07 April 2025

Get In Touch

Negara yang Tolak Lockdown di Tengah Wabah Corona

Negara yang Tolak Lockdown di Tengah Wabah Corona

Surabaya - Sejumlah negara telah menerapkan lockdown, baik sebelum maupun di tengah mewabahnya virus. Sebut saja Italia, Malaysia, Inggris, Afrika Selatan, Jerman, Prancis, dan sejumlah negara Eropa lainnya.

Namun, ada juga beberapa negara yang belum mau menetapkan status lockdown, padahal, negara-negara tersebut mengalami lonjakan penderita Covid-19 yang semakin tinggi.

Berikut empat negara yang terang-terangan menolak lockdown:Hinga kini, Korea Selatan menghindari opsi lockdown. Meski begitu, Korsel berhasil menekan jumlah penyebaran corona tanpa lockdown.

1. Korea Selatan

Meski tak memilih lockdown, Korsel mencari cara untuk meminimalkan penyebaran, yakni dengan tes masal 10.000 orang per hari, termasuk di pusat pengujian darurat dan bilik konsultasi yang ditempatkan di sejumlah rumah sakit. Bahkan Korsel juga menerima layanan tes corona via drive thru tanpa turun dari mobil.

Selain itu, Korsel juga menerapkan kebijakan transparansi. Pemerintah membuka seluruh data riwayat perlintasan pasien sehingga para penderita corona bisa terlacak secara rinci.

Seluruh informasi terkait jalur infeksi terdekat akan selalu dikirimkan oleh pemerintah Korea ke seluruh pemilik ponsel di negara itu. Hal ini dilakukan agar warga dapat menghindari area tersebut. Korsel juga menciptakan aplikasi untuk orang-orang yang dikarantina.

Angka penderita corona di Korsel hingga kini dilaporkan sebanyak 9.241 orang. Sebanyak 131 meninggal dan 4.144 orang sembuh.

2. Amerika Serikat

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berkukuh tidak akan menerapkan lockdown secara menyeluruh. Menurut Trump, langkah tersebut berlebihan.

Meski pemerintah pusat AS tidak memberlakukan lockdown, kebijakan ini telah diambil oleh beberapa negara bagian, yakni California dan New York. Bahkan New York disebut sebagai daerah dengan dampak terburut.

Hingga Jumat (27/3), jumlah penderita corona di AS tembus 82.404, melebihi China dan Italia --peringkat pertama penderita terbanyak. Angka kematian tembus 1.000 jiwa. WHO telah memperingatkan AS berpotensi menjadi episentrum baru corona setelah China dan Italia.

3. Pakistan

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan dengan tegas menolak usulan lockdown. Menurutnya, lockdown hanya akan berimbas pada 25 persen populasi Pakistan yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka berpotensi kehilangan penghasilan.

Saat ini, Pakistan memilih untuk menginstruksikan warganya melakukan social distancing. Militer Pakistan dikerahkan untuk mengawasi sudut-sudut jalan. Transportasi publik telah dilarang beroperasi.

Di Pakistan, angka penderita corona dilaporkan telah mencapai 1.178 orang. Sebanyak 9 orang meninggal dan 21 pasien dinyatakan sembuh.

4. Indonesia

Kasus corona di Indonesia memenuhi angka mengkhawatirkan: dilaporkan 893 orang positif, 78 meninggal, 35 sembuh. Jumlah pasien positif dan meninggal terus melonjak.

Meski begitu, belum ada opsi lockdown untuk Indonesia, paling tidak Jakarta. Padahal, Jakarta dilaporkan menjadi lokasi terparah penularan corona dengan 515 kasus.

Jokowi bersikeras menolak opsi lockdown. Dalam rapat terbatas bersama gubernur Selasa (24/3) lalu, Jokowi mengatakan, opsi lockdown untuk Indonesia tak bisa disamakan dengan negara lain.

"Ada yang tanya kepada saya kenapa kebijakan lockdown tidak kita lakukan. Perlu saya sampaikan bahwa setiap negara memiliki karakter berbeda-beda, budaya berbeda, memiliki kedisiplinan berbeda. Oleh sebab itu kita tidak memilih jalan itu," ucap Jokowi dalam ratas online tersebut.

Indonesia mengikuti langkah Korsel yang bisa bertahan dan menekan penularan tanpa harus lockdown, yakni dengan tes massal. Masalahnya, penanganan corona di Indonesia dan Korsel jauh berbeda.

Korsel mengedepankan transparansi, membuka data perlintasan pasien secara detail dan menyeluruh, hal ini tentu jauh berbeda dengan Indonesia, yang secara infrastruktur dan sistem sangat berbeda (har/ins)

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.