
KOLOM (Lenteratoday) -Recep Tayyip Erdogan kembali terpilih sebagai presiden Turki pada putaran kedua pemilu presiden, demikian pimpinan Dewan Pemilu Turki (YSK) pada Minggu waktu setempat.
Ketua YSK Ahmet Yener mengatakan Erdogan unggul atas pesaingnya Kemal Kilicdaroglu pada pemilu presiden Turki putaran kedua.
Berdasarkan hasil suara yang belum disahkan, petahana Turki ini memperoleh 52,14 persen suara, sementara Kilicdaroglu mendapatkan 47,86 persen suara, kata Yener kepada pers di Ankara.
Yener menambahkan sejauh ini sudah 99,43 suara dibuka.
Dalam pidatonya di Istanbul pada Minggu sore, Erdogan mengatakan 85 juta warga Turki adalah pemenang pilpres tahun ini.
Lebih dari 64,1 juta orang terdaftar sebagai pemilih, termasuk sekitar 1,92 juta orang yang berada di luar negeri yang sudah lebih dulu memberikan suaranya. Hampir 192.000 kotak suara dipersiapkan di seantero Turki.
Pada putaran pertama 14 Mei 2023 tidak ada calon presiden yang menembus ambang batas 50 persen suara sehingga pilpres dilanjutkan ke putaran kedua, meski Erdogan mengantongi 49,52 persen suara.
Saham-saham perusahaan Turki melemah setelah mendapatkan kabar yang menunjukkan Erdogan berada tepat di bawah ambang batas 50 persen yang dibutuhkan untuk mencegah pemilihan presiden putaran kedua.
Aliansi Rakyat pimpinan Erdogan, terdiri dari Partai AKP yang berakar Islam dan mitra nasionalisnya, diperkirakan memenangkan suara mayoritas parlemen dengan menguasai 321 dari total 600 kursi. Hal itu akan menaikkan peluang Erdogan memenangkan pilpres putaran kedua.
Dari 99 persen kotak suara yang telah dihitung, Erdogan memimpin dengan 49,4 persen suara, sedangkan Kemal Kilicdaroglu meraih 44,96 persen suara, kata Ketua Dewan Pemilu Turki Ahmet Yener kepada wartawan. Yang memberikan suara pada pemilu kali ini mencapai 88,8 persen.
Calon presiden ketiga, Sinan Ogan dari partai nasionalis, meraih 5,2 persen suara. Menurut para analis, Ogan bisa menjadi penentu pada pilpres putaran kedua. Sebelum pemilu digelar oposisi telah merasakan peluang menggulingkan Erdogan, berdasarkan hasil beberapa jajak pendapat yang mengunggulkan Kilicdaroglu.
Pemilu Turki kali ini adalah ajang pertarungan kaum nasionalis, yang memiliki sifat dan orientasi politik berbeda dari gerakan Islam politik pimpinan Erdogan dan sekularisme yang dimajukan Kilicdaroglu.
Barat mengkhawatirkan kemenangan Erdogan akan mendekatkan Turki kepada Rusia dan menjadikan Turki menjadi duri dalam daging di Eropa yang sudah terasa ketika mereka mempersulit keanggotaan Swedia dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Beberapa negara Timur Tengah juga mengkhawatirkan kemenangan Erdogan bakal membuat Turki semakin agresif dan ekspansif, termasuk Suriah yang mengkhawatirkan kehadiran permanen pasukan Turki di wilayah utaranya.
Kaum nasionalis juga menjadi pihak yang paling keras menentang kehadiran jutaan pengungsi Arab Surih di Turki.
Kemenangan Erdogan bisa mendorong Turki mengambil kebijakan tak menerima pengungsi yang akibatnya menjadi masalah besar bagi Surian dan Timur Tengah pada umumnya.
Memori masjid dijaga polisi
Istanbul, Turki, Sabtu sore (16/2/2019). Hujan baru saja reda. Pelangi muncul di atas langit Kawasan Taksim Square. Sementara cuacanya sangat dingin.

Orang-orang lalu lalang di jalanan mengenakan jaket tebal. Sebagian besar menaruh syal melingkar di leher. Mereka mengambil gadget dari saku untuk mengabadikan pelangi.
Suara trem (kereta listrik) berkali-kali memecah suasana. Masinisnya sangat ramah. Dia tentu saja harus berhati-hati memegang kemudi. Entah mengapa jalan itu dinamakan Istiqlal Street.
Inilah jantung kota Istanbul di sisi Eropa. Suatu wilayah yang paling padat dan sibuk.
Setiap hari, ribuan orang melalui tempat ini untuk hiburan, berwisata maupun berbelanja. Lebih-lebih di hari libur. Banyak orang menghabiskan waktu di tempat ini.
Tak jauh dari bundaran tempat mangkal trem terdapat sebuah masjid. Bagian paling depan dikelilingi barikade kawat. Ada panser dan kendaraan penghalau demo.
Polisi membawa senjata laras panjang. Hilir mudik dengan sorot mata waspada. Di belakang masjid mereka berjaga-jaga.
Saya lihat tur leader bicara kepada salah satu komandan jaga. Minta ijin masuk sebentar untuk wudhu. Rombongan boleh masuk. Alhamdulillah, keinginan saya terkabul.
Petugas jaga dengan bahasa isyarat minta agar kami cepat bergegas. Ya, hanya wudhu atau ke toilet saja. Tidak boleh macam-macam.

Lho, shalatnya? Cari tempat lain. Gak masalah. Sebuah berkah. Yang penting bisa ambil foto. Walau dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Kebetulan sedang terjadi pergantian shift jaga.
Tak jauh ada masjid. Hanya sekitar 25 meter arah timur. Namanya Masjid Husyaini Aga Cami. Ukurannya lebih kecil. Cukup mentereng dan bersih. Ke toilet harus bayar 1Lira. Koin dimasukkan ke dalam mesin elektronik. Otomatis palang pintu menuju toilet terbuka. Akhirnya saya dan kawan-kawan shalat di masjid ini.
Sejak berada di Tanah Air saya mengincar tempat ini. Menjelang akhir perjalanan, saya dekati tur leader travel PT Manaya Indonesia. Saya sampaikan keinginan melihat masjid "bemasalah" itu.
Wilayah Taksim tidak termasuk sasaran wisata. Jemaah Umrah, apalagi yang berkunjung cuma sehari, tak mungkin ke Taksim. Rombongan wisata ke Turki biasanya juga jarang melintas ke sini.
Padahal Taksim ini ruang publik. Taksim, heboh dan seru. Di sepanjang Istiqlal Street Anda bisa jumpai cowok dan cewek berpelukan. Bahkan lebih dari itu....
Kadang kala sepasang kekasih menyanyi di pinggir jalan. Penjual lotere tak mau ketinggalan. Teriak-teriak menjajakan kupon. Samping kanan atau kiri Istiqlal Street terdapat lorong. Tempat pedagang kaki lima berjualan. Harganya terjangkau.
Bentuk Masjid Taksim Square masih setengah jadi. Sejak rencana pembangunannya bergulir, sudah ribut. Selalu menuai protes dan demonstrasi.
Kelompok sekuler memicu aksi dan gejolak. Taksim dan Gezi telah lama menjadi simbol sekuler Republik Turki. Keduanya dikembangkan setelah jatuhnya kekhalifahan Ottoman. Tahun 1983, sebuah pengadilan tinggi menolak rencana pembangunan tersebut.
Bulan Februari 2017, pemerintah Turki mulai kembali meneruskan bangunan masjid tersebut. Pendorongnya siapa lagi kalau bukan Presiden Erdogan. Sejak dia menjabat sebagai Walikota Istanbul tahun 1994 upaya merintis sudah dilakukan. Tetapi Erdogan berhadapan dengan pihak oposisi. Para oposan menolak keras pendirian masjid.
Masjid berada di atas lahan seluas 2.482 meter persegi. Mampu menampung sekitar 1.000 hingga 1500 jemaah untuk sholat . Bertingkat tiga dilengkapi tempat parkir bawah tanah. Ruang bawah tanahnya digunakan ruang parkir berkapasitas 200-an mobil.
Tidak sekadar masjid. Direncanakan menjadi pusat budaya Islam. Sebuah ruang konferensi dan pameran telah disiapkan. Namanya sungguh keren. Taksim Cumhuriyet Camisi atau Masjid Republik Taksim. Ada embel-embel 'Republik'.
Selama 100 tahun, tidak ada masjid dibangun di tempat ini. Jadi, masjid besar merupakan kebutuhan mendesak. Namun kelompok sekuler tak sepakat. Mereka menilai proyek tersebut ambisi semata. Sebagai upaya Erdogan memberi lebih banyak identitas religius.

Alasan lain, di tempat itu ada monumen Mustafa Kemal Ataturk. Pendiri Republik Turki sekuler modern.
Mereka menuduh Erdogan berusaha mencabut "warisan Ataturk". Taksim dan Gezi Park merupakan ruang hijau terbuka di Istanbul. Keduanya dibangun pasca jatuhnya imperium Utsmaniah. Wilayah ini telah lama menjadi simbol sekuler Republik Turki.
Sefik Birkiye sang arsitek, orangnya hebat. Dia menawarkan desain art deco dengan fasad berlapus batu alam warna terang. Ornamen mengaplikasikan garis-garis lurus dan persegi (rectilinear), khas gaya Ottoman.
Para ahli sejarah memandang langkah itu merupakan dasar dari Republik Turki yang modern, demokratis, dan sekuler. Konstitusi yang berlaku saat ini tidak menonjolkan agama apa pun yang dipeluk warga Turki.
Turki berpenduduk mayoritas Muslim Sunni, tetapi diperkirakan seperlima dari 78 juta penduduknya pengikut Alevi, salah satu aliran Syiah, Sufi, dan tradisi Anatolia. Turki juga memiliki 100.000 warga beragama Kristen dan 17.000 Yahudi.
Hasil survei yang digelar lembaga jajak pendapat Pew pada 2013 menunjukkan hanya 12 persen warga Turki menginginkan syariat Islam menjadi landasan hukum negeri itu.
Penulis: Arifin BH, Pemimpin Redaksi Lenteratoday