06 April 2025

Get In Touch

SMPN 4 Pare Bakal Dijadikan Kiblat Museum Serangan Umum 1949 di Kabupaten Kediri

Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana bersilaturahmi dengan veteran Tentara Genie Pelajar saat berkunjung ke SMPN 4 Pare
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana bersilaturahmi dengan veteran Tentara Genie Pelajar saat berkunjung ke SMPN 4 Pare

KEDIRI (Lenteratoday) - Tentara Genie Pelajar (TGP) meminta dilakukan kajian dan penelitian terhadap gedung SMPN 4 Pare, Kediri yang mempunyai nilai sejarah dalam serangan umum 1949. Sekolah tersebut sebelumnya bernama Sekolah Tehnik Pare.

Hal itu disampaikan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana ketika mengunjungi SMPN 4 Pare, Senin (22/5/2023).

Bupati yang akrab disapa Mas Dhito mengungkapkan permintaan itu didasari keinginan menjadikan sekolah tersebut sebagai kiblat Museum Perjuangan.

Untuk diketahui, SMPN 4 Pare dulu adalah markas sekaligus tempat pembuatan logistik pertempuran oleh TGP. TGP sendiri merupakan siswa ST Pare yang ikut dalam perlawanan menghadapi Belanda di Serangan Umum 1949 di Pare.

Setiap 22 Mei diperingati hari Serangan Umum 1949 sebagai pengingat perlawanan terhadap Belanda. Mas Dhito berharap ke depan sekolah tersebut ini mempunyai identitas sebagai sekolah sejarah.

“Kami siap (mendukung) apabila hasil kajian valid dan akurasinya tepat. Maka kami tidak sungkan memberikan support apa yang menjadi kebutuhan teman-teman dari TGP,” kata Mas Dhito, Senin (22/5/23) di sela-sela kunjungan ke SMPN 4 Pare.

Dengan sejarah besar tersebut, Kepala Sekolah SMPN 4 Pare, Nur Subiantoro siap menindaklanjuti instruksi Mas Dhito, Pihaknya berencana mengkaji lebih dalam sejarah yang terjadi sekitar 103 tahun silam itu bersama akademisi sejarah, saksi-saksi yang masih hidup dan komunitas sejarah.

Pihaknya berharap dengan adanya sejarah serangan umum yang tertuang dalam buku Serangan Oemoem 22 Mei 1949 karya Kangko Bambang Prasetyo itu bisa muncul kepermukaan dan menjadi sejarah nasional

“Mudah-mudahan perjuangan rakyat Pare ini akan masuk di sejarah nasional,” katanya.

Mas Dhito menambahkan, jika seluruh kajian sudah dilalui dan tidak terjadi persoalan dengan validasi data, maka tidak menutup kemungkinan peninggalan sejarah tersebut akan dimasukkan dalam muatan lokal di sekolah yang ada di Kabupaten Kediri (*)

Reporter: Gatot Sunarko|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.