".

Katz menyatakan bahwa dia telah memerintahkan kementeriannya untuk mencari opsi perdagangan alternatif dengan Turki, dengan fokus pada produksi lokal dan impor dari negara lain sebagai respons terhadap penangguhan perdagangan Turki.

Dalam sebuah pernyataan resmi, Turki menegaskan bahwa penangguhan perdagangan ini mencakup "semua produk". Mereka juga menegaskan bahwa langkah ini akan diterapkan secara ketat hingga pemerintah Israel mengizinkan aliran bantuan kemanusiaan yang tidak terganggu dan memadai ke Gaza.

Sementara pada tahun 1949, Turki menjadi negara mayoritas Muslim pertama yang mengakui Israel, hubungan antara kedua negara telah mengalami penurunan signifikan dalam beberapa dekade terakhir.

Pada tahun 2010, Turki memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel setelah 10 aktivis Turki pro-Palestina tewas dalam insiden di sebuah kapal milik Turki yang berusaha mematahkan blokade laut Israel di Jalur Gaza.

Meskipun hubungan antara keduanya telah kembali normal pada tahun 2016, kedua negara mengalami konflik yang meningkat dua tahun setelahnya. Hal ini terjadi ketika mereka saling mengusir diplomat tinggi masing-masing sebagai respons terhadap perselisihan terkait pembunuhan warga Palestina oleh Israel.

Presiden Erdogan semakin keras dalam kritiknya terhadap Israel sejak serangan mematikan Hamas ke Israel pada 7 Oktober tahun lalu.

Pada bulan Januari, dia menyatakan bahwa serangan militer yang dilakukan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai tanggapan atas serangan tersebut "tidak lebih buruk dari apa yang dilakukan oleh Hitler".

Netanyahu merespons dengan mengatakan: "Erdogan, yang melakukan genosida terhadap suku Kurdi, yang memegang rekor dunia dalam memenjarakan jurnalis yang menentang pemerintahannya, adalah orang terakhir yang dapat mengkhotbahkan moralitas kepada kita."

Sebuah penilaian yang didukung oleh PBB mengatakan bulan lalu bahwa 1,1 juta orang menghadapi bencana kelaparan dan kelaparan akan segera terjadi di Gaza utara pada bulan Mei. Israel semakin banyak dikritik atas kondisi di Jalur Gaza.

AS telah mempublikasikan foto-foto yang menunjukkan kapal-kapal logistik dan personil yang sedang merakit dermaga terapung dari ruas-ruas baja, di samping sebuah kapal Angkatan Laut AS.

Pada hari Kamis (2/4/2024), Gedung Putih mengatakan bahwa sebuah dermaga yang dibangun oleh militer AS untuk memfasilitasi aliran bantuan ke wilayah tersebut akan dibuka dalam beberapa hari ke depan.

Namun, PBB mengatakan bahwa jalur laut tidak akan pernah bisa menjadi pengganti pengiriman melalui darat, dan bahwa jalur darat adalah satu-satunya cara untuk membawa sebagian besar pasokan yang dibutuhkan.

Baru-baru ini, sebuah laporan yang didukung oleh PBB mengungkapkan bukti statistik yang menguatkan bahwa situasi kemanusiaan di Gaza telah menjadi krisis kelaparan yang dihasilkan oleh tindakan manusia.

Israel membuka kembali penyeberangan Erez ke jalur Gaza utara untuk konvoi bantuan awal pekan ini, dilakukan di bawah tekanan dari sekutu-sekutu Baratnya serta mengikuti himbauan berulang kali dari organisasi-organisasi bantuan internasional.

Yordania menyampaikan laporan bahwa beberapa truk bantuan mereka telah diserang oleh pemukim Israel sebelum mencapai penyeberangan.

Volker Türk, pejabat hak asasi manusia paling senior di PBB, dalam wawancara dengan BBC menyatakan ada kemungkinan bahwa Israel menggunakan kelaparan sebagai alat perang di Gaza.

Meskipun, Israel membantah adanya pembatasan dalam pengiriman bantuan, dan menyalahkan PBB atas kegagalan dalam mendistribusikannya kepada warga Gaza yang membutuhkan.

Sumber: BBC/Penerjemah: Aria (mk)|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.