05 April 2025

Get In Touch

Mengukur Potensi Jatim Menuju Kebangkitan Ekonomi

I Gede Alfian Septamiarsa, S.Sos, M.I.Kom (Foto.dok)
I Gede Alfian Septamiarsa, S.Sos, M.I.Kom (Foto.dok)

PANDEMI Covid-19 di Jawa Timur hampir masuk tahun ke dua. Wabah yang membawa dampak signifikan pada berbagai bidang. Salah satu yang paling terasa adalah sektor ekonomi. Pandemi mengubah tatanan dan pergerakan strategi bisnis yang sudah disusun atau sedang berjalan.

Wabah Covid-19 mulai masuk Jawa Timur pada Maret 2020. Tak lama kemudian, muncul surat edaran dari Gubernur Jawa Timur yang menyatakan Jawa Timur status darurat. Protokol kesehatan diterapkan, salah satunya membatasi aktivitas masyarakat. Seperti pembelajaran sistem daring dan work from home.

Sejak itulah tatanan sosial masyarakat mengalami perubahan. Utamanya pada lingkup perusahaan. Aktivitas produksi turun karena pembatasan karyawan yang masuk. Daya beli masyarakat juga lemah. Banyak perusahaan merumahkan dan memutushubungan kerja karyawan. Tingkat pengangguran meningkat sehingga pertumbuhan ekonomi Jawa Timur mengalami kontraksi.

Kondisi tersebut mulai membaik jelang triwulan terakhir 2020. Sesuai instruksi Presiden Joko Widodo, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menerapkan konsep gas dan rem. Yakni gas pada upaya pemulihan ekonomi dan rem pada pencegahan penyebaran Covid-19. Hasilnya cukup signifikan. Oktober 2020, daya beli masyarakat mulai pulih. Grafik pergerakan ekonomi menunjukkan kenaikan.

Tak ayal, jika Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun menyerukan slogan Jatim Bangkit. Slogan yang didasarkan atas upaya pemulihan selama triwulan terakhir. Proyeksi ekonomi disusun dengan harapan bisa melakukan lompatan. Semangat bangkit semakin menggelora semester I tahun lalu.

Kondisi berubah ketika varian delta kembali mewabah. Pemerintah pusat menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) pada Juli. Aktivitas masyarakat kembali dibatasi. Produktivitas perusahaan menurun. Pertumbuhan ekonomi kembali melemah.

Kebijakan yang dikontrol pemerintah pusat itu membawa hasil signifikan pada aspek kesehatan. Kasus Covid-19 mulai landai. Pemicunya adalah pembatasan aktivitas serta cakupan vaksinasi yang terus digenjot. Kasus terus melandai. Harapan baru kembali muncul. Salah satunya melalui pencapaian catatan investasi Jawa Timur pada Triwulan III yang mengalami peningkatan.

Hingga akhir 2021, penambahan kasus Covid-19 terus turun. Persentase bed occupancy rate juga turun. Jumlah pasien aktif positif atau yang masih terpapar Covid-19 menyusut. Situasi tersebut semakin menumbuhkan kepercayaan pada pemerintah dan masyarakat bahwa Covid-19 mulai bersahabat dengan imunitas tubuh manusia.

Semangat Jatim Bangkit yang sempat terhambat varian Delta pun berganti. Kini, semangat yang menjadi slogan pada 2022 adalah Optimistis Jatim Bangkit. Optimistis yang diartikan sebuah keyakinan bahwa Jawa Timur bisa kembali seperti semula. Tentu, slogan dibuat dengan mendasarkan banyak potensi dan peluang yang bisa dimanfaatkan.

Berangkat dari beberapa catatan pencapaian tahun 2021 yang merupakan wujud kerja keras dalam menghadapi tantangan di tengah pandemi Covid 19 dan bencana alam yang terjadi sepanjang tahun 2021.

Kondisi pandemi Covid 19 di Jawa Timur terkendali dan melandai, dengan 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur telah memasuki risiko rendah/zona kuning berseiring dengan massifnya vaksinasi. Tak hanya itu, bahkan berdasarkan data dari Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) No. 1 Tahun 2022, Provinsi Jawa Timur memiliki kabupaten/kota terbanyak se-Jawa Bali masuk pada PPKM Level 1 yaitu 18 daerah. Konsistensi penerapan protokol kesehatan serta kolaborasi dan sinergi, mampu meningkatkan confidence masyarakat Jawa Timur dalam beraktivitas.

Selain itu Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis BPS Jatim 3 Januari 2022 menunjukkan adanya peningkatan di sejumlah sektor ekonomi di Jawa Timur. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Desember) 2021 sebesar 2,45 persen.

Meski masih berada di situasi pandemi Covid-19, realisasi pendapatan APBD Jawa Timur 2021 menempati peringkat pertama nasional yakni mencapai 103,97 persen. Dari target pendapatan sebesar Rp32,9 trilyun, sampai dengan 31 Desember 2021 telah terealisasi sebesar Rp34,2 trilyun.

Hal ini patut kita syukuri, karena di tengah pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir kesadaran masyarakat untuk membayar pajak sangat baik. Dengan capaian setahun terakhir tersebut, Jawa Timur optimis mampu percepat pemulihan ekonomi di tengah pandemi Covid-19.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun terus berupaya untuk meningkatkan akses transportasi dalam rangka menambah konektivitas. Ada beberapa pilar yang akan mendasari Optimis Jatim Bangkit.

Diantaranya, pilar pertama, pasar rakyat ini akan dimaksimalkan untuk dilakukan proses transformasi digital. Jadi digitalisasi pada pasar rakyat akan dimaksimalkan. Inilah salah satu pilar membangkitkan potensi kebangkitan ekonomi Jawa Timur.

Dialektika optimistis itu dimiliki semua lini baik pemerintah, pengusaha, dan berbagai elemen strategis. Awal tahun yang baru dijadikan sebagai momentum membangkitkan semangat optimisme utamanya sektor perekonomian.

Terlihat dari tumbuhnya geliat pasar-pasar tradisional, moderen maupun online. Menumbuhkan optimisme diperlukan kolaborasi secara berkelanjutan bersama seluruh stakeholder. Optimistis tersebut juga dilakukan pada potensi-potensi yang dimiliki sebuah daerah. Sehingga slogan Optimis Jatim Bangkit tak sekedar kata-kata, tetapi ada spirit optimisme yang bisa diwujudkan.

Jawa Timur juga menjadi tuan rumah atas proyek yang diinisiasi pemerintah. Yakni program besar yang tertuan pada Pepres nomor 80 tahun 2019. Setidaknya, ada 218 proyek strategis nasional yang berlokasi di Jawa Timur. Nilainya mencapai Rp 292,4 triliun. Namun, wabah Covid-19 menyebabkan sebagian proyek tersebut mengalami re-scheduling.

Tapi, proyek pada Perpres tersebut akan tetap menjadi agenda yang harus diwujudkan. Artinya, Jawa Timur memiliki peluang besar untuk mendulang berbagai kesempatan pada implementasi proyek Perpres tersebut. Seperti kawasan industri pada beberapa titik, akses infrastruktur yang menyambungkan barat ke timur, utara ke selatan, pengembangan kawasan ekonomi khusus di wilayah Malang, serta banyak proyek lain yang cukup menjanjikan.

Jatim akan menjadi HUB-nya Indonesia wilayah timur. Potensi pada berbagai bidang akan bermunculan. Itulah yang menjadi pendorong majunya pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur.

Selain itu, letak geografis yang berdekatan dengan wilayah Ibukota Baru juga membawa angin segar bagi Jawa Timur. Sangat mungkin, Jawa Timur menjadi provinsi penopang Ibu Kota Negara pada masa mendatang. Perputaran roda ekonomi yang selama ini berada di Jakarta bisa bergeser ke Jawa Timur.

Akses infrastruktur yang mulai dibangun merupakan modal untuk menyambut pergeseran itu. Jawa Timur bisa menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi paling tinggi di Indonesia. Peluang itu bukan hanya sekadar mimpi. Semua bisa menjadi kenyataan asal masyarakat, pemerintah, serta berbagai lembaga berkolaborasi dan bersinergi menyemput peluang tersebut.(*)

Penulis : I Gede Alfian Septamiarsa, S.Sos, M.I.Kom

Jabatan : Kepala Sub Bagian Komunikasi Pimpinan Biro Administrasi Pimpinan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera.co.
Lentera.co.