RENCANA kenaikan harga pangan dan tarif energi yang menjadi kebutuhan masyarakat sehari-hari bak elegi (KBBI: syair kesedihan/ratapan). Saat berbagai komoditas pangan dunia melonjak tertinggi sepanjang sejarah, kebutuhan pokok di Indonesia harganya juga mengekor. Hal serupa terjadi pada komoditas energi. Gegara menggilanya harga di pasar dunia--minyak mentah hingga gas—kode kuat kembali muncul dari pemerintah yang bersiap melakukan penyesuaian terhadap LPG 3 Kg alias ‘Melon dan bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite yang sebelumnya disubsidi. Sinyal serupa mencuat dari energi listrik, yang potensial mengerek tarif. Dalam hitungan kasar, bila tidak ada kenaikan pada harga pertalite misalnya, Pertamina harus ‘nombok’ Rp 15,1 triliun-16,39 triliun/bulan. Kondisi serupa terjadi di LPG ‘Melon’, setiap menenteng LPG 3 Kg maka sama dengan menguras uang subsidi negara hingga Rp 33.750/tabungnya. Untuk listrik subsidi bisa bengkak Rp 16 triliun, karena terakhir tarif diubah pada tahun 2017. Ekonom paham akan beban berat negara. Namun bila saat ini ngotot ada penyesuaian, ancaman inflasi dan lemahnya daya beli bakal ‘meledak’. Yang miskin, makin miskin! BACA BERITA LENGKAP, DOWNLOAD DI SINI https://cdn.lentera.co/c/newscenter/lenteratoday/2022/04/14042022.pdf
[3d-flip-book id="93155" ][/3d-flip-book]https://cdn.lentera.co/c/newscenter/lenteratoday/2022/04/14042022.pdf">